Arsip

Tema Baru, Review dan Semangat

Tema baru, review dan semangat??? Apa hubungannya ya? Ga ada sodara-sodara ga ada hubungannya. Aku cuma pengen posting yang berhubungan dengan ketiga hal di atas.

Dapat pinjaman laptop kakak, Alhamdulillah bisa ganti tema blog rumahmauna yang biasanya hanya seputar putih dan cokat, kini pakai warna ungu-ungu pink. Hehe biar lebih feminim.

Mengganti tema adalah kegiatan rutin ketika ingin menambah warna baru dan menghadirkan suasana baru agar lebih semangat. Semoga juga semakin semangat ngeblog, setelah istirahat ngeblog yang lumayan lama, hampir satu bulan. Ga enak sebenarnya berhenti menulis yang lama karena akan sangat susah memulainya kembali, yang ga ada ide lah, yang bingung mengawalinya lah, yang ini lah yang itulah. Jadi mulai sekarang saya akan berusaha menulis sehari satu post, atau dua-tiga hari satu postingan atau kalo ga bisa ya paling ga satu minggu satu post, saya usahakan. Saya juga sedang menggiatkan bewe, untuk menambah ilmu, kawan, mencari ide supaya tidak ada alasan lagi saya ga menulis karena tak punya ide, betul ga? Semoga saya bisa.

Saya sudah mengawali postingan saya yang lebih rutin mulai satu pekan ini, semoga ke depan bisa lebih rutin lagi berbagi tulisan di blog rumahmauna ini dan menyambangi blog teman-teman semua di ranah blogsphere ini. Senangnya bisa berbagi meskipun hanya melalui tulisan dan ketika membaca blog teman-teman yang lucu, informatif, cerita dan apapun itu sugguh memberi warna dalam keseharian kita, terutama saya yang kesehariannya di rumah, di toko, bersama anak-anak dan setumpuk pekerjaan rumah. Dan ketika bisa menghasilkan dari dunia maya ini yang meskipun sedikit harus tetap disyukuri, meminjam kalimat om lozz, memungut recehan dari internet. Job review yang dulu pertama kuketahui dari teh lidya yang bikin aku penasaran, eh tak disangka mendatangiku juga meskipun blogku yg cuma ber-pagerangking 2 ini. Dan job review pertamku adalah ini dan ini, hasilnya lumayan lah, cukup untuk membeli pulsa flash. hehe. Semoga ke depan bisa menghasilkan lebih banyak lagi dari internet ini, supaya saya bisa beli laptop untuk mengganti komputer saya yang rusak dan mati segan hiduppun tak mau.

Setiap yang Berjiwa Pasti akan Merasakan Mati

Pagi ini, ketika melihat berita di stasiun televisi swasta yang hampir sebagian besar isi berita adalah kecelakaan lalin (lalu lintas). Miris sekali, banyak sekali kejadian kecelakaan lalin mulai dari Nangroe Aceh Darussalam, beberapa di wilayah Jawa, lalu manokwari dan yang lainnya yang sedikitnya memakan korban tewas 1 orang. Sedih dan mawas, sedih menyaksikan orang-orang yang menjadi korban kecelakaan yang pastinya tak mereka inginkan sebagai akhir dari kehidupan mereka. Dan mawas, karena kejadian seperti ini harus menjadi pengingat kepada kita bahwa kita akan mengalami kematian juga, bahwa kita punya pilihan untuk menjadi baik dan mendapat balasan yang baik kelak atau sebaliknya, na’udzubillah min dzalik. Semoga amalan baik kita lebih banyak ketimbang amalan buruk yang pernah kita lakukan.

Ada awal ada akhir, ada kehidupan ada kematian. Seperti Firman Alloh dalam Qs. Ali Imron(3) ayat 185 “Qullu nafsin dzaaiqotul maut” yang artinya, “tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati”. Kapanpun dan dimanapun kita, jika sudah tiba masanya kita harus kembali kepada-Nya maka tak akan ada yang bisa menghalangi. Bersembunyi di manapun kita yang orang lain tak bisa temukan, tapi jika masa itu tiba, malaikatul mautpun akan datang menjemput kita. Harta, jabatan, istri, anak, orang tua, dan sahabat tak akan mampu menghalangi. Sebaliknya, jika Alloh belum berkehendak mencabut nyawa seseorang, apapun yang dilakukan untuk menghilangkan nyawa seseorang maka tak akan membuatnya menemui ajal.

Seperti salah satu kejadian kecelakaan lalu lintas yang kulihat di televisi pagi ini, tabrakan beruntun antara mobil minibus dengan dua truk pengangkut dikarenakan pecah ban mobil minibus. Kemudian teringat kejadian 3 minggu yang lalu, sepulangnya dari belanja di Pekalongan peristiwa unpredictable itu terjadi. Mobil yang kami (aku, abi dan anak-anak) tumpangi mengalami pecah ban di daerah Comal-masih seputaran Pekalongan, sedang hujan deras dan mobil melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Alhamdulillah kami semua selamat tanpa kekurangan apapun. Meskipun, merana berada di tepi jalan sendirian, jauh dari tukang tambal ban dan minimnya ketrampilan darurat tentang permobilan tapi kami masih sangat bersyukur dengan keadaan kami yang tak mengalami kejadian buruk yang sangat tak diinginkan itu.

Seperti biasa, kami memilih perjalanan malam untuk menghindari ramainya kendaraan yang akan menuju Jakarta di hari Minggu. Hujan deras yang turun selepas maghrib mengiringi perjalanan kami bertolak ke Jakarta. Lelahnya anak-anak setelah seharian bermain membuat mereka lebih cepat tidur dari biasanya,apalagi ketika dalam kendaraan, bersyukur karena sebelum berangkat mereka sudah makan. Di tengah derasnya guyuran hujan dan lajunya kendaraan yang saling mendahului, tiba-tiba terdengar suara krosak, seperti suara kantong plastik besar yang berisi banyak barang sedang terjatuh dari suatu ketinggian (analogi yang aneh! tapi memang begitu kok, bener deh). kupikir suara kantung plastik yang berisi baju jatuh dari jok belakang yang mungkin tak sengaja tertendang oleh Fathan sewaktu ia beralih posisi tidur. Tapi tidak, tak ada barang apapun di jok maupun di bawah jok tempat Fathan tidur, semua barang kami tata di belakang jok belakang. Mobil masih melaju dan aku mencoba memeriksa tiap pintu yang belum tertutup rapat sehingga memungkinkan pintu terbuka ketika mobil terguncang keras dan menyebabkan kantong itu jatuh. Lagi-lagi, pintu-pintu samping aman, pintu belakang yang coba kudorong dengan payung untuk memastikan pintu itu terbuka juga diam tak bergerak menandakan bahwa pintu itu tertutup rapat. Lalu apa??? Setelah diskusi sebentar dengan abi, akhirnya kami sepakat berhenti dan menepikan mobil untuk memastikan apa yang terjadi. Hujan deras, gelap dan tak ada prerangan apapun di tempat abi memarkir kendaraan tersebut, hanya sorot lampu kendaraan yang bergantian melewati kami.

Abi turun dan mendapati ban mobil belakang yang pecah. Sendiri, abi turun mencari bantuan, aku menjaga anak-anak yang tidur pulas di mobil. Atas petunjuk seorang polisi yang sepertinya habis patroli itu, abi bergegas ke tempat yang ditunjuk, tapi nihil, tukangnya tak bersedia karena tak punya alatnya, yang ada hanya alat untuk kendaraan besar saja. Kembali bertanya ke pak Polisi yang tadi, dan malah ia yang dengan mobil patrolinya melaju menembus hujan untuk mencari seorang tukang tambal ban yang kami butuhkan. Setelah agak lama dan si bapak polisi belum datang juga, saya baru teringat untuk menghubungi pihak rental yang mobilnya kami pinjam. Mencoba memberi kabar dan meminta informasi seputar keadaan darurat yang saya alami ini. Setelah informasi keberadaan alat yang dimaksud itu ketemu, ia billang coba aja dulu gampang kok, dan ternyata kami memang gak tau cara menggunakan pengungkit untuk melepas ban yang pecah dan gak tau cara melepas ban serep yang disimpan di bawah mobil. Payah dan nekat. hehe.

Tak berselang lama, pak polisi tadi datang bersama tukang servis dan Alhamdulillah beres juga masalah kami, makasi semua atas bantuannya. Dan bonusnya, abi jadi tau cara untuk mengatasi ban pecah. Ada hikmah di setiap kejadian.

Beratnya Menjadi Ibu Rumah Tangga

Apa kabar kawan… .?
Lama gak ngeblog rasanya tanganku kaku buat ngetik lagi. Entah karena alasan apa lagi aku sempat sangat malas sekali ngeblog? Emang emak moody-an satu ini sedang jadi pngacara. Pengangguran banyak acara. Acara masak, acara beresin rumah, acara nunggu toko sambil ngasuh anak, acara makan, acara tidur, dan acara-acara yang lain yang sangat menyita waktu, pikiran dan tenaga. #halah alasan dan hiperbola

Kali ini ingin menyampaikan sedikit dari yang kutemui sehari-hari dengan pekerjaan harianku sebgai Ibu Rumah Tangga.

Sebagai ibu rumah tangga rasanya gak ada habisnya pekerjaan domestik yang sangat menyita waktu dan energi kita. #betul tidak ibu-ibu? mencoba mencari dukungan. Sepertinya 24 jam dalam sehari itu tidak cukup untuk menyelesaikan semua pekerjaan domestik rumah tangga seperti melayani suami dengan segala kebutuhannya, merawat dan mendidik anak, mencuci dan menjemur, menyapu dan mengepel lantai, merapikan rumah yang tak rapi-rapi oleh eksplorasi anak-anak, memasak, mencuci piring, setrika pakaian, membersihkan kamar mandi, ditambah lagi jika anak rewel dan berantem, menenangkan mereka juga butuh energi yang luar biasa, belum lagi bagi istri/ibu yang punya pekerjaan di luar rumah ataupun kerja sampingan di rumah. Pekerjaan-pekerjaan tersebut yang kalo mau jujur sebenarnya bukan sepenuhnya kewajiban istri atau ibu. Tugas seorang istri atau ibu adalah berbakti, melayani suami dan mendidik anak-anak. Jadi, pekerjaan selain melayani suami dan mendidik anak-anak adalah pekerjaan yang sudah sepatutnya dikerjakan bersama yang kesemuanya merupakan ladang amal ibadah. Kalaupun seorang istri yang mengambil peran untuk mengerjakan semua pekerjaan dari bangun tidur hingga tidur lagi itu semata-mata karena ingin menyenangkan suami. Meskipun tak mengharap imbalan, seorang istri akan sangat bahagia ketika mendapat penghargaan dari suaminya, sekalipun hanya ucapan terima kasih yang sejatinya juga bukan menjadi satu-satunya tujuan istri mengerjakan semuanya. Sekalipun tak mendapat penghargaan yang berarti, paling tidak suami tidak menambah tuntutan kita istri sudah jungkir balik mengurus semuanya sendiri tanpa bantuan asisten, suami masih menyalahkan istrinya ketika anaknya mungkin (maaf) tidak “pandai” atau memiliki “kekurangan” yang dianggap tidak memenuhi kriteria anak “idaman” di mata sang ayah. Parahnya, suami tidak bisa menerima keadaan anaknya yang “kurang” menurut standarnya dan ia menyalahkan istri karena dianggap lalai dalam mendidik anak. Tidak hanya menyakiti hati orang-orang yang sudah seharusnya ia sayangi tapi juga suami ini lari dari tugasnya sebagai seorang ayah yang mempunyai tanggung jawab yang sama besarnya dengan istri dalam mendidik anak. Dan yang suami/ayah lupakan juga adalah bahwa anaknya tak sepenuhnya “kurang”, karena mereka memiliki kelebihan mereka di bidangnya masing-masing. Coba suami
pikirkan, apa jadinya ketika suami berangkat bekerja sedang istrinya lebih asyik nonton infotaiment alias acara gosip yang biasa disuguhkan pagi-pagi ketimbang menyiapkan seragam kerja dan sarapan suami. Dan akankah suami bisa tersenyum ketika memasuki rumahnya sepulang kerja mendapati istri sedang tiduran membaca majalah gosip sambil memasang headset di telinganya untuk mendengarkan musik, anaknya berantem, satu marah dan satunya lagi menangis, mainan berantakan, pakaian kotor belum dicuci, belum masak. #rumah apa pasar yak?

Bersyukur mempunyai suami yang mau berbagi tugas untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, yang artinya kami saling membagi amal ibadah. Alhamdulillah hehe. Sesedikit apapun bantuan suami dalam menyelesaikan pekerjaan rumah harus disyukuri karena masih banyak suami-suami yang belum memahami bahwa pekerjaan domestik istri tidak kalah berat dibanding tugas suami mencari nafkah untuk keluarga. Jadi jangan meremehkan pekerjaan istri yang seharian mengurus rumah beserta isinya dan menjaganya dengan sebaik-baiknya.

Senja di Talise dan Taman Ria

Talise dan Taman ria merupakan dua pantai dari sekian banyak pantai yang ada di pantai barat Sulawesi Tengah. Pantai yang indah dan pasirnya masih putih. Airnya yang bening, dan berubah menjadi merah saga manakala tiba waktu senja.

Tidak hanya airnya yang bening, suasana di sore hari di tepi pantai Talise dan Taman Ria yang tak pernah sepi dari pengunjung yang ingin menikmati suasana matahari tenggelam atau sunset, ditemani suguhan pisang gepe, martabak mi dan tak lupa sarabba. Hmmm, yummy. Sebelum matahari tenggelam, ada pemandangan lain yang hampir tiap hari bisa kita jumpai di sekitar pantai di tepi barat Sulawesi Tengah ini, adalah pelangi yang di daerah lain boleh jadi sangat jarang dijumpai.

Di pagi hari kita bisa juga melihat matahari terbit, tapi suasana pagi di sana sepi, hanya orang yang sekedar lewat saja. Dan foto-foto… :mrgreen:Itulah saya.

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

Selain kedua pantai tadi, kita juga bisa menjumpai jembatan besar berwarna kuning yang menghubungkan antara daratan tepi pantai talise dan taman ria yang dipisahkan oleh hulu sungai besar. Jembatan yang panjang dan terdapat dua lengkungan menyambung di atasnya, indah sekali. Terlebih jika malam tiba, gemerlap cahaya lampu yang menghiasi sisi dan bagian atas jembatan yang beradu dengan cahaya bintang. Jembatan yang biasa disebut jembatan Ponulele atau jembatan IV Palu atau juga bisa dikatakan jembatan kuning karena memang dicat dengan warna kuning.

Aku dan Keluargaku

Sebelumnya, terima kasih buat semua teman yang sudah mendo’akan untuk keberkahan aku dan keluargaku di hari miladku beberapa waktu lalu. Semoga kebaikan juga senantiasa untuk teman semua. amiin.

Puji Syukur kepada Alloh SWT Robb yang telah memberikan seluruh kenikmatan dalam hidup kita semua.

Tidak terasa waktu begitu cepat bergulir dan kita masih saja bergulat dengan setumpuk kesibukan kita yang tak ada habisnya. Begitupun aku yang tiba-tiba tersadar bilangan usiaku semakin membesar dan amalku tak seberapa. Alloh beri kami petunjuk-Mu. Amiin

(Bagian ini akan aku simpan di Halaman Tentang)
Aku di Usiaku yang mendekati kepala 3. Alhamdulillah sudah menikah dengan 1 suami yang sabar, penyayang dan bijaksana dan sudah dikaruniai 2 orang anak yang lucu dan shalih-shalihah. amiin. Aku memang tak bekerja di luar rumah tapi alhamdulillah memiliki kesibukan di rumah mengasuh dan mendidik anak-anakku sambil menjaga toko batik yang dengan izin Alloh sudah berjalan hampir 3 tahun bulan juli nanti.
Suamiku yang bekerja sebagai buruh negara, adalah seorang pekerja keras, sabar membimbing kami, aku dan anak-anak, ia juga orang yang bijaksana dan plegmatis damai (lain sekali dengan istrinya :mrgreen:). Kami menikah di usia yang lumayan muda (ga muda banget sih), aku, 22 tahun dan suamiku 9 bulan lebih tua dariku. Sejak sebelum kuliah sudah ada dalam rencanaku menikah di usia muda, setelah lulus dan kerja. Dan tidak kusia-siakan kesempatan yang Alloh berikan ketika ada yang datang untuk membuat komitmen menikah meskipun belum genap setahun aku bekerja.

Sekarang, sudah hampir 5 tahun menikah, kami memang belum punya rumah sendiri, dan kami sedang berproses ke sana. InsyaAlloh Biidznillah.

Anak-anakku
Fathan yang usianya beranjak 4 tahun Oktober nanti, sudah hafal do’a sehari-hari dan beberapa surat pendek. Ia yang kini sedang belajar menyambung titik-titik menjadi sebuah huruf, angka atau bentuk yang lain. Ia sudah pandai menggambar mobil 1 dimensi dan manusia lidi juga bintang versinya, lingkaran dengan garis kuadran di tengahnya.. mungkin maksudnya bintang dengan sinarnya yang gemerlap. hihi.

Azizah
Anak keduaku yang kini berusia 7 bulan dan genap setahun nanti di bulan yang sama dengan Fathan. Di usianya yang 7 bulan, ia lagi seneng-senengnya mundur-mundur dan ngelasut. Makanya tak heran kalau tiba-tiba ia sudah di bawah kolong meja atau sudah tiba-tiba tidur di lantai dengan pulesnya.
Azizah lucu

Semoga Keluarga kami, menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah, juga bermanfaat untuk orang lain.

Mandiri Finansial

Mandiri Finansial, menurut terjemahan kasar saya, yaitu mandiri dalam hal perolehan pendapatan. Mandiri Finansial tidak hanya berlaku untuk kaum laki-laki saja, tapi bisa juga untuk para perempuan yang masih gadis ataupun yang sudah berkeluarga.
Bagi saya pribadi, mandiri finansial sangat penting untuk perempuan meskipun tidak wajib. Dengan memiliki pendapatan sendiri perempuan bisa lebih mandiri dan bertanggung jawab atas keluar-masuknya keuangan.

Menyambung tulisan yang sebelumnya tentang, Kematian Bisa Datang Sewaktu-Waktu. Kematian bisa saja datang sewaktu-waktu tanpa memilih usia ataupun jenis kelamin. Tidak selalu yang tua lebih dahulu menjumpai kematiannya, begitu juga dengan jenis kelamin. Bagi kita yang sudah menikah, tak ada jaminan bahwa diantara kita dan pasangan kita bisa mati bersama atau juga lebih dahulu kita (perempuan), Bagaimana kalau yang meninggalkan kita adalah pasangan (suami) terlebih dahulu? Menikah lagi? Saya pikir, sebagian besar perempuan akan menjawab, tidak. Mengapa? Karena (menurut saya, hihihi ga valid banget) menikah lagi bukan satu-satunya solusi. Lebih baik mempersiapkan untuk masa depan kita dan anak-anak kita, daripada tiba-tiba kita dikagetkan dengan kenyataan harus menghadapi kehidupan ini sendiri tanpa pasangan yang menemani membesarkan dan mendidik anak-anak. Padahal suami menjadi satu-satunya pencari nafkah.

Itulah salah satu alasan bahwa mandiri finansial itu juga penting untuk perempuan, untuk meneruskan kehidupan selanjutnya bersama anak-anak.

Mandiri dari segi penghasilan bagi perempuan bisa sangat bermacam-macam bentuknya, dan tidak selalu harus keluar rumah. Kalaupun saat ini suami masih ada, penghasilan yang kita peroleh bisa dimanfaatkan untuk membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga, investasi, membuka usaha sendiri, dsb. Menyiapkan diri untuk mandiri finansial itu lebih baik, bukan???

Jus Buah

Memiliki pengalaman sedikit tentang jus buah sehingga merubah pandangan saya tentang jus buah. Selama puluhan tahun saya bersikukuh bahwa saya tidak suka dan tidak doyan yang namanya jus buah. Bagi saya jus buah tampak seperti gimana gitu, minuman pekat dengan sensasi pasir di dalamnya. Itu pandangan saya kepada jus buah, dan karena pandangan itulah yang membuat saya bertahan dengan pendapat saya yang tidak jelas karena belum pernah dibuktikan. Tapi jujur membayangkannya saja, saya pengen muntah, apalagi harus melihat dan meminumnya. Baca lebih lanjut