Arsip

Berhenti Menjadi Kontraktor

Setelah untuk kesekian kalinya saya berganti-ganti rumah dengan banyak model dan type rumah.

Setelah kesekian kalinya harus menyetor uang dalam jumlah yang tidak sedikit ke orang lain.

Setelah untuk kesekian kalinya saya merapikan barang dan mengepaknya dengan apik.

Setelah untuk kesekian kalinya saya melakukan boyongan.

Setelah kesekian kalinya saya harus merapikan ulang barang-barang setelah  boyongan.

Dan itu sangat melelahkan lahir dan batin.

Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menjadi kontraktor tukang ngontrak. Hihi istilah plesetan yang ngawur sekali penggunaannya, hanya untuk konsumsi candaan saja dengan teman atau saudara. Pernah satu kali saya mengabadikan tulisan saya tentang boyongan di blog ini, artikel yang saya buat kurang lebih 1,5 tahun yang lalu dan termasuk artikel-artikel terakhir sebelum saya memutuskan untuk non aktif sementara waktu karena harus menyiapkan pembukaan toko baru.

Dan 1,5 bulan lalu saya kembali melakukan boyongan dari ruko yang sebelumnya ke ruko yang tentunya saya tempati sekarang ini, yang Alhamdulillah sudah setahun ini menjadi salah satu daftar tanggungan bulanan kami. Semoga, keputusan ini membawa keberkahan yang luar biasa untuk kami sekeluarga dan usaha kami. aamiin.

Dan karena keputusan pindah inilah saya tetap harus memboyong semua isi rumah dan toko ke tempat yang sekarang yang insyaalloh lebih menenangkan, dan menyejukkan hati,  dengan izin Alloh tentunya. Meskipun sudah terbiasa dengan pindah dan boyongan, namun ada rasa syukur yang sangat sehingga Alloh memberikan kesempatan untuk kami menempati rumah ini. Yang sekalipun tidak sebesar rumah/ruko yang kami kontrak sebelum-sebelumnya, namun tetap saja rumah ini merupakan hadiah indah dari Alloh yang sudah sepatutnya kami syukuri. Banyak hal yang ingin saya  bagi perihal rumah kami ini, insyaaloh pada tulisan yang lain karena terlalu panjang jika dimasukkan disini.

Semoga ini boyongan yang terakhir dan kami tak perlu pindah-pindah isi rumah lagi, karena capeknya subhanalloh luar biasa. Tidak bisa sehari dua hari untuk persiapan dan finishingnya. Melainkan butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau hitungan bulanan bagi yang barangnya segambreng sedang tenaga minimalis, seperti kami. Persiapan dari rapi-rapi, pengepakan, angkut-angkut, bongkar muat di tempat baru, rapi-rapi, bersih-bersih, dan menatanya secantik mungkin dengan masih harus mengasuh dan mengerjakan seluruh tanggung jawab harian sebagai ibu dan istri, pokoknya luar biasa capeknya. Rasa capeknya seperti habis dipukuli orang sekampung…. . hihihi kumat hiperbolanya.<:mrgreen>

Capek dan lelah sudah pasti, tapi kebahagiaan saat satu pekerjaan di satu sisi rumah kami telah selesai itu sangat menenangkan. Sekalipun pekerjaan di sisi yang lain rumah ini telah menanti, tapi semangat untuk segera merapikan itu selalu membara demi melihat tatanan rumah yang apik di rumah sendiri. Yaaaa meskipun sudah hampir dua bulan berjalan tapi rasa-rasanya pekerjaan merapikan dan menata rumah ini tak kunjung selesai, ditambah lagi tangan mungil azizah yang tak bisa berhenti membongkar tumpukan buku dan barang-barang di lemari makan, rak tv, rak buku, juga tumpukan kursi dan galon…. .subhanalloh, tapi tetap menyenangkan meskipun geregetan, belum lagi kalau azizah sedang belajar berjualan, barang di etalase sudah pasti pindah ke meja kasir. Dan jika azizah sudah bermain sekolah-sekolahan, sudah tentu semua patung akan dijejer olehnya layaknya anak sekolah yang sedang berbaris di lapangan sambil menyanyi dan mengobrol dengan mereka “si teman patung”. Antara kesel, lucu dan sedih. Kesel karena, otomatis pekerjaanku terganggu karena kehadiran para “siswa patung” dan menjadikan pekerjaan lainnya tidak selesai-selesai. Lucu karena dia mainan sendiri, tidak rewel dan merepotkanku. Sedih karena kasihan, ia tak punya teman bermain di lingkungan baru kami yang memang tidak ada anak kecil. Inilah yang menjadikan kami berat untuk memutuskan pindah ke ruko baru ini, karena tak seperti ruko-ruko sebelumnya yang sudah banyak keluarga yang menempati rukonya, sehingga kami bisa berinteraksi layaknya tetangga perumahan. Lain kali akan saya ceritakan kekurangan dan kelebihan tinggal di ruko, wah jadi punya 2 janji tulisan yaa? Semoga bisa menyempatkan diri  menulis dan membaginya dengan teman-teman. aamiin.

Teringat 5 tahun lalu, seminggu sebelum ibu meninggal dunia. Ibu menawarkan bantuan beliau membeli rumah untuk kami yang saat itu masih menjadi kontraktor(xixi), tanpa syarat apapun. Kemudian aku menolaknya dengan halus, aku mengatakan pada beliau kalau aku hanya perlu do’a beliau agar bisa membelinya sendiri dengan penghasilan kami. Insyaalloh, lagi-lagi dengan izin Alloh tentunya. Ibu memang tidak langsung meng-iya-kan, beliau mengingatkan kami agar tidak terlalu lama mengontrak, karena ibu sedih jika anaknya harus diusir-usir dari rumah saat jatuh tempo kontrakan habis masa pakainya. Namun, aku dan suami sudah sepakat untuk tidak merepotkan orang tua untuk urusan rumah tangga kami meskipun kami berdua adalah anak terakhir di keluarga kami masing-masing. Sehingga kami mencoba meyakinkan ibu agar ibu tenang dan mendo’akan untuk kebaikan kami dan juga do’a agar kami bisa membeli rumah sendiri, tanpa harus merepotkan orang tua. Dan ibupun mendo’akannya untuk kami. Terima kasih pada ibu dan semua ibu di dunia ini yang hingga akhir hayatnya pun senantiasa memikirkan dan mendo’akan untuk kebahagiaan anak-anaknya. (y)

Boyongan kali ini adalah boyongan yang kelima termasuk pindahan kami dari Kota Palu-Sulawesi Tengah, dan pindahan yang keempat kalinya hanya dalam satu kecamatan, xixi… puas sudah kami berpindah-pindah tempat tinggal. Semoga kali ini adalah yang terakhir untuk di Bekasi saja. kalau suami pindah tugas di daerah yang jauh dari Bekasi, yaa kami pindah lagi lah…hihihi… gak ada kapoknya.. <:mrgreen>

Semoga kepindahan kami di rumah ini senantiasa membawa keberkahan bagi keluarga kami, bagi lingkungan kami, juga bagi usaha kami. aamiin

Ikhlaskan Yang Terlepas

Ikhlaskan yang terlepas, kalimat ini tampak seperti sesuatu yang sepele. Namun sangat berat untuk dikerjakan. Apapun bentuknya dan berapapun nilainya. Ingatkah kita, saat kita kehilangan uang yang nilainya mungkin tak seberapa, tapi kita sibuk memikirkan kemana perginya uang yang sudah hilang tersebut. Apakah hilang atau sudah kita belanjakan? Atau pernahkah kita mengalami saat-saat harus kehilangan sesuatu yang mungkin sangat kita cintai atau bahkan hanya satu-satunya milik kita? Sesuatu itu apapun bentuknya memang kadang harus terlepas dari kita, suka tidak suka atau mau tidak mau. Betapapun sulitnya dan bagaimanapun kita berusaha menahannya, ketika saatnya terlepas, maka tak ada pilihan lain kecuali melepaskannya. Namun dengan cara apa kita melepasnya, itulah yang kemudian menjadi pilihan kita, dengan ikhlas atau tidak.

Ada sebuah cerita, suatu saat di dalam sebuah bus elf.

Bagi yang terbiasa naik bus elf, pasti tau gimana kebiasaan dalam elf yang tanpa kenek, mengharuskan salah satu penumpang berinisiatif untuk mengkoordinir ongkos naik elf tersebut dari semua penumpang. Ada yang mau ada yang tidak, ada pula yang terpaksa karena pecahan uangnya terlalu besar sehingga membuatnya mengkoordinir pembayaran penumpang lainnya agar dapat kembalian, tentu saja buka dengan senang hati. Karena tidak menutup kemungkinan ada yang “nakal” tidak mau membayar dan tidak ketahuan karena rame-rame, kembali pada kesadaran masing-masing penumpang, sangat merugikan orang lain.

Cerita bermula, ketika saya naik elf, rutinitas kendaraan berangkat kerja dari  bekasi, tol timur menuju cikarang, kawasan ejip.  Seperti biasa ketika sudah keluar tol cikarang, semua penumpang mengumpulkan uang ongkos perjalanan, dan yang kebagian mengkoordinir adalah saya. Perlu diketahui, tarif sekali perjalanan sebesar 5.000 rupiah. Setelah dikumpulkan, saya ambil kembalian uang saya yang 45.000. Tapi ternyata saat akan dibayarkan, jumlah uang yang terkumpul dan jumlah penumpung ada selisih kekurangan 10.000 berarti kurang 2 orang yang tidak membayar. Salah seorang penumpang menyadari kebingungan saya, karena jumlah uang yang kurang. Kemudian membantu saya untuk menanyakan siapa yang belum membayar. Namun, setelah dikonfirmasi ke semua penumpang, mereka bilang sudah membayar semua. Akhirnya, saya berinisiatif menutupi kekurangan dengan uang saya.

Tiba di kawasan ejip, saat turun tiba-tiba ada seorang bapak paruh baya yang mendatangi saya dan memberi saya uang 10.000 sambil berkata, “Ini buat ganti kekurangan tadi”, rupanya bapak itu adalah bapak yang tadi membantu saya mengkonfirmasi ke penumpang lainnya. Saya menolaknya dengan halus, karena memang sudah saya ikhlaskan (tidak saya pikirkan), jadi saya menolaknya. Si bapak bersikeras meminta saya menerimanya, dan saya tetap menolaknya, sebenarnya malu, karena si bapak agak memaksa saya menerima uang pengganti darinya, tidak enak dilihat banyak orang. Pada akhirnya uang itu tetap saya terima karena bapaknya tiba-tiba menempatkan uang itu ke tangan saya dan bapaknya pamit pergi karena harus segera menuju tempat beliau bekerja. Begitupun saya yag harus bergegas naik koasi menuju tempat saya kerja. Saat menerima uang itu, saya langsung memisahkan uang itu dari uang pribadi saya, karena rencananya uang tersebut akan saya sedekahkan, jadi saya memasukkannya di dompet yang lain.

Singkat cerita, malam hari sepulang kerja, saya pulang seperti biasa, naik angkot lalu melanjutkan perjalanan dengan naik elf. Karena masih kosong, terpaksa saya menunggu penumpang lain datang dan saya memilih menunggunya di dalam elf. Saat masih menunggu penumpang naik, saya menyiapkan ongkos sebelum penuh orang, agar tidak repot mengambil uang di dalam saku/tas saat berdesak-desakan dengan banyak orang di dalam kendaraan. Saat mencari uang di dala tas, saya tidak menemukan dompet yang tadi sempat saya keluarkan dari dalam tas, dompet yang berisi uang sepuluh ribu rupiah saja, dompet yang berisi uang yang diberikan si bapak tadi pagi untuk mengganti ongkos penumpang yang tak membayar. Saya mencoba mengingat kejadian dimana kemungkinan saya menghilangkan dompet itu dengan merunut kegiatan saya dari saya memasukkan uang 10.000 itu ke dompet sampai saya di dalam elf dan mendapati dompet saya tak berada di dalam tas. Setelah mengingat-ingat semua kejadian sehari itu, saya menyimpulkan bahwa kemungkinan dompet saya tertinggal di toko tempat saya membeli permen dan air mineral. Rupanya sepulang kerja tadi, saya mampir ke toko untuk membeli minum dan permen untuk membuat saya tetap terjaga saat di dalam elf. Saya sempat akan mengambil uang dari dompet, namun saya batalkan saat ingat uang di dompet itu adalah uang tadi pagi, jadi saya letakkan lagi dompet itu dan mengambil uang dari saku baju untuk membayar barang yang sudah saya beli. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan pulang. Bersyukur masih ada uang sisa membeli permen tadi, cukup untuk membayar ongkos elf. Alhamdulillah Alloh masih memberikan saya kemudahan.

Sedikit kaget, karena yang hilang adalah uang sepuluh ribu itu bukan uang yang di saku saya. Dan kenapa jumlah yang hilang itu senilai dengan uang saya yang seharusnya hilang untuk mengganti ongkos penumpang yang tak membayar. Mungkin bagi kita uang 10.000 itu tak terlalu berarti, tapi bisa jadi sangat berarti bagi orang yang membutuhkan.  Selama dalam perjalanan pulang itu saya merenung mencoba mencari hikmah dari kejadian yang saya alami. Bukan  masalah nominal uangnya, tapi saya yakin pasti ada hikmah dari setiap kejadian yang terjadi di bumi ini yang ingin Alloh SWT tunjukkan ke kita. Mungkin uang 10.000 itu memang sudah seharusnya terlepas dari saya, biarpun ada orang yang coba mengganti uang saya yang hilang tapi jika Alloh SWT berkehendak terhadap saya bahwa uang saya yang 10.000 itu harus hilang, maka akan tetap hilang dari saya, begitulah cara indah Alloh SWT menunjukkan pada saya ilmu yang sangat bermanfaat ini untuk saya. Juga teguran dari Alloh SWT untuk saya agar lebih banyak beramal, karena ada banyak cara Alloh SWT untuk mengambil titipan-Nya yang ada pada kita jika kita kikir, dan itu sangat mudah bagi Alloh SWT.

Semoga bermanfaat.

Belajar itu terus dan terus, kehidupan itu juga media untuk kita senantiasa belajar akan segala hal.