Arsip

Keluhan untuk PLN

Keluhan ditujukan untuk call center 123 milik PLN atau yang bersangkutan.

20140919_123935

Satu hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Sebtember 2014. Rumah saya mengalami gangguan listrik pada waktu dini hari. Saklar on/off meteran listrik berulang kali kembali ke posisi off meskipun daya yang dipakai saat itu hanya sedikit(kayanya lho ya…), 1 unit AC 1/2 pk,  1 unit coolcase dan 1pc lampu ph*lips 5watt.

Awalnya karena khawatir korslet. Saya mencoba memutus satu persatu aliran listrik dari ketiganya. Ternyata, saklar on/off tetap saja kembali ke posisi off. Karena kesal saya biarkan saja mati sampai pagi.

Pagi harinya, dicoba lagi dinyalakan saklar meteran. Dan lagi-lagi off di menit kesekian. Menurut info kakak saya, kemungkinan ini masalah pada saklar on/off meteran listrik yang letaknya di luar rumah dan menjadi tanggung jawab pihak PLN. Saklar on/off ini yang belakangan saya tau namanya MCB(miniature circuit breaker).

Selesai masak dan menyiapkan keperluan anak dan suami di pagi hari. Saya langsung menuju kantor PLN terdekat. Dan membuat laporan gangguan listrik.

Satu jam sesudahnya, dua petugas lapangan dari  PLN datang untuk memperbaiki. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui bahwa MCB rusak dan disarankan untuk mengganti MCB yang bisa dibeli di toko bangunan.

Terpasanglah MCB yang sifatnya sementara ini ke meteran listrik. Fyi, disebut sementara karena akan diganti MCB resmi oleh pihak PLN dikemudian hari(kurang lebih 1 minggu berikutnya). Sambil menunggu penyetelan yang entah saya tak tahu seperti apa, petugas lainnya membuat surat berita acara penggantian MCB sementara, setelah saya tanda tangani dan diserahkan kepada saya. Beberapa menit kemudian, listrikpun belum juga menyala. Setelah menelpon ke sana ke mari, petugas dari PLN pun menyatakan penggantian ini tidak berhasil dan meteran bermasalah. Sehingga saya diminta untuk datang kembali ke kantor PLN.

Tiba di kantor PLN, saya mendapatkan penjelasan kalau meteran di rumah saya adalah meteran terbang dan ada ketidak sesuai antara alamat pemilik dengan alamat tempat meteran terpasang. Jadi perbaikan tidak bisa dilanjutkan karena meteran di rumah saya bukan dari area kantor PLN tersebut. Dan saya akan dilaporkan ke P2TL yang mengakibatkan pencabutan meteran listrik di rumah saya.

Jadi, saya datang ke kantor PLN ini seperti terdakwa yang ga tau apa-apa dan diinterogasi banyak pertanyaan. Hallo mbak staff bagian gangguan, saya ini pelanggan PLN yang sedang mengadukan gangguan listrik lho, lha kok malah kena masalah. Maaf ya saya ga terima, saya ini datang ke PLN agar listrik saya kembali menyala, bukan untuk diadukan dan kena masalah. Saya katakan, saya ga tau menau soal pemasangan meteran itu, dan itu meteran sudah terpasang saat saya masuk rumah itu pertama kali. Rumah itu saya beli baru dan tangan pertama, bahkan sudah saya beli saat baru pasang pondasi. Jadi yang bertanggung jawab urusan pemasangan listrik ya developer.

It’s okay. Saya pun menghubungi developer, katanya, dia pasang listrik ini minta tolong orang lain untuk mengurus ke PLN. Karena tidak diurus sendiri, dan belakangan saya tau bermasalah, jadi saya menyebutnya Calo. Jadilah saya protes ke developer, saya katakan saya akan menuntut karena saya dirugikan, jadi sebaiknya segera bereskan masalah ini. Dia bilang akan mengurusnya setelah pulang dari luar kota, artinya saya tidak ada kepastian listrik saya menyala sampai urusan developer dan calo selesai, dan tak tau kapan. Meskipun saya ga yakin urusannya bakal beres, karena calo yang dimaksud ini ternyata orangnya licik dan tindakannya kotor.

Masih di kantor PLN bagian gangguan. Staff yang sedari tadi melayani saya mengatakan ada dua opsi untuk solusi saya. Pertama, pasang listrik baru dan memulai dari awal. Opsi kedua, dilaporkan ke P2TL untuk ditertibkan dan dicabut meterannya, yang berarti padam sampai saya pasang baru. Saya katakan pada mbak staff, itu namanya cuma satu opsi mbak, yang intinya saya tetap harus pasang baru kan. Ini rasa-rasanya seperti sebuah ancaman halus untuk orang yang sedang dalam posisi terjepit.

Sudah tengah hari, saya dengan terpaksa menyetujui pemasangan listrik baru. Karena pihak PLN tidak mau melanjutkan perbaikan disebabkan meteran itu bukan dari kantor areanya, sedangkan wilayah saya masih masuk kantor areanya. Setelah menyetujui akan membuat pernyataan pemasangan baru, saya diarahkan ke ruangan customer service dan akan dilayani olehnya. Tiba di ruangan yang dimaksud, tak ada satupun staff bagian costumer service dan mbak staff yang tadi tidak juga muncul, malah sekuriti yang datang menemui saya dan menanyakan banyak hal. Karena kesal, saya katakan pada srkuriti itu, bahwa saya sudah kesal dengan pelayanan bagian gangguan, saya sudah menjelaskan banyak hal di sana, dan saya capek menjelaskan berulang-ulang tiap kali bertemu orang baru di PLN yang sama. Secara saya sudah menjelaskan ke orang yang ke sekian. Setelah menunggu 10 menit, mbak staff tidak muncul juga, dan sekuriti hanya meminta saya menunggu, akhirnya saya putuskan untuk pulang terlebih dahulu. Saya kesal sekali dengan mbak staff itu, saya juga punya banyak kegiatan lain dan tidak mungkin hanya untuk menunggu dia muncul. Saya katakan pada sekuriti, saya akan datang lagi nanti, sekalian membawa kelengkapan untuk pendaftaran.

Berbekal brosur dari kantor PLN, saya dapatkan call center PLN 123. Segera saya hubungi 123 untuk menanyakan pasang listrik baru. Karena mbaknya call center kelewat ramah dan banyak sekali pertanyaan, akhirnya malah jadi melebar ke pengaduan gangguan listrik. Dan setelah sekitar setengah jam, saya dijanjikan 1×45 menit untuk aduan pemadaman dan 1x24jam untuk pelaporan. Dan pesan dari call center PLN ini, saya tidak boleh datang ke kantor PLN langsung dan harus menghubungi call center saja. Dan sayapun tidak diperkenankan pasang baru terlebih dahulu karena masih ada mesin meteran lama yang masih terpasang. Jadi menurut mbak call center, lebih baik menunggu petugas dari kantor area meteran listrik di rumah saya.

Setelah lebih dari 3×45 menit, petugas PLN tak datang juga. Ditengah kekhawatiran saya, akhirnya saya menghubungi kembali teknisi yang tadi pagi, seperti yang ia janjikan, jika petugas yang dimaksudkan oleh call center tak datang agar segera menghubunginya. Dan iapun tak jadi membantu karena takut kena masalah karena mengerjakan meteran bermasalah. It’s okay, saya tidak akan mempersulitnya.

Saya mencoba menghubungi 123 kembali. Mas operator bilang masih di konfirmasi kembali dan meminta saya menunggu 1×45 menit lagi. Asli membuat kesal karena membuat saya menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa dan semakin membuat saya deg-deg an, secara sudah hampir petang. Sebelum menutup telepon, saya harus memastikan bahwa 1×45 menit kali ini tidak sia-sia.

Ditengah menunggu kedatangan petugas rujukan call center PLN, saya berulangkali dihubungi pihak kantor PLN area rumah saya berada dan merupakan tempat saya pertama melaporkan aduan gangguan, mereka meminta saya segera membuat  pernyataan pasang baru sebelum dilaporkan ke P2TL. Rasa-rasanya seperti ancaman dan pemaksaan. Akhirnya suami menanyakan kembali ke call center dan mengatakan perihal permintaan PLN setempat. Call center PLN menyarankan agar tidak menghiraukan permintaan dari PLN setempat. Sedangkan PLN setempat masih saja menghubungi saya agar segera membuat aplikasi permohonan pasang baru dan malah menegur saya karena telah menghubungi call center 123. Hadeuh, ini sesama PLN ga kompak, SOP nya kok beda. Kalo begini saya musti nunggu listrik nyala dengan sendirinya??? MasyaAlloh ruwet bener. Akhirnya saya mengomel juga ke mbak staff kantor PLN setempat, sudah membuat orang lain menunggu lama, tidak memberi kabar, mengancam dan memaksa, eh masih seenaknya mengatakan siapa yang suruh telp 123. Memangnya, mbak staff ini orang mana sih, apa bukan orang PLN juga, 123 juga call center PLN. Kalo sesama orang PLN aja beda pendapat, ga usah melibatkan pelanggan dong supaya tidak membuat urusan pelanggan semakin rumit.

Hampir 45 menit berlalu, saya mencoba mencari kontak kantor PLN pemilik meteran ini dan saya pun menghubunginya. Setelah tersambung, sayapun menanyakan perihal konfirmasi aduan dari 123 atas nama saya, dan tahukah anda jawaban apa yang saya dapat? Bahwa memang banyak yang melapor seperti saya, tapi tidak bisa menindaklanjuti. Ya iyalah banyak, secara saya saja sudah 2x menghubungi 123 dan suamipun begitu. Mereka beralasan kalau rumah saya bukan wilayah area tugasnya dan mengapa meteran itu bisa sampai di rumah saya. Halo pak, kalau tau dari tadi kenapa tidak menghubungi saya dan menyampaikan jika memang tidak bisa memperbaikinya. Lalu apa gunanya saya dimintai nomer hp dan telp rumah kalau tidak ada konfirmasi? Jadi saya hampir 5×45 menit ini menunggu harapan kosong. Ya sudahlah sebentar lagi maghrib dan saya harus ambil keputusan.

Setibanya di kantor PLN saya kembali bertemu sekuriti yang tadi siang, dan saya sampaikan kalau saya harus bertemu atasan bagian gangguan. Baik, saya putuskan akan mendaftar pasang baru, tapi saya minta hari ini listrik nyala dahulu tidak perduli gimana caranya. Karena saya tidak mungkin menunggu listrik menyala sampai sebulan kemudian setelah mendaftar kan. Jadi saya mengikuti aja pasang listrik sementara dengan biaya kwh los(langsung) yang lumayan mahal, sekitar 150.000/hari. Tapi saya tidak setuju karena saya tidak pada pemakaian kwh yang sedemikian banyaknya, saya bersikeras pada kwh pemakaian rata-rata. Akhirnya disetujui, alhamdulillah malam itu menyala juga.

Dan hari ini, saya dapat telp dari kantor PLN pemilik meteran KWH rumah saya, yang mengatakan mau mengambil meteran yang dimaksud. Sedangkan meteran itu sudah diambil oleh kantor PLN tempat saya mendaftar pasang baru. Dan sungguh kasian karena harus mendengarkan saya mengomel atas keluhan saya terhadap PLN dan staff nya yang tidak memperhatikan laporan aduan saya yang berulangkali.

Iklan

Ayo Sekolah

Memiliki anak yang baru saja masuk sekolah ternyata tak semudah yang kupikirkan. Dalam pikiranku, hanya mengantar jemput anak sekolah, menemaninya belajar/mengulang kembali apa yang telah diajarkan di sekolah sebagai pemantapan, dan satu lagi, berkurang satu orang yang “membantuku” mengacak-acak lemari es dan lemari makan ketika aku memasak di dapur.

Apa yang kulewati ternyata tak sepenuhnya mudah seperti dalam pikiranku.

Sejak awal, Abi dan umi sepakat untuk menyekolahkan Fathan di sekolah Islam Terpadu dengan tujuan membekali Fathan dasar-dasar keIslaman yang kuat, serta memantapkan dan mengembangkan pendidikan yang telah kami ajarkan di rumah. Untuk itu, aku mencoba mengumpulkan informasi beberapa sekolah Islam Terpadu sebelum kami memutuskan ke mana kami harus menitipkan Fathan untuk belajar dan bersosialisasi di sana nantinya. Mulai dengan mengumpulkan informasi masing-masing sekolah yang menjadi , juga menggali pengetahuan dari pengalaman orang-orang dekat dan kenalan yang telah menyekolahkan anak-anak mereka di beberapa sekolah yang menjadi pilihan kami.

Tiap anak itu berbeda, sehingga tidak bisa menganggap semua anak itu sama. Ada anak yang pendiam dan penurut, ada pula anak yang aktif namun penurut, ada anak yang pendiam namun semaunya dan ada pula yang aktif dan semaunya. Perbedaan karakter inilah yang membuat penanganan pada tiap anak menjadi berbeda pula. Fathan termasuk tipe anak yang aktif, namun pada tempat yang baru ia bisa sangat pendiam bahkan pemalu dan tidak pede. Dan kembali menjadi sangat aktif ketika ia sudah merasa nyaman berada di sana. Untuk itulah Fathan butuh sekolah yang tepat sebagai tempat ia belajar segala hal yang baru dan bersosialisasi dengan teman-temannya nanti.

Dari banyak informasi yang diperoleh dan diskusi bertiga, kami sampai pada satu pilihan sekolah. Dan untuk memastikan kesediaan Fathan sekolah di sana, kami mengajaknya untuk melihat sekolah tersebut sebelum akhirnya mendaftar dengan keinginan Fathan sendiri.

Masuk sekolah tiba.
Setelah melalui wawancara dan tes ini itu(kayak masuk kerja aja ya…), juga menyelesaikan segala keperluan administrasi dan menerima seragam. Tibalah saatnya Fathan sekolah.

**Perlu diketahui, tes dan wawancara ini dilakukan untuk melihat kemampuan anak dan bagaimana keinginan orang tua atas anaknya selama ia belajar di sekolah nantinya. Juga untuk memberi rekomendasi kepada orang tua dari pihak sekolah agar orang tua bisa memahami keinginan dan kemampuan anaknya. ** like it^_^

Pekan Pertama Sekolah
Hari yang sangat mendebarkan pun tiba, hari pertama sekolah. Fathan berangkat dengan senang hati ke sekolah dengan diantar abi dan dedek azizah, tanpa umi, karena umi harus kerja(bahasa Fathan kalau uminya mau cari dagangan). Menurut cerita abi. Saat tiba di sekolah, teman-teman Fathan sudah berbaris, dan Fathan hanya menangis karena terkejut, ternyata temannya banyak sekali. Ia tak mau baris dan terus menggandeng abi, bahkan saat di kelas, ia tak mau lepas dari sandaran abi, masih dengan menangis. Dan Fathan satu-satunya anak yang ditungguin di dalam kelas, spesial banget kan?

Hari pertama sekolah, masuk jam 8 dan pulang jam 10. Bersyukur pihak sekolah mengijinkan orangtua menunggu anaknya meskipun hanya di hari pertama sekolah bagi anak yang baru masuk. Jadi selama dua jam berada di sekolah, Fathan tak berhenti menangis dan tak lepas dari pelukan abi. Sedang Azizah, sudah sibuk sendiri mengikuti pelajaran menyanyi di kelas mas-nya. ***salutttt buat abi, atas kesabarannya*** hihi, meskipun selama dua jam hp ku terus saja di telepon abi yang bingung akan tangisan Fathan dan bagaimana cara mendiamkannya. Tapi, asli salut banget buat abi.

Karena khawatir, umi tidak jadi kerja, dan pulang untuk menenangkan Fathan. Fathan tidak mau sekolah lagi.

Hari kedua sekolah, bangun pagi dan sholat subuh ia langsung duduk di depan tv menonton film kartun, tak mau mandi dan pakai seragam sekolah. Aku rayu dengan sarapan dulu sambil bercerita betapa enaknya sekolah itu. Usai makan ia setuju mandi tapi tidak mau sekolah. Aku terus saja merayunya sampai benar-benar setuju mandi dan pakai seragam sekolah dengan catatan berangkatnya setelah film anak selesai. Waaa… Bisa telat, sekolah masuk jam 8, perjalanan 15 menit, sedang film kartun  selesai jam 8.30. Aku tidak mengiyakan, aku sibuk mencari cara untuk sedikit memaksa Fathan agar tidak terus menonton, sambil kukatakan bahwa berangkatnya saat ganti iklan dan ia setuju. Tapi sampai kartun dan iklan ganti 2 kali, ia masih tak mau beranjak dari depan televisi. Akhirnya, aku memutuskan aliran listrik dari saklar meteran listrik agar ia tidak tahu kalau televisinya mati karena aku(hihi jahatnya). Dan iapun beranjak dari depan televisi untuk berangkat ke sekolah.

Aku mengantarnya ke sekolah dengan motor. Sampai di gerbang, ia hanya menangis, ia bilang kalau tidak mau sekolah dengan alasan, takut tidak kebagian mainan, takut pintunya dikunci, takut ditinggal umi, dsb. Yang pada dasarnya ia takut dan belum pede. Sambil menunggunya, aku terus meyakinkan bahwa ia bisa melewati semuanya dan tidak perlu menangis. Perlahan-lahan ia berhenti menangis dan mulai sedikit-sedikit ikut menyanyi masih sambil terus bersandaran hingga waktu pulang. Hari ke tiga, aku dipersilahkan menunggu di luar pagar yang dikunci. Esoknya, Fathan tak bersedia sekolah, kebetulan libur awal puasa ramadhan. Jadi, lumayan lega. Tapi harus mencari cara supaya, senin nanti Fathan tetap mau berangkat sekolah.

Karena puasa, waktu sekolah Fathan masih sampai jam 10. Fathan tetap tak mau berangkat sekolah, jadi dirayulah oleh umi. Dia selalu meminta syarat ketika ia setuju berangkat sekolah, entah membeli mainan, kue atau juga meminta umi menunggu di dalam kelas. Agar mau berangkat dulu umi mengiyakan untuk membeli satu macam mainan saja sepulang sekolah, dengan mengingatkan padanya bahwa umi tidak bisa selalu membelikannya mainan setiap pulang sekolah. Esoknya ia meminta mainan lagi, lalu aku bilang yang seribuan di abang-abang lewat boleh dan ia mau. Bukan harga yang jadi pertimbanganku, tapi jika ia sering meminta mainan agar mau sekolah maka akan jadi kebiasaan.

Esoknya lagi, ia kembali melakukan hal yang sama, minta mainan. Lalu kukatakan padanya, daripada untuk membeli mainan lebih baik membeli makanan, karena mainan yang kemaren dia beli di abang-abang fundogh, terbengkalai karena dia gak bisa memainkannya. Xixi jadi punya alasan gak beli mainan lagi…. Jadi, beli lah kue sepulang sekolah.

Meskipun Fathan mau sekolah, ia tetap saja menangis ketika diminta melakukan sesuatu tapi ia merasa tidak bisa. Hal inilah yang kupakai alasan untuk menghentikan kebiasaanya membeli sesuatu sebagai syarat ia mau sekolah. Ia bisa membeli kue jika ia sudah tak menangis lagi di sekolah. Karena sampai dua pekan ia masih saja  menangis, sampai kebiasaan meminta sesuatu itu hilang dan ia tetap mau sekolah hingga hampir tiga bulan ini.

Satu hal lagi yang jadi kekhawatiran Fathan adalah, ia takut ditinggal umi karena pintu sekolah dikunci. Pihak sekolah memang punya aturan bahwa tidak ada orang tua yang menunggu di dalam lingkungan sekolah selama waktu belajar, untuk melatih kemandirian anak. Jadi, selama waktu belajar semua menjadi tanggung jawab guru. Tentu ini adalah kemudahan buat orangtua terutama ibu-ibu yang ingin menyelesaikan pekerjaan rumah selama anak-anak sekolah. Namun bukan hal yang mudah membujuk Fathan agar mau ditinggal selama ia berada di sekolah. Di hari ke empat Fathan masih tetap dipaksa agar mau masuk tanpa umi dengan catatan umi tunggu di warung sebelah sekolah. Begitu seterusnya hingga beberapa hari sampai akhirnya ia masuk ke sekolahan tanpa dipaksa dengan mengatakan umi di warung ya. Perlahan-lahan memberi pengertian padanya, bahwa umi harus pulang setelah mengantarnya ke sekolah, untuk masak dan beresin rumah. Tidak langsung mau, tapi lama kelamaan iapun mengerti. Syukur Alhamdulillah.

Menjadi seorang ibu atau guru harus pandai-pandai mencari cara mengarahkan anak/anak didik tanpa harus berbohong dan bersikap keras.

Dan kini, Fathan sudah dengan senang hati melewati jadual paginya sebelum berangkat sekolah. Bangun pagi, sholat subuh, mandi, pakai seragam dan sarapan. Setelah diantar ke sekolah, umi pun bisa langsung pulang untuk membereskan pekerjaan rumah dan kembali lagi nanti untuk menjemputnya pulang pada jam 11.30 siang.

Saat perjalanan pulang, ia sudah bercerita banyak hal yang terjadi selama di sekolah. Mengajari umi menyanyi dan banyak hal…. Xixi…giliran dia yang ngajarin umi, nyanyi, ngasi bintang di gambaran umi(ini mah kebalik ya…xixi).
Bersambung.
*_+ …. ^_^

Miladku

Assalamu’alaikum, temans… .

Apa kabar kalian hari ini? Semoga senantiasa diberikan keberkahan dalam hidup, sehingga hari-hari yang telah, sedang dan akan kita lalui menjadi waktu yang penuh manfaat. Amiin.

Seperti saat ini, ketika kesempatan ngeblog datang, langsung buka wp for android dan mulai mengetikkan kata per kata hingga terangkai menjadi kalimat-kalimat dalam paragraf tulisanku ini.

Milad yang ke sekian kalinya, masih seperti hari-hari biasanya, nothing special. Kecuali, kebanjiran ucapan selamat ulang tahun atau milad dari keluarga maupun teman semua baik melalui sms, pesan dinding fb, whatsapp ataupun secara langsung. Atas doa yang temans pintakan untukku dan keluargaku, aku ucapkan terima kasih, semoga doa itu juga berlaku dan kembali bagi yang telah mendoakan. Amiin. Juga yang telah meluangkan waktunya menulis pesan singkatnya untukku di hari ini, terima kasih banyak yaaa…

Sungguh doa yang diberikan untukku dan keluarga adalah kado terindah di hari ini. Terima kasih.

Tak hanya sekedar usia yang bertambah, tapi jatah usiaku juga berkurang. jadi, bertambah lebih baik, itu harus. Seperti doa teman-teman, akupun punya pengharapan di ke sekian kalinya aku menjumpai miladku hari ini. Sekalipun tak ada kue tart dihias lilin, maupun kejutan dan setumpuk kado, tapi hari ini sangat istimewa dengan hadirnya berbagai doa dari semua teman dan keluarga yang semoga diaminkan oleh para Malaikat, amiin. Sehingga doa dari keluarga dan teman semua menjadi kenyataan. Amiin.

Doa dan harapanku di tahun ini:
1. Menjadi pribadi yang semakin bermanfaat untuk agama dan lingkungan. Dan dapat mendidik anak-anak sehingga menjadi pribadi yang menakjubkan karena kesalihannya,
2. Bertambah sholihah, baik sebagai anak buat orang tuaku dan orang tua suamiku, sebagai istri untuk suamiku juga ibu untuk anak-anakku,
3. Bertambah sakinah, mawaddah dan rahmah dalam rumah tangga kecilku, juga keluarga besar kami,
4. Bisa berangkat haji bersama keluarga kurang dari 10 tahun ini.
5. Bisa berangkat umrah kurang dari 5 tahun ini,
6. Diberkahi Alloh selalu dalam seluruh hari-hariku dan keluarga,
7. Diberkahi dalam setiap hal baik yang kami usahakan,
8. Dimudahkan dan diringankan dalam setiap urusan yang kami lalui,
Dan banyak lagi doa yang kupanjatkan pada Alloh yang tak bisa kusebutkan satu persatu di sini, (hanya Alloh dan aku yang tahu) karena butuh berhari-hari untuk menuliskan semua doadan pengharapanku pada Alloh. Hihi, saking banyaknya… .

Tanpa mengurangi rasa syukur kepada Alloh atas segala rizki yang sudah diberikan, doa ini kupanjatkan hanya kepada Alloh sebagai satu-satunya tempatku bergantung dan menyandarkan segala pengharapanku.

Liburan Sederhana Kami

image

Beberapa pekan lalu adalah jadualnya liburan bagi anak sekolah yang juga bertepatan dengan beberapa hari libur nasional. Libur panjang seperti saat ini pasti ditunggu-tunggu kehadirannya oleh seluruh orang tua dan anak-anak yang sekolah. Pasalnya, libur panjang berarti liburan. Dan bagiku yang anaknya belum sekolah apakah ikut merasakan pentingnya hari libur? Oh tentu iya. Aku pikir semua juga perlu liburan, istirahat, bersenang-senang, untuk menyegarkan kembali semangat dan pikiran yang mungkin penat, jenuh, capek setelah sekian waktu disibukkan dengan berbagai aktivitas rutin harian.

Liburan lalu, aku berencana mengajak anak-anak pulang kampung atas ajakan salah seorang kakakku. Namun sepertinya belum diijinkan Alloh untuk pulang kampung, beberapa pesanan seragam batik yang masih belum selesai diurus dan beberapa yang lain akan selesai di proses dan diambil di akhir Desember. Yang artinya aku tidak bisa melanjutkan rencana untuk pulang kampung, dan kupikir juga tak begitu bijak meninggalkan suami yang sedang sibuk tugas akhir tahun juga harus lembur sampai dini hari dan masih berlanjut sabtu minggu hingga tiba hari senin bekerja kembali seperti biasanya. Sudah seharusnya aku dan anak-anak memberikan support untuknya, meskipun kami juga ingin libur, dan kurasa suamiku juga merasakan kepenatan yang luar biasa setiap menghadapi akhir tahun. Libur tetaplah libur dan tugas akhir tahun tetap juga harus diselesaikan.

Aku memberi pengertian kepada anak-anak,terlebih Fathan yang sudah mengerti arti jalan-jalan di saat abi libur. Tiba kesempatan libur nasional, tak ada halangan untuk jalan-jalan dan lemburan suami sedikit longgar. Rencana mau belanja baju anak-anak yang sudah kekecilan, pinginnya di deket rumah saja agar abi cepat istirahat lagi. Tapi telepon dari kantor abi, meminta abi untuk datang ke kantor membantu temannya yang lemburannya belum usai. Yaa sudahlah, demi memenuhi janji kepada anak-anak dan abi yang minta ditemani lembur, jadilah kami jalan-jalannya ke kantor abi saja. Alhamdulillah, abi semangat ditungguin anak isteri, anak-anak juga senang bisa main sama umi sambil sesekali “mengganggu” kerja abi. Sorenya abi ijin sebentar mengantarkan kami ke pasar dekat kantor berbelanja baju anak-anak. Alhamdulillah semua senang dan waktunya pulang, tinggal tidur saja.

Akhir pekannya, suami dan aku datang ke hajatan keluarga di Ciledug, dan untuk mengenalkan anak-anak pada keluarga jauh yang belum pernah bertemu agar tali silaturrahim tetap terjaga. Puas kangen-kangenan sambil makan-makan, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Putri, Bogor yang sejatinya lebih dekat dari rumah tinggal kami.

image

Di gunung Putri adalah tempat tinggal sahabatku sejak SMP. Ini kali keduanya kami bertemu setelah aku lulus SMU, dan ini pertama kalinya aku ke rumahnya. Kangen sekali rasanya, meskipun hampir setiap hari kami saling menelepon. Fathan dan Azizah senang sekali mendapat keluarga dan teman baru, asik sekali mereka bermain sampai-sampai tak mau diajak pulang.

Itulah cerita liburan kami kali ini.Liburan yang sederhana tapi sungguh sangat berkesan bagi aku, abi dan anak-anak. Rasanya lebih semangat dan fresh kembali,semoga berkah. amiin.

Karya ini saya tulis dalam rangka turut meramaikan hajatan Liburan Seru:
Say No to Mall
!

Posted from WordPress for Android

Baca lebih lanjut

Kesulitan Komen di Blogspot

Maaf ya teman kalo saya jarang atau hampir gak pernah komen di blogspot… paling mentok cuma bisa baca postingannya doang dan gak ninggalin jejak di  postingan kawan blogspot. Masih belum tau kenapa saya tidak bisa komen di blogspot via hp ini, tiap hbs isi kolom komen yang otomatis refresh setiap kita selesai nulis id atau komen itu selalu kembali ke halaman awal sebelum saya menuliskan komen… jadi kalau sudah tiga kali gak berhasil, sudah langsung cabut deh tanpa ba bi bu lagi. capek sudah tulis komrn dan alamat malah selalu hilang. Ada yang bisa ngasi saya solusi?? terima kasih.

Dhila13 Photo Challenge: Inspirasi

image

Dua anakku yang bagiku adalah anugerah yang tak ternilai harganya. Merekalah yang selalu menjadi penyemangatku ketika aku lemah, menjadi penghiburku kala aku sedang sedih. Karena mereka aku menjadi tahu banyak hal baru dan belajar menjadi ibu yang baik untuk mereka. Begitupun setiap kali kupandangi foto polos mereka, ada haru yang selalu menelusup dalam ruang hatiku.
Seorang ibu yang sederhana yang ingin menjadi ibu luar biasa.

Tulisan ini disertakan pada Bukan Kontes Biasa: TASBIH 1433H di Blog Dhila13

Blog Baru

Saya ingin meperkenalkan blog saya yang baru yang isinya khusus resep yang sudah saya praktekkan. Adalah http://resepmauna.wordpress.com alamat blog yang saya fungsikan untuk belajar saya dan semoga berguna buat teman-teman yang baru belajar masak seperti saya. Dikarenakan saya lemah ingatan dalam hal kombinasi bumbu aneka masakan, untuk itulah blog resepmauna dibuat. Agar lebih memudahkan saya untuk mengingat kembali apa saja bumbu masakan yang mungkin sudah lama tidak saya masak. Sebenarnya bisa saja sih saya menulisnya di handbook untuk semua resep masakan yang sudah saya buat hanya saja saya lebih khawatir cepat rusak bukunya kalo sering di bolak-balik. Sedangkan dengan menuliskannya di blog aku bisa menjadikannya lebih bermanfaat dan lebih mudah kan. Bagaimana tidak? Jika setiap aku membutuhkannya aku tinggal buka blog resepmauna saja, teman-teman juga bisa memakainya. Jika setiap ilmu yang kudapat bisa kubagi dan bermanfaat untuk orang lain berarti aku mendapat amalan yang tak terputus. Dengan menuliskannya ke dalam blog, saya tidak perlu khawatir catatan saya rusak karena sering di bolak-balik berkasnya. Jadi, tak ada alasan lagi untuk tidak membaginya dengan teman-teman. Terima kasih.

Catt.
Tulisan resep masakan saya mungkin tidak seprofesional temen-temen blogger yang lain, namanya juga belajar. Jadi diharapkan masukan dari temen-temen. (#colek teh nchie, ajarin ya…)