Arsip

Terapi “Panik” dengan Berenang

Dahulu, dalam tulisanku ini yang isi sebenarnya adalah keluhan atas “penyakit” panik manakala menjumpai suatu kondisi/hal yang tidak sesuai (bisa berarti banyak hal, sedih, takut, khawatir) yang sebenarnya lumrah ga lumrah. Namun kadang bisa menjadi sangat mengganggu ketika reaksi paniknya berlebihan, tidak hanya pada penderita saja, tapi juga orang disekitarnya yang jadi ikut-ikutan khawatir/panik.

Dalam setahun terakhir ini, aku yang baru belajar berenang (selama ini bisa berenang asal pakai ban besar.. hehe), belajarnya pun autodidak, kadang juga diajarin oleh suami juga teman saat berenang bersamaan.

Tanpa pelatih profesional, bukan hal mudah mengajarkan berenang pada orang yang punya tingkat kepanikan yang tinggi, dalam hal ini adalah aku. Bagaimana ia harus bisa meyakinkan aku supaya berani mengalahkan rasa panikku ketika aku melepaskan tangan dan berenang sendiri. Membayangkan bahwa aku harus berenang di air tanpa pegangan, dan jika saja jatuh, aku bisa saja tidak sempat menjejakkan kaki ke lantai dasar kolam renang sebelum aku selesai mengambil nafas berikutnya. Dan ini adalah rasa panik luar biasa takut tidak bisa bernafas.

Dan itu sangat sulit buatku meyakinkan diri sendiri, kalau aku bisa berenang tanpa rasa panik. Beberapa kali latihan tidak ada peningkatan, sampai akhirnya suami bilang kalau aku tidak akan bisa berenang jika tetap mengandalkan pegangan. Dan aku pun berusaha memberanikan diri dan mengalahkan rasa takut, khawatir dan panik untuk memulai renang pertama kali tanpa pegangan. Berusaha terus dari hanya sekedar meluncur hingga berani dan lancar di jarak yang lumayan lah buat pemula penakut seperti aku ini.

Dan sejak itu aku menyadari, kalau rasa panikku yang dulu membuat reaksiku berlebihan kini sangat jauh berkurang. Lebih kalem dan tenang ketika dihadapkan pada keaadaan yang menyebabkan rasa panik.

Alhamdulillah makasih yaa… buat suami juga seorang teman yang pertama kali mengajariku berenang, @bu melly fauziah yang kini tengah hamil setelah menunggu sekian lama…. barokalloh yaa… smg sehat selalu dan bayi juga sehat, normal juga persalinannya nanti lancar. Aamiin

Iklan

Panik

Panik adalah perasaan yang sungguh tak mengenakkan. Membuat rasa cemas yang berlebihan, jantung berdegup lebih kencang, nafas jadi pendek-pendek, takut, bingung, sesak di dada, masih ditambah mual, pusing dan rasa ingin pingsan arau lenyap saja tiba-tiba.

Perasaan yang tak menentu itulah yang akhir-akhir ini sering melandaku manakala terjadi sesuatu yang tak aku inginkan, baik padaku, keluarga, orang yang aku kenal, bahkan orang lain yang tak kukenal dan sedang mengalami sesuatu hal yang menurutku mengerikan. Dan perasaan inilah yang sering membuat orang disekitarku merasa aku terlalu panik berlebihan dan membuat mereka ikut khawatir. Ya jujur aku juga tak mau merasa demikian, tapi apa daya, perasaan itu tiba-tiba saja hinggap padaku dan sedang aku lawan, dengan mencoba menahan rasa panikku agar berkurang sedikit demi sedikit sehingga hilang dari pikiranku.

Sekedar mencari info tentang panik di google, beberapa tulisan yang terjaring oleh mesin pencari tersebut menjelaskan bahwa panik itu termasuk dalam golongan penyakit. Oh no, saya gak mau punya penyakit ini, sungguh tidak menyenangkan, membuat hati dan pikiran kita terasa stuck (#ngomong apa sih? hehe). Buntu karena saking paniknya sampai merasa gak tau harus ngapain dulu dan serasa mau pingsan. Padahal aku dulu tak begini, asal sudah memastikan tak membahayakan jiwa aku tak perlu panik. Tapi, entah sejak kapan penyakit ini bercokol kuat dalam pikiranku ini, aku hanya ingat aku mulai mudah panik dan bingung setelah melahirkan Azizah. Pastinya kenapa dan kapan aku tak tahu. Apakah ada dari temen blogger yang bisa memberikanku masukan dan solusi atas penyakitku ini? Terima kasih kawan.

Jus Buah

Memiliki pengalaman sedikit tentang jus buah sehingga merubah pandangan saya tentang jus buah. Selama puluhan tahun saya bersikukuh bahwa saya tidak suka dan tidak doyan yang namanya jus buah. Bagi saya jus buah tampak seperti gimana gitu, minuman pekat dengan sensasi pasir di dalamnya. Itu pandangan saya kepada jus buah, dan karena pandangan itulah yang membuat saya bertahan dengan pendapat saya yang tidak jelas karena belum pernah dibuktikan. Tapi jujur membayangkannya saja, saya pengen muntah, apalagi harus melihat dan meminumnya. Baca lebih lanjut

Pertumbuhan Azizah(2)

Tulisan saya kali ini masih seputar Azizah dan bayi premature. Menyambung tulisan yang sebelumnya, bisa dibaca di sini dan di sini.

Menurut Penjelasan dspog yang menangani saya, ketika bayi yang lahir premature bisa diselamatkan pada saat persalinan, maka perlu diperhatikan masalah yang muncul di kemudian hari terkait dengan kesehatannya. Mengapa? Karena bayi yang lahir premature, beberapa syaraf yang terbentuk masih belum sempurna. Yang seharusnya syaraf itu mendekati sempurna ketika minggu-minggu terakhir kehamilan dan akan mencapai kesempurnaan setelah beberapa minggu bayi dilahirkan.

Baca lebih lanjut

Terlambat Bicara

Ada kekhawatiran yang sangat kala itu ketika menyadari bahwa, “anakku terlambat bicara”. Bukan hal yang mudah, diolok-olok tetangga, teman-temanku dan teman bermain Fathan bahkan kakakku sendiri juga mencelaku karena Fathan dianggap memiliki kekurangan. Bermacam-macam komentar mereka, “kok gak bisa ngomong sih”, “udah gede kok belum bisa ngomong”, “Fathan bisu ya”, “kamu kali punya dosa” dan masih banyak lagi komentar mereka yang harus aku dengarkan tiap hari. Di usianya yang 2 tahun itu memang sudah terhitung terlambat bicara sekalipun laki-laki karena hanya kata “mah mah, eh eh” yang keluar dari mulutnya ketika akan meminta sesuatu.
Baca lebih lanjut

Syukur

Alhamdulillah masih diberi kesempatan oleh Allah diberikan banyak kenikmatan dengan jalannya masing-masing.
Bersyukur masih bisa menyaksikan dan menemani anak-anak tumbuh dan mengajarkan kebaikan kepada mereka. Bersyukur dipercayakan sepasang anak laki dan perempuan. Bersyukur atas semua kebaikan yang Allah berikan yang tentunya didapat dengan jalannya masing-masing sesuai dengan yang Allah gariskan.

Baca lebih lanjut