Arsip

Terapi “Panik” dengan Berenang

Dahulu, dalam tulisanku ini yang isi sebenarnya adalah keluhan atas “penyakit” panik manakala menjumpai suatu kondisi/hal yang tidak sesuai (bisa berarti banyak hal, sedih, takut, khawatir) yang sebenarnya lumrah ga lumrah. Namun kadang bisa menjadi sangat mengganggu ketika reaksi paniknya berlebihan, tidak hanya pada penderita saja, tapi juga orang disekitarnya yang jadi ikut-ikutan khawatir/panik.

Dalam setahun terakhir ini, aku yang baru belajar berenang (selama ini bisa berenang asal pakai ban besar.. hehe), belajarnya pun autodidak, kadang juga diajarin oleh suami juga teman saat berenang bersamaan.

Tanpa pelatih profesional, bukan hal mudah mengajarkan berenang pada orang yang punya tingkat kepanikan yang tinggi, dalam hal ini adalah aku. Bagaimana ia harus bisa meyakinkan aku supaya berani mengalahkan rasa panikku ketika aku melepaskan tangan dan berenang sendiri. Membayangkan bahwa aku harus berenang di air tanpa pegangan, dan jika saja jatuh, aku bisa saja tidak sempat menjejakkan kaki ke lantai dasar kolam renang sebelum aku selesai mengambil nafas berikutnya. Dan ini adalah rasa panik luar biasa takut tidak bisa bernafas.

Dan itu sangat sulit buatku meyakinkan diri sendiri, kalau aku bisa berenang tanpa rasa panik. Beberapa kali latihan tidak ada peningkatan, sampai akhirnya suami bilang kalau aku tidak akan bisa berenang jika tetap mengandalkan pegangan. Dan aku pun berusaha memberanikan diri dan mengalahkan rasa takut, khawatir dan panik untuk memulai renang pertama kali tanpa pegangan. Berusaha terus dari hanya sekedar meluncur hingga berani dan lancar di jarak yang lumayan lah buat pemula penakut seperti aku ini.

Dan sejak itu aku menyadari, kalau rasa panikku yang dulu membuat reaksiku berlebihan kini sangat jauh berkurang. Lebih kalem dan tenang ketika dihadapkan pada keaadaan yang menyebabkan rasa panik.

Alhamdulillah makasih yaa… buat suami juga seorang teman yang pertama kali mengajariku berenang, @bu melly fauziah yang kini tengah hamil setelah menunggu sekian lama…. barokalloh yaa… smg sehat selalu dan bayi juga sehat, normal juga persalinannya nanti lancar. Aamiin

Iklan

Berhenti Menjadi Kontraktor

Setelah untuk kesekian kalinya saya berganti-ganti rumah dengan banyak model dan type rumah.

Setelah kesekian kalinya harus menyetor uang dalam jumlah yang tidak sedikit ke orang lain.

Setelah untuk kesekian kalinya saya merapikan barang dan mengepaknya dengan apik.

Setelah untuk kesekian kalinya saya melakukan boyongan.

Setelah kesekian kalinya saya harus merapikan ulang barang-barang setelah  boyongan.

Dan itu sangat melelahkan lahir dan batin.

Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menjadi kontraktor tukang ngontrak. Hihi istilah plesetan yang ngawur sekali penggunaannya, hanya untuk konsumsi candaan saja dengan teman atau saudara. Pernah satu kali saya mengabadikan tulisan saya tentang boyongan di blog ini, artikel yang saya buat kurang lebih 1,5 tahun yang lalu dan termasuk artikel-artikel terakhir sebelum saya memutuskan untuk non aktif sementara waktu karena harus menyiapkan pembukaan toko baru.

Dan 1,5 bulan lalu saya kembali melakukan boyongan dari ruko yang sebelumnya ke ruko yang tentunya saya tempati sekarang ini, yang Alhamdulillah sudah setahun ini menjadi salah satu daftar tanggungan bulanan kami. Semoga, keputusan ini membawa keberkahan yang luar biasa untuk kami sekeluarga dan usaha kami. aamiin.

Dan karena keputusan pindah inilah saya tetap harus memboyong semua isi rumah dan toko ke tempat yang sekarang yang insyaalloh lebih menenangkan, dan menyejukkan hati,  dengan izin Alloh tentunya. Meskipun sudah terbiasa dengan pindah dan boyongan, namun ada rasa syukur yang sangat sehingga Alloh memberikan kesempatan untuk kami menempati rumah ini. Yang sekalipun tidak sebesar rumah/ruko yang kami kontrak sebelum-sebelumnya, namun tetap saja rumah ini merupakan hadiah indah dari Alloh yang sudah sepatutnya kami syukuri. Banyak hal yang ingin saya  bagi perihal rumah kami ini, insyaaloh pada tulisan yang lain karena terlalu panjang jika dimasukkan disini.

Semoga ini boyongan yang terakhir dan kami tak perlu pindah-pindah isi rumah lagi, karena capeknya subhanalloh luar biasa. Tidak bisa sehari dua hari untuk persiapan dan finishingnya. Melainkan butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau hitungan bulanan bagi yang barangnya segambreng sedang tenaga minimalis, seperti kami. Persiapan dari rapi-rapi, pengepakan, angkut-angkut, bongkar muat di tempat baru, rapi-rapi, bersih-bersih, dan menatanya secantik mungkin dengan masih harus mengasuh dan mengerjakan seluruh tanggung jawab harian sebagai ibu dan istri, pokoknya luar biasa capeknya. Rasa capeknya seperti habis dipukuli orang sekampung…. . hihihi kumat hiperbolanya.<:mrgreen>

Capek dan lelah sudah pasti, tapi kebahagiaan saat satu pekerjaan di satu sisi rumah kami telah selesai itu sangat menenangkan. Sekalipun pekerjaan di sisi yang lain rumah ini telah menanti, tapi semangat untuk segera merapikan itu selalu membara demi melihat tatanan rumah yang apik di rumah sendiri. Yaaaa meskipun sudah hampir dua bulan berjalan tapi rasa-rasanya pekerjaan merapikan dan menata rumah ini tak kunjung selesai, ditambah lagi tangan mungil azizah yang tak bisa berhenti membongkar tumpukan buku dan barang-barang di lemari makan, rak tv, rak buku, juga tumpukan kursi dan galon…. .subhanalloh, tapi tetap menyenangkan meskipun geregetan, belum lagi kalau azizah sedang belajar berjualan, barang di etalase sudah pasti pindah ke meja kasir. Dan jika azizah sudah bermain sekolah-sekolahan, sudah tentu semua patung akan dijejer olehnya layaknya anak sekolah yang sedang berbaris di lapangan sambil menyanyi dan mengobrol dengan mereka “si teman patung”. Antara kesel, lucu dan sedih. Kesel karena, otomatis pekerjaanku terganggu karena kehadiran para “siswa patung” dan menjadikan pekerjaan lainnya tidak selesai-selesai. Lucu karena dia mainan sendiri, tidak rewel dan merepotkanku. Sedih karena kasihan, ia tak punya teman bermain di lingkungan baru kami yang memang tidak ada anak kecil. Inilah yang menjadikan kami berat untuk memutuskan pindah ke ruko baru ini, karena tak seperti ruko-ruko sebelumnya yang sudah banyak keluarga yang menempati rukonya, sehingga kami bisa berinteraksi layaknya tetangga perumahan. Lain kali akan saya ceritakan kekurangan dan kelebihan tinggal di ruko, wah jadi punya 2 janji tulisan yaa? Semoga bisa menyempatkan diri  menulis dan membaginya dengan teman-teman. aamiin.

Teringat 5 tahun lalu, seminggu sebelum ibu meninggal dunia. Ibu menawarkan bantuan beliau membeli rumah untuk kami yang saat itu masih menjadi kontraktor(xixi), tanpa syarat apapun. Kemudian aku menolaknya dengan halus, aku mengatakan pada beliau kalau aku hanya perlu do’a beliau agar bisa membelinya sendiri dengan penghasilan kami. Insyaalloh, lagi-lagi dengan izin Alloh tentunya. Ibu memang tidak langsung meng-iya-kan, beliau mengingatkan kami agar tidak terlalu lama mengontrak, karena ibu sedih jika anaknya harus diusir-usir dari rumah saat jatuh tempo kontrakan habis masa pakainya. Namun, aku dan suami sudah sepakat untuk tidak merepotkan orang tua untuk urusan rumah tangga kami meskipun kami berdua adalah anak terakhir di keluarga kami masing-masing. Sehingga kami mencoba meyakinkan ibu agar ibu tenang dan mendo’akan untuk kebaikan kami dan juga do’a agar kami bisa membeli rumah sendiri, tanpa harus merepotkan orang tua. Dan ibupun mendo’akannya untuk kami. Terima kasih pada ibu dan semua ibu di dunia ini yang hingga akhir hayatnya pun senantiasa memikirkan dan mendo’akan untuk kebahagiaan anak-anaknya. (y)

Boyongan kali ini adalah boyongan yang kelima termasuk pindahan kami dari Kota Palu-Sulawesi Tengah, dan pindahan yang keempat kalinya hanya dalam satu kecamatan, xixi… puas sudah kami berpindah-pindah tempat tinggal. Semoga kali ini adalah yang terakhir untuk di Bekasi saja. kalau suami pindah tugas di daerah yang jauh dari Bekasi, yaa kami pindah lagi lah…hihihi… gak ada kapoknya.. <:mrgreen>

Semoga kepindahan kami di rumah ini senantiasa membawa keberkahan bagi keluarga kami, bagi lingkungan kami, juga bagi usaha kami. aamiin

Solitaire dan Sendiri

Saya mau ikut giveawaynya mba nique dan mba imelda, meskipun saya tau sudah bisa dikatakan telat kalau saya baru mau ikutan hari ini sedang besok sudah ditutup, eh bener ditutup yak besok. Ya ga apalah  yang penting saya bisa ikut meramaikan. Meskipun saat temen-temen blogger udah posting, saya malah belum tau infonya. Saat yang lain pada ngiklan minta dijempol dan berusaha mencapai peringkat pertama di mesin pencari google saya malah baru tau infonya. Daan semua sudah kipas-kipas tinggal menunggu hasil dan kontes akan segera ditutup, saya  malah baru mau unyuk-unyuk menulis (#adakah yang tau arti unyuk-unyuk selain saya… hehe).

Berbicara tentang solitaire dan sendiri, jujur saya bingung untuk menuliskannya. Memang saya pernah mengalami masa setengah tahun kuliah yang tidak jelas, terdaftar sebagai mahasiswa yang sedang menyelesaikan tugas akhir, namun sama sekali tidak mengerjakan tugas akhir. Parah ga sih? Ga lah, saya memang ga begitu ingin segera menyelesaikan kuliah saya yang hanya tinggal tugas akhir, karena terlalu sayang meninggalkan organisasi yang sudah saya tekuni sejak saya aktif menjadi mahasiswa di kampus tersebut. Saya akui, saya memang egois terhadap orang tua saya, setengah tahun lamanya untuk menyelesaikan tugas akhir yang ternyata belum saya sentuh sedikitpun itu membuat orangtua saya bertanya, apakah sebegitu beratnya perasaan saya untuk meninggalkan kampus saya beserta teman-teman senasib saya sehingga waktu setengah tahun berlalu tanpa selembarpun laporan tugas akhir. Setelah menjelaskan panjang lebar alasan saya bertahan di sana dan juga janji saya bahwa saya akan menyelesaikan tugas akhir saya di semester berikutnya, alhamdulillah orangtua saya bisa memahami. Sampai hampir akhir semester aktifitas saya hanya mondar-mandir kampus-kost an untuk menyelesaikan urusan saya dengan organisasi. Senang berada di kampus masih ketemu teman-teman di kampus yang sebagian besar masih mengambil mata kuliah, entah untuk menambah nilai atau memperbaiki nilai. Dan tak sedikit dari mereka yang menunda kelulusan juga karena masih sibuk berorganisasi. Dan ketika berada di rumah kost, saya seperti orang tidak berguna yang kerjanya cuma makan, tidur, keluar dan nge-game di komputer. padahal seharusnya saya menggunakan komputer untuk menyelesaikan tugas akhir, tapi saya malah menggunakannya untuk bermain game solitaire. Padahal game solitaire yang enaknya dimainkan sendiri ini sangat bikin kecanduan. Bagaimana tidak? Jika kita sekali bermain game solitaire dan menang, pasti kita akan tertarik untuk mengalahkan permainan ini yang kedua ataupun ketiga kalinya. Sedang jika sekali main dan kalah, maka kita akan penasaran gimana caranya untuk bisa mengalahkan game ini baik dengan cara berulang-ulang memainkan game yang sama maupun dengan bolak balik menekan tombol kembali/undo untuk menutup kesalahan langkah yang menyebabkan kita kalah bermain. Itulah solitaire, game yang enak dimainkan untuk mengisi waktu kosong yang ternyata bisa saja menghabiskan waktu yang lama tanpa terasa.

Sendiri memang membuat kita merasa lebih cepat jenuh. Apalagi ketika sedang tidak ada kegiatan di kampus, tidak ada acara, tidak ada teman ngobrol, tidak juga nonton, biasanya saya akan berlama-lama di depan komputer. Entah sekedar menulis, merapikan file-file yang berantakan di harddisk komputer, membaca artikel, atau juga bermain Solitaire yang seringnya malah melenakan. hehe. Begitu juga ketika menunggu giliran mencuci, saya kadang mengisinya dengan mengobrol dengan teman satu kost atau jika sedang sendiri mengantri teman kost yang mencucinya lama, saya akan memilih menyalakan komputer dan bermain solitaire. Kadang karena sedang serunya bemain, pernah sampai diduluin giliran mencuci oleh teman, sehingga saya malah terlambat mencuci. Sungguh tak pantas untuk ditiru. 

Seperti janji saya pada orang tua, bahwa saya akan segera menyelesaikan tugas akhir saya setelah semester ini berakhir. Dari awal semester, ketika teman-teman di organisasi lebih mandiri dan siap untuk ditinggalkan oleh saya. Maka saya bersegera untuk mengerjakan tugas akhir sendiri, tanpa bantuan siapa-siapa dan mencoba membuat software proyek akhir saya berbeda dari yang lain dan saya ingin proyek saya bisa bermanfaat. Alhamdulillah, atas dukungan dosen pembimbing jadilah saya membuat tugas akhir perangkat lunak penghitung waris menurut Islam. Sambutan para dosen pembimbing dan para dosen penguji sangat baik ketika beliau-beliau tau saya mengerjakan semua sendiri baik program maupun laporan hanya dalam waktu tiga bulan. Tak disangka meskipun sempat trouble karena ada fungsi program yang tak sengaja terhapus, saya mendapat nilai A tanpa harus perbaikan, karena fungsi yang hilang sempat saya temukan sesaat sebelum ujian akhir selesai. Alhamdulillah. Sendiri untuk mandiri itu menyenangkan lho.

Sekarang saya sudah tidak pernah lagi bermain solitaire. Semenjak berrumah tangga dan mempunyai anak-anak yang masih kecil, sudah hampir tak ada waktu kosong. Tak ada asisten dan semua saya kerjakan sendiri membuat saya lebih mandiri. Karena hari-hari sangat disibukkan dengan kegiatan domestik dan mengasuh anak-anak, sehingga ketika anak-anak tidur siang dan saya punya waktu senggang, saya akan berusaha memanfaatkannya sebaik mungkin. Bersegera menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan yang sempat tertunda oleh suara tangisan si kecil yang sedang tidak nyaman atau sedang diusili oleh masnya. Bisa juga dengan merapikan barang-barang di toko. Atau jika pekerjaan telah beres semua dan saya bisa bersantai, saya akan menggunakannya untuk ngeblog dan blogwalking dalam kesendirian. Apalagi ketika suami harus bekerja dari pagi sampai malam, tak ayal membuat saya dengan senang hati mengerjakan hal-hal yang biasa dikerjakan laki-laki,seperti memindah-mindah perabot berat, membetulkan perlengkapan kelistrikan jika terjadi kerusakan, juga termasuk memperbaiki pompa air.

Dan spesial untuk mempersembahkan tulisan ini, saya sengaja mengunduh software solitaire di android market, dan memainkannya kemudian menampilkannya sendiri di sini.

image

Tulisan ini diikutkan pada perhelatan GIVEAWAY : PRIBADI MANDIRI yang diselenggarakan oleh Imelda Coutrier dan Nicamprenique.

Kejutan itu Datang dari… .

Akhir pekan lalu saya dikejutkan oleh sms yang dikirim oleh nomer 3355. Sms yang isinya adalah notifikasi atau pemberitahuan akan adanya transaksi kredit pada rekening saya di bank tersebut itu sontak membuat saya terkejut dengan nilainya yang saya anggap tidak biasa itu. Tidak saja nilai nominal yang tidak kecil, tapi juga bilangannya yang tidak beraturan (mungkin karena ada bilangan untuk referensinya). Untuk lengkapnya bisa di liat di sini.

Seperti yang saya tulis di postingan saya sebelumnya, bahwa saya akan datang ke bank dimana rekening saya terdaftar, untuk sebuah kejelasan atas transferan uang yang membuat saya mendadak terkejut. Hari senin kemarin, dikarenakan keterbatasan saya untuk keluar-keluar, sehingga mengharuskan suami yang datang langsung ke bank untuk meminta konfirmasi dengan hadirnya sms notifikasi dari bank dan diperkuat dengan penambahan jumlah saldo setelah mengecek langsung ke anjungan tunai mandiri terdekat untuk memastikan kebenaran isi sms tersebut.

Sekalipun suami rutin mendatangi bank asal rekening saya itu, untuk melakukan sejumlah aktivitas pada rekening saya, tak lantas membuat urusan menjadi mudah. Seperti saat ini ketika suami hendak mencari tau asal muasal uang tersebut dikirim, suami tak banyak mendapat info dari mana uang misterius itu berasal. Ya karena memang seperti itulah prosedurnya dan suami bukanlah pemilik rekening tersebut melainkan saya sendiri. Parahnya lagi, saya lupa membuat surat kuasa atas rekening saya tersebut kepada suami, hihi. Sehingga menyebabkan suami hanya mengetahui bank asal uang tersebut ditransfer tanpa tahu pemilik rekening pengirim.

Setelah berdiskusi dengan saya, sampailah suami pada suatu dugaan bahwa pengirim uang itu adalah perusahaan asuransi syariah tempat kami mendaftarkan asuransi pendidikan untuk Fathan. Memang beberapa waktu lalu, saya sebagai pendaftar asuransi pendidikan untuk Fathan mengajukan permohonan pengambilan semua saldo asuransi yang masih tersisa. Dengan mencantumkan nomor rekening tujuan transfer yang tak lain adalah nomor rekening saya sebagai pemohon untuk keperluan pencairan uang asuransi yang memang dikirim melalui rekening. Banyak hal yang melatarbelakangi saya mengambil uang asuransi tersebut adalah, karena tidak optimalnya saya membayar asuransi(jujur banget yak?) dan ada suatu kebutuhan penting dan mendesak yang lain. Ini bukan berarti kebutuhan pendidikan Fathan tidak penting lho… saya dan suami tetap memprioritaskan untuk pendidikan anak-anak. Tapi kami berjanji akan menggantinya dalam bentuk yang lain(biidznillah).

Kembali pada kiriman uang.
Sampai saat ini belum ada informasi resmi dari pihak perusahaan asuransi tersebut berkenaan dengan kiriman uang yang menimbulkan banyak tanya di hati kami itu. Justru dari agent yang memproses asuransilah akhirnya kami tahu kebenaran uang yang sudah membuat saya resah, gelisah, gundah, gulana karena secara tiba-tiba masuk ke rekening saya tanpa pemberitahuan apapun.

Sekarang saya tak perlu resah, gelisah, gundah, gulana lagi memikirkan kehalalan uang tersebut untuk kami, tak perlu memikirkan kalau-kalau uang tersebut adalah uang hibahan dari aliran dana tak jelas dan tak halal sehingga menyebabkan saya terseret kasus yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan saya (jauh banget yak mikirnya?). Bersyukur karena ternyata uang itu adalah uang kami sendiri yang insyaAlloh berkah, halal dan thoyib. amiin. Sudah tak penasaran lagi kan temans? sama seperti kami…. :mrgreen:

Setiap yang Berjiwa Pasti akan Merasakan Mati

Pagi ini, ketika melihat berita di stasiun televisi swasta yang hampir sebagian besar isi berita adalah kecelakaan lalin (lalu lintas). Miris sekali, banyak sekali kejadian kecelakaan lalin mulai dari Nangroe Aceh Darussalam, beberapa di wilayah Jawa, lalu manokwari dan yang lainnya yang sedikitnya memakan korban tewas 1 orang. Sedih dan mawas, sedih menyaksikan orang-orang yang menjadi korban kecelakaan yang pastinya tak mereka inginkan sebagai akhir dari kehidupan mereka. Dan mawas, karena kejadian seperti ini harus menjadi pengingat kepada kita bahwa kita akan mengalami kematian juga, bahwa kita punya pilihan untuk menjadi baik dan mendapat balasan yang baik kelak atau sebaliknya, na’udzubillah min dzalik. Semoga amalan baik kita lebih banyak ketimbang amalan buruk yang pernah kita lakukan.

Ada awal ada akhir, ada kehidupan ada kematian. Seperti Firman Alloh dalam Qs. Ali Imron(3) ayat 185 “Qullu nafsin dzaaiqotul maut” yang artinya, “tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati”. Kapanpun dan dimanapun kita, jika sudah tiba masanya kita harus kembali kepada-Nya maka tak akan ada yang bisa menghalangi. Bersembunyi di manapun kita yang orang lain tak bisa temukan, tapi jika masa itu tiba, malaikatul mautpun akan datang menjemput kita. Harta, jabatan, istri, anak, orang tua, dan sahabat tak akan mampu menghalangi. Sebaliknya, jika Alloh belum berkehendak mencabut nyawa seseorang, apapun yang dilakukan untuk menghilangkan nyawa seseorang maka tak akan membuatnya menemui ajal.

Seperti salah satu kejadian kecelakaan lalu lintas yang kulihat di televisi pagi ini, tabrakan beruntun antara mobil minibus dengan dua truk pengangkut dikarenakan pecah ban mobil minibus. Kemudian teringat kejadian 3 minggu yang lalu, sepulangnya dari belanja di Pekalongan peristiwa unpredictable itu terjadi. Mobil yang kami (aku, abi dan anak-anak) tumpangi mengalami pecah ban di daerah Comal-masih seputaran Pekalongan, sedang hujan deras dan mobil melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Alhamdulillah kami semua selamat tanpa kekurangan apapun. Meskipun, merana berada di tepi jalan sendirian, jauh dari tukang tambal ban dan minimnya ketrampilan darurat tentang permobilan tapi kami masih sangat bersyukur dengan keadaan kami yang tak mengalami kejadian buruk yang sangat tak diinginkan itu.

Seperti biasa, kami memilih perjalanan malam untuk menghindari ramainya kendaraan yang akan menuju Jakarta di hari Minggu. Hujan deras yang turun selepas maghrib mengiringi perjalanan kami bertolak ke Jakarta. Lelahnya anak-anak setelah seharian bermain membuat mereka lebih cepat tidur dari biasanya,apalagi ketika dalam kendaraan, bersyukur karena sebelum berangkat mereka sudah makan. Di tengah derasnya guyuran hujan dan lajunya kendaraan yang saling mendahului, tiba-tiba terdengar suara krosak, seperti suara kantong plastik besar yang berisi banyak barang sedang terjatuh dari suatu ketinggian (analogi yang aneh! tapi memang begitu kok, bener deh). kupikir suara kantung plastik yang berisi baju jatuh dari jok belakang yang mungkin tak sengaja tertendang oleh Fathan sewaktu ia beralih posisi tidur. Tapi tidak, tak ada barang apapun di jok maupun di bawah jok tempat Fathan tidur, semua barang kami tata di belakang jok belakang. Mobil masih melaju dan aku mencoba memeriksa tiap pintu yang belum tertutup rapat sehingga memungkinkan pintu terbuka ketika mobil terguncang keras dan menyebabkan kantong itu jatuh. Lagi-lagi, pintu-pintu samping aman, pintu belakang yang coba kudorong dengan payung untuk memastikan pintu itu terbuka juga diam tak bergerak menandakan bahwa pintu itu tertutup rapat. Lalu apa??? Setelah diskusi sebentar dengan abi, akhirnya kami sepakat berhenti dan menepikan mobil untuk memastikan apa yang terjadi. Hujan deras, gelap dan tak ada prerangan apapun di tempat abi memarkir kendaraan tersebut, hanya sorot lampu kendaraan yang bergantian melewati kami.

Abi turun dan mendapati ban mobil belakang yang pecah. Sendiri, abi turun mencari bantuan, aku menjaga anak-anak yang tidur pulas di mobil. Atas petunjuk seorang polisi yang sepertinya habis patroli itu, abi bergegas ke tempat yang ditunjuk, tapi nihil, tukangnya tak bersedia karena tak punya alatnya, yang ada hanya alat untuk kendaraan besar saja. Kembali bertanya ke pak Polisi yang tadi, dan malah ia yang dengan mobil patrolinya melaju menembus hujan untuk mencari seorang tukang tambal ban yang kami butuhkan. Setelah agak lama dan si bapak polisi belum datang juga, saya baru teringat untuk menghubungi pihak rental yang mobilnya kami pinjam. Mencoba memberi kabar dan meminta informasi seputar keadaan darurat yang saya alami ini. Setelah informasi keberadaan alat yang dimaksud itu ketemu, ia billang coba aja dulu gampang kok, dan ternyata kami memang gak tau cara menggunakan pengungkit untuk melepas ban yang pecah dan gak tau cara melepas ban serep yang disimpan di bawah mobil. Payah dan nekat. hehe.

Tak berselang lama, pak polisi tadi datang bersama tukang servis dan Alhamdulillah beres juga masalah kami, makasi semua atas bantuannya. Dan bonusnya, abi jadi tau cara untuk mengatasi ban pecah. Ada hikmah di setiap kejadian.

Beratnya Menjadi Ibu Rumah Tangga

Apa kabar kawan… .?
Lama gak ngeblog rasanya tanganku kaku buat ngetik lagi. Entah karena alasan apa lagi aku sempat sangat malas sekali ngeblog? Emang emak moody-an satu ini sedang jadi pngacara. Pengangguran banyak acara. Acara masak, acara beresin rumah, acara nunggu toko sambil ngasuh anak, acara makan, acara tidur, dan acara-acara yang lain yang sangat menyita waktu, pikiran dan tenaga. #halah alasan dan hiperbola

Kali ini ingin menyampaikan sedikit dari yang kutemui sehari-hari dengan pekerjaan harianku sebgai Ibu Rumah Tangga.

Sebagai ibu rumah tangga rasanya gak ada habisnya pekerjaan domestik yang sangat menyita waktu dan energi kita. #betul tidak ibu-ibu? mencoba mencari dukungan. Sepertinya 24 jam dalam sehari itu tidak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan domestik rumah tangga seperti melayani suami dengan segala kebutuhannya, merawat dan mendidik anak, mencuci dan menjemur, menyapu dan mengepel lantai, merapikan rumah yang tak rapi-rapi oleh eksplorasi anak-anak, memasak, mencuci piring, setrika pakaian, membersihkan kamar mandi, ditambah lagi jika anak rewel dan berantem, menenangkan mereka juga butuh energi yang luar biasa, belum lagi bagi istri/ibu yang punya pekerjaan di luar rumah ataupun kerja sampingan di rumah. Pekerjaan-pekerjaan tersebut yang kalo mau jujur sebenarnya bukan sepenuhnya kewajiban istri atau ibu. Tugas seorang istri atau ibu adalah berbakti, melayani suami dan mendidik anak-anak. Jadi, pekerjaan selain melayani suami dan mendidik anak-anak adalah pekerjaan yang sudah sepatutnya dikerjakan bersama yang kesemuanya merupakan ladang amal ibadah. Kalaupun seorang istri yang mengambil peran untuk mengerjakan semua pekerjaan dari bangun tidur hingga tidur lagi itu semata-mata karena ingin menyenangkan suami. Meskipun tak mengharap imbalan, seorang istri akan sangat bahagia ketika mendapat penghargaan dari suaminya, sekalipun hanya ucapan terima kasih yang sejatinya juga bukan menjadi satu-satunya tujuan istri mengerjakan semuanya. Sekalipun tak mendapat penghargaan yang berarti, paling tidak suami tidak menambah tuntutan kita istri sudah jungkir balik mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan asisten, suami masih menyalahkan istrinya ketika anaknya mungkin (maaf) tidak “pandai” atau memiliki “kekurangan” yang dianggap tidak memenuhi kriteria anak “idaman” di mata sang ayah. Parahnya, suami tidak bisa menerima keadaan anaknya yang “kurang” menurut standarnya dan ia menyalahkan istri karena dianggap lalai dalam mendidik anak. Tidak hanya menyakiti hati orang-orang yang sudah seharusnya ia sayangi tapi juga suami ini lari dari tugasnya sebagai seorang ayah yang mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dengan istri dalam mendidik anak. Dan yang suami/ayah lupakan juga adalah bahwa anaknya tak sepenuhnya “kurang”, karena mereka memiliki kelebihan mereka di bidangnya masing-masing. Coba suami
pikirkan, apa jadinya ketika suami berangkat bekerja sedang istrinya lebih asyik nonton infotaiment alias acara gosip yang biasa disuguhkan pagi-pagi ketimbang menyiapkan seragam kerja dan sarapan suami. Dan akankah suami bisa tersenyum ketika memasuki rumahnya sepulang kerja mendapati istri sedang tiduran membaca majalah gosip sambil memasang headset di telinganya untuk mendengarkan musik, anaknya berantem, satu marah dan satunya lagi menangis, mainan berantakan, pakaian kotor belum dicuci, belum masak. #rumah apa pasar yak?

Bersyukur mempunyai suami yang mau berbagi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, yang artinya kami saling membagi amal ibadah. Alhamdulillah hehe. Sesedikit apapun bantuan suami dalam menyelesaikan pekerjaan rumah harus disyukuri karena masih banyak suami-suami yang belum memahami bahwa pekerjaan domestik istri tidak kalah berat dibanding tugas suami mencari nafkah untuk keluarga. Jadi jangan meremehkan pekerjaan istri yang seharian mengurus rumah beserta isinya dan menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Liburan Sederhana Kami

image

Beberapa pekan lalu adalah jadualnya liburan bagi anak sekolah yang juga bertepatan dengan beberapa hari libur nasional. Libur panjang seperti saat ini pasti ditunggu-tunggu kehadirannya oleh seluruh orang tua dan anak-anak yang sekolah. Pasalnya, libur panjang berarti liburan. Dan bagiku yang anaknya belum sekolah apakah ikut merasakan pentingnya hari libur? Oh tentu iya. Aku pikir semua juga perlu liburan, istirahat, bersenang-senang, untuk menyegarkan kembali semangat dan pikiran yang mungkin penat, jenuh, capek setelah sekian waktu disibukkan dengan berbagai aktivitas rutin harian.

Liburan lalu, aku berencana mengajak anak-anak pulang kampung atas ajakan salah seorang kakakku. Namun sepertinya belum diijinkan Alloh untuk pulang kampung, beberapa pesanan seragam batik yang masih belum selesai diurus dan beberapa yang lain akan selesai di proses dan diambil di akhir Desember. Yang artinya aku tidak bisa melanjutkan rencana untuk pulang kampung, dan kupikir juga tak begitu bijak meninggalkan suami yang sedang sibuk tugas akhir tahun juga harus lembur sampai dini hari dan masih berlanjut sabtu minggu hingga tiba hari senin bekerja kembali seperti biasanya. Sudah seharusnya aku dan anak-anak memberikan support untuknya, meskipun kami juga ingin libur, dan kurasa suamiku juga merasakan kepenatan yang luar biasa setiap menghadapi akhir tahun. Libur tetaplah libur dan tugas akhir tahun tetap juga harus diselesaikan.

Aku memberi pengertian kepada anak-anak,terlebih Fathan yang sudah mengerti arti jalan-jalan di saat abi libur. Tiba kesempatan libur nasional, tak ada halangan untuk jalan-jalan dan lemburan suami sedikit longgar. Rencana mau belanja baju anak-anak yang sudah kekecilan, pinginnya di deket rumah saja agar abi cepat istirahat lagi. Tapi telepon dari kantor abi, meminta abi untuk datang ke kantor membantu temannya yang lemburannya belum usai. Yaa sudahlah, demi memenuhi janji kepada anak-anak dan abi yang minta ditemani lembur, jadilah kami jalan-jalannya ke kantor abi saja. Alhamdulillah, abi semangat ditungguin anak isteri, anak-anak juga senang bisa main sama umi sambil sesekali “mengganggu” kerja abi. Sorenya abi ijin sebentar mengantarkan kami ke pasar dekat kantor berbelanja baju anak-anak. Alhamdulillah semua senang dan waktunya pulang, tinggal tidur saja.

Akhir pekannya, suami dan aku datang ke hajatan keluarga di Ciledug, dan untuk mengenalkan anak-anak pada keluarga jauh yang belum pernah bertemu agar tali silaturrahim tetap terjaga. Puas kangen-kangenan sambil makan-makan, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Putri, Bogor yang sejatinya lebih dekat dari rumah tinggal kami.

image

Di gunung Putri adalah tempat tinggal sahabatku sejak SMP. Ini kali keduanya kami bertemu setelah aku lulus SMU, dan ini pertama kalinya aku ke rumahnya. Kangen sekali rasanya, meskipun hampir setiap hari kami saling menelepon. Fathan dan Azizah senang sekali mendapat keluarga dan teman baru, asik sekali mereka bermain sampai-sampai tak mau diajak pulang.

Itulah cerita liburan kami kali ini.Liburan yang sederhana tapi sungguh sangat berkesan bagi aku, abi dan anak-anak. Rasanya lebih semangat dan fresh kembali,semoga berkah. amiin.

Karya ini saya tulis dalam rangka turut meramaikan hajatan Liburan Seru:
Say No to Mall
!

Posted from WordPress for Android

Baca lebih lanjut