Arsip

Berhenti Menjadi Kontraktor

Setelah untuk kesekian kalinya saya berganti-ganti rumah dengan banyak model dan type rumah.

Setelah kesekian kalinya harus menyetor uang dalam jumlah yang tidak sedikit ke orang lain.

Setelah untuk kesekian kalinya saya merapikan barang dan mengepaknya dengan apik.

Setelah untuk kesekian kalinya saya melakukan boyongan.

Setelah kesekian kalinya saya harus merapikan ulang barang-barang setelah  boyongan.

Dan itu sangat melelahkan lahir dan batin.

Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menjadi kontraktor tukang ngontrak. Hihi istilah plesetan yang ngawur sekali penggunaannya, hanya untuk konsumsi candaan saja dengan teman atau saudara. Pernah satu kali saya mengabadikan tulisan saya tentang boyongan di blog ini, artikel yang saya buat kurang lebih 1,5 tahun yang lalu dan termasuk artikel-artikel terakhir sebelum saya memutuskan untuk non aktif sementara waktu karena harus menyiapkan pembukaan toko baru.

Dan 1,5 bulan lalu saya kembali melakukan boyongan dari ruko yang sebelumnya ke ruko yang tentunya saya tempati sekarang ini, yang Alhamdulillah sudah setahun ini menjadi salah satu daftar tanggungan bulanan kami. Semoga, keputusan ini membawa keberkahan yang luar biasa untuk kami sekeluarga dan usaha kami. aamiin.

Dan karena keputusan pindah inilah saya tetap harus memboyong semua isi rumah dan toko ke tempat yang sekarang yang insyaalloh lebih menenangkan, dan menyejukkan hati,  dengan izin Alloh tentunya. Meskipun sudah terbiasa dengan pindah dan boyongan, namun ada rasa syukur yang sangat sehingga Alloh memberikan kesempatan untuk kami menempati rumah ini. Yang sekalipun tidak sebesar rumah/ruko yang kami kontrak sebelum-sebelumnya, namun tetap saja rumah ini merupakan hadiah indah dari Alloh yang sudah sepatutnya kami syukuri. Banyak hal yang ingin saya  bagi perihal rumah kami ini, insyaaloh pada tulisan yang lain karena terlalu panjang jika dimasukkan disini.

Semoga ini boyongan yang terakhir dan kami tak perlu pindah-pindah isi rumah lagi, karena capeknya subhanalloh luar biasa. Tidak bisa sehari dua hari untuk persiapan dan finishingnya. Melainkan butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau hitungan bulanan bagi yang barangnya segambreng sedang tenaga minimalis, seperti kami. Persiapan dari rapi-rapi, pengepakan, angkut-angkut, bongkar muat di tempat baru, rapi-rapi, bersih-bersih, dan menatanya secantik mungkin dengan masih harus mengasuh dan mengerjakan seluruh tanggung jawab harian sebagai ibu dan istri, pokoknya luar biasa capeknya. Rasa capeknya seperti habis dipukuli orang sekampung…. . hihihi kumat hiperbolanya.<:mrgreen>

Capek dan lelah sudah pasti, tapi kebahagiaan saat satu pekerjaan di satu sisi rumah kami telah selesai itu sangat menenangkan. Sekalipun pekerjaan di sisi yang lain rumah ini telah menanti, tapi semangat untuk segera merapikan itu selalu membara demi melihat tatanan rumah yang apik di rumah sendiri. Yaaaa meskipun sudah hampir dua bulan berjalan tapi rasa-rasanya pekerjaan merapikan dan menata rumah ini tak kunjung selesai, ditambah lagi tangan mungil azizah yang tak bisa berhenti membongkar tumpukan buku dan barang-barang di lemari makan, rak tv, rak buku, juga tumpukan kursi dan galon…. .subhanalloh, tapi tetap menyenangkan meskipun geregetan, belum lagi kalau azizah sedang belajar berjualan, barang di etalase sudah pasti pindah ke meja kasir. Dan jika azizah sudah bermain sekolah-sekolahan, sudah tentu semua patung akan dijejer olehnya layaknya anak sekolah yang sedang berbaris di lapangan sambil menyanyi dan mengobrol dengan mereka “si teman patung”. Antara kesel, lucu dan sedih. Kesel karena, otomatis pekerjaanku terganggu karena kehadiran para “siswa patung” dan menjadikan pekerjaan lainnya tidak selesai-selesai. Lucu karena dia mainan sendiri, tidak rewel dan merepotkanku. Sedih karena kasihan, ia tak punya teman bermain di lingkungan baru kami yang memang tidak ada anak kecil. Inilah yang menjadikan kami berat untuk memutuskan pindah ke ruko baru ini, karena tak seperti ruko-ruko sebelumnya yang sudah banyak keluarga yang menempati rukonya, sehingga kami bisa berinteraksi layaknya tetangga perumahan. Lain kali akan saya ceritakan kekurangan dan kelebihan tinggal di ruko, wah jadi punya 2 janji tulisan yaa? Semoga bisa menyempatkan diri  menulis dan membaginya dengan teman-teman. aamiin.

Teringat 5 tahun lalu, seminggu sebelum ibu meninggal dunia. Ibu menawarkan bantuan beliau membeli rumah untuk kami yang saat itu masih menjadi kontraktor(xixi), tanpa syarat apapun. Kemudian aku menolaknya dengan halus, aku mengatakan pada beliau kalau aku hanya perlu do’a beliau agar bisa membelinya sendiri dengan penghasilan kami. Insyaalloh, lagi-lagi dengan izin Alloh tentunya. Ibu memang tidak langsung meng-iya-kan, beliau mengingatkan kami agar tidak terlalu lama mengontrak, karena ibu sedih jika anaknya harus diusir-usir dari rumah saat jatuh tempo kontrakan habis masa pakainya. Namun, aku dan suami sudah sepakat untuk tidak merepotkan orang tua untuk urusan rumah tangga kami meskipun kami berdua adalah anak terakhir di keluarga kami masing-masing. Sehingga kami mencoba meyakinkan ibu agar ibu tenang dan mendo’akan untuk kebaikan kami dan juga do’a agar kami bisa membeli rumah sendiri, tanpa harus merepotkan orang tua. Dan ibupun mendo’akannya untuk kami. Terima kasih pada ibu dan semua ibu di dunia ini yang hingga akhir hayatnya pun senantiasa memikirkan dan mendo’akan untuk kebahagiaan anak-anaknya. (y)

Boyongan kali ini adalah boyongan yang kelima termasuk pindahan kami dari Kota Palu-Sulawesi Tengah, dan pindahan yang keempat kalinya hanya dalam satu kecamatan, xixi… puas sudah kami berpindah-pindah tempat tinggal. Semoga kali ini adalah yang terakhir untuk di Bekasi saja. kalau suami pindah tugas di daerah yang jauh dari Bekasi, yaa kami pindah lagi lah…hihihi… gak ada kapoknya.. <:mrgreen>

Semoga kepindahan kami di rumah ini senantiasa membawa keberkahan bagi keluarga kami, bagi lingkungan kami, juga bagi usaha kami. aamiin

Hadiah Kejutan

Setelah tertunda posting sekian lama, akhirnya sekarang bisa juga. Smoga ga berhenti lagi di draft dan lupa… Kali ini harus publish. #menyemangati diri sendiri

Malam itu, saat sedang capek-capeknya kami mempersiapkan untuk kepindahan kami ke ruko yang lain, datang kakak saya membawa bungkusan yang bikin saya penasaran karena ternyata isinya adalah dua kiriman atas nama saya. Setelah melihat pengirimnya, kiriman pertama berupa surat yang datangnya dari PT. Vitapharm yang isinya kartu keanggotaan. Tapi kali ini saya tidak akan membahas tentang kiriman kartu keanggotaan dari Vitapharm ini, justru kiriman kedualah yang membuat saya penasaran. Kiriman yang ternyata dari seseorang yang belum familiar buat saya karena namanya asing di telinga saya sebelumnya. Belum juga selesai membaca detail pengirimnya, sudah didahului Fathan yang ingin membukanya dan ingin tau isi kado itu. Bersyukur karena Fathan mengijinkan saya memfotonya sebelum bungkusnya hancur. Inilah foto yang masih sempat diambil sebelum akhirnya isi kiriman itu masuk kardus penyimpanan.

image
image

image

Dan pengirim paket itu adalah om walank ergea pemilik blog tenteraverbisa. Saya bener ga nyangka dapat kejutan dengan kiriman hadiah dari om ergea karena sudah ikutan kontes cerita liburan, say no to mall. Fathan senang sekali lho karena isi paket itu adalah buku anak dwi bahasa, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Fathan sangat tertarik dan katanya, “umi nanti cerita buat aku ya”. Terima kasih ya om walank ergea atas kirimannya, sudah diterima dengan baik. Semoga bermanfaat buat Fathan dan adiknya.

Kejutan itu Datang dari… .

Akhir pekan lalu saya dikejutkan oleh sms yang dikirim oleh nomer 3355. Sms yang isinya adalah notifikasi atau pemberitahuan akan adanya transaksi kredit pada rekening saya di bank tersebut itu sontak membuat saya terkejut dengan nilainya yang saya anggap tidak biasa itu. Tidak saja nilai nominal yang tidak kecil, tapi juga bilangannya yang tidak beraturan (mungkin karena ada bilangan untuk referensinya). Untuk lengkapnya bisa di liat di sini.

Seperti yang saya tulis di postingan saya sebelumnya, bahwa saya akan datang ke bank dimana rekening saya terdaftar, untuk sebuah kejelasan atas transferan uang yang membuat saya mendadak terkejut. Hari senin kemarin, dikarenakan keterbatasan saya untuk keluar-keluar, sehingga mengharuskan suami yang datang langsung ke bank untuk meminta konfirmasi dengan hadirnya sms notifikasi dari bank dan diperkuat dengan penambahan jumlah saldo setelah mengecek langsung ke anjungan tunai mandiri terdekat untuk memastikan kebenaran isi sms tersebut.

Sekalipun suami rutin mendatangi bank asal rekening saya itu, untuk melakukan sejumlah aktivitas pada rekening saya, tak lantas membuat urusan menjadi mudah. Seperti saat ini ketika suami hendak mencari tau asal muasal uang tersebut dikirim, suami tak banyak mendapat info dari mana uang misterius itu berasal. Ya karena memang seperti itulah prosedurnya dan suami bukanlah pemilik rekening tersebut melainkan saya sendiri. Parahnya lagi, saya lupa membuat surat kuasa atas rekening saya tersebut kepada suami, hihi. Sehingga menyebabkan suami hanya mengetahui bank asal uang tersebut ditransfer tanpa tahu pemilik rekening pengirim.

Setelah berdiskusi dengan saya, sampailah suami pada suatu dugaan bahwa pengirim uang itu adalah perusahaan asuransi syariah tempat kami mendaftarkan asuransi pendidikan untuk Fathan. Memang beberapa waktu lalu, saya sebagai pendaftar asuransi pendidikan untuk Fathan mengajukan permohonan pengambilan semua saldo asuransi yang masih tersisa. Dengan mencantumkan nomor rekening tujuan transfer yang tak lain adalah nomor rekening saya sebagai pemohon untuk keperluan pencairan uang asuransi yang memang dikirim melalui rekening. Banyak hal yang melatarbelakangi saya mengambil uang asuransi tersebut adalah, karena tidak optimalnya saya membayar asuransi(jujur banget yak?) dan ada suatu kebutuhan penting dan mendesak yang lain. Ini bukan berarti kebutuhan pendidikan Fathan tidak penting lho… saya dan suami tetap memprioritaskan untuk pendidikan anak-anak. Tapi kami berjanji akan menggantinya dalam bentuk yang lain(biidznillah).

Kembali pada kiriman uang.
Sampai saat ini belum ada informasi resmi dari pihak perusahaan asuransi tersebut berkenaan dengan kiriman uang yang menimbulkan banyak tanya di hati kami itu. Justru dari agent yang memproses asuransilah akhirnya kami tahu kebenaran uang yang sudah membuat saya resah, gelisah, gundah, gulana karena secara tiba-tiba masuk ke rekening saya tanpa pemberitahuan apapun.

Sekarang saya tak perlu resah, gelisah, gundah, gulana lagi memikirkan kehalalan uang tersebut untuk kami, tak perlu memikirkan kalau-kalau uang tersebut adalah uang hibahan dari aliran dana tak jelas dan tak halal sehingga menyebabkan saya terseret kasus yang sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan saya (jauh banget yak mikirnya?). Bersyukur karena ternyata uang itu adalah uang kami sendiri yang insyaAlloh berkah, halal dan thoyib. amiin. Sudah tak penasaran lagi kan temans? sama seperti kami…. :mrgreen:

Setiap yang Berjiwa Pasti akan Merasakan Mati

Pagi ini, ketika melihat berita di stasiun televisi swasta yang hampir sebagian besar isi berita adalah kecelakaan lalin (lalu lintas). Miris sekali, banyak sekali kejadian kecelakaan lalin mulai dari Nangroe Aceh Darussalam, beberapa di wilayah Jawa, lalu manokwari dan yang lainnya yang sedikitnya memakan korban tewas 1 orang. Sedih dan mawas, sedih menyaksikan orang-orang yang menjadi korban kecelakaan yang pastinya tak mereka inginkan sebagai akhir dari kehidupan mereka. Dan mawas, karena kejadian seperti ini harus menjadi pengingat kepada kita bahwa kita akan mengalami kematian juga, bahwa kita punya pilihan untuk menjadi baik dan mendapat balasan yang baik kelak atau sebaliknya, na’udzubillah min dzalik. Semoga amalan baik kita lebih banyak ketimbang amalan buruk yang pernah kita lakukan.

Ada awal ada akhir, ada kehidupan ada kematian. Seperti Firman Alloh dalam Qs. Ali Imron(3) ayat 185 “Qullu nafsin dzaaiqotul maut” yang artinya, “tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati”. Kapanpun dan dimanapun kita, jika sudah tiba masanya kita harus kembali kepada-Nya maka tak akan ada yang bisa menghalangi. Bersembunyi di manapun kita yang orang lain tak bisa temukan, tapi jika masa itu tiba, malaikatul mautpun akan datang menjemput kita. Harta, jabatan, istri, anak, orang tua, dan sahabat tak akan mampu menghalangi. Sebaliknya, jika Alloh belum berkehendak mencabut nyawa seseorang, apapun yang dilakukan untuk menghilangkan nyawa seseorang maka tak akan membuatnya menemui ajal.

Seperti salah satu kejadian kecelakaan lalu lintas yang kulihat di televisi pagi ini, tabrakan beruntun antara mobil minibus dengan dua truk pengangkut dikarenakan pecah ban mobil minibus. Kemudian teringat kejadian 3 minggu yang lalu, sepulangnya dari belanja di Pekalongan peristiwa unpredictable itu terjadi. Mobil yang kami (aku, abi dan anak-anak) tumpangi mengalami pecah ban di daerah Comal-masih seputaran Pekalongan, sedang hujan deras dan mobil melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Alhamdulillah kami semua selamat tanpa kekurangan apapun. Meskipun, merana berada di tepi jalan sendirian, jauh dari tukang tambal ban dan minimnya ketrampilan darurat tentang permobilan tapi kami masih sangat bersyukur dengan keadaan kami yang tak mengalami kejadian buruk yang sangat tak diinginkan itu.

Seperti biasa, kami memilih perjalanan malam untuk menghindari ramainya kendaraan yang akan menuju Jakarta di hari Minggu. Hujan deras yang turun selepas maghrib mengiringi perjalanan kami bertolak ke Jakarta. Lelahnya anak-anak setelah seharian bermain membuat mereka lebih cepat tidur dari biasanya,apalagi ketika dalam kendaraan, bersyukur karena sebelum berangkat mereka sudah makan. Di tengah derasnya guyuran hujan dan lajunya kendaraan yang saling mendahului, tiba-tiba terdengar suara krosak, seperti suara kantong plastik besar yang berisi banyak barang sedang terjatuh dari suatu ketinggian (analogi yang aneh! tapi memang begitu kok, bener deh). kupikir suara kantung plastik yang berisi baju jatuh dari jok belakang yang mungkin tak sengaja tertendang oleh Fathan sewaktu ia beralih posisi tidur. Tapi tidak, tak ada barang apapun di jok maupun di bawah jok tempat Fathan tidur, semua barang kami tata di belakang jok belakang. Mobil masih melaju dan aku mencoba memeriksa tiap pintu yang belum tertutup rapat sehingga memungkinkan pintu terbuka ketika mobil terguncang keras dan menyebabkan kantong itu jatuh. Lagi-lagi, pintu-pintu samping aman, pintu belakang yang coba kudorong dengan payung untuk memastikan pintu itu terbuka juga diam tak bergerak menandakan bahwa pintu itu tertutup rapat. Lalu apa??? Setelah diskusi sebentar dengan abi, akhirnya kami sepakat berhenti dan menepikan mobil untuk memastikan apa yang terjadi. Hujan deras, gelap dan tak ada prerangan apapun di tempat abi memarkir kendaraan tersebut, hanya sorot lampu kendaraan yang bergantian melewati kami.

Abi turun dan mendapati ban mobil belakang yang pecah. Sendiri, abi turun mencari bantuan, aku menjaga anak-anak yang tidur pulas di mobil. Atas petunjuk seorang polisi yang sepertinya habis patroli itu, abi bergegas ke tempat yang ditunjuk, tapi nihil, tukangnya tak bersedia karena tak punya alatnya, yang ada hanya alat untuk kendaraan besar saja. Kembali bertanya ke pak Polisi yang tadi, dan malah ia yang dengan mobil patrolinya melaju menembus hujan untuk mencari seorang tukang tambal ban yang kami butuhkan. Setelah agak lama dan si bapak polisi belum datang juga, saya baru teringat untuk menghubungi pihak rental yang mobilnya kami pinjam. Mencoba memberi kabar dan meminta informasi seputar keadaan darurat yang saya alami ini. Setelah informasi keberadaan alat yang dimaksud itu ketemu, ia billang coba aja dulu gampang kok, dan ternyata kami memang gak tau cara menggunakan pengungkit untuk melepas ban yang pecah dan gak tau cara melepas ban serep yang disimpan di bawah mobil. Payah dan nekat. hehe.

Tak berselang lama, pak polisi tadi datang bersama tukang servis dan Alhamdulillah beres juga masalah kami, makasi semua atas bantuannya. Dan bonusnya, abi jadi tau cara untuk mengatasi ban pecah. Ada hikmah di setiap kejadian.

Liburan Sederhana Kami

image

Beberapa pekan lalu adalah jadualnya liburan bagi anak sekolah yang juga bertepatan dengan beberapa hari libur nasional. Libur panjang seperti saat ini pasti ditunggu-tunggu kehadirannya oleh seluruh orang tua dan anak-anak yang sekolah. Pasalnya, libur panjang berarti liburan. Dan bagiku yang anaknya belum sekolah apakah ikut merasakan pentingnya hari libur? Oh tentu iya. Aku pikir semua juga perlu liburan, istirahat, bersenang-senang, untuk menyegarkan kembali semangat dan pikiran yang mungkin penat, jenuh, capek setelah sekian waktu disibukkan dengan berbagai aktivitas rutin harian.

Liburan lalu, aku berencana mengajak anak-anak pulang kampung atas ajakan salah seorang kakakku. Namun sepertinya belum diijinkan Alloh untuk pulang kampung, beberapa pesanan seragam batik yang masih belum selesai diurus dan beberapa yang lain akan selesai di proses dan diambil di akhir Desember. Yang artinya aku tidak bisa melanjutkan rencana untuk pulang kampung, dan kupikir juga tak begitu bijak meninggalkan suami yang sedang sibuk tugas akhir tahun juga harus lembur sampai dini hari dan masih berlanjut sabtu minggu hingga tiba hari senin bekerja kembali seperti biasanya. Sudah seharusnya aku dan anak-anak memberikan support untuknya, meskipun kami juga ingin libur, dan kurasa suamiku juga merasakan kepenatan yang luar biasa setiap menghadapi akhir tahun. Libur tetaplah libur dan tugas akhir tahun tetap juga harus diselesaikan.

Aku memberi pengertian kepada anak-anak,terlebih Fathan yang sudah mengerti arti jalan-jalan di saat abi libur. Tiba kesempatan libur nasional, tak ada halangan untuk jalan-jalan dan lemburan suami sedikit longgar. Rencana mau belanja baju anak-anak yang sudah kekecilan, pinginnya di deket rumah saja agar abi cepat istirahat lagi. Tapi telepon dari kantor abi, meminta abi untuk datang ke kantor membantu temannya yang lemburannya belum usai. Yaa sudahlah, demi memenuhi janji kepada anak-anak dan abi yang minta ditemani lembur, jadilah kami jalan-jalannya ke kantor abi saja. Alhamdulillah, abi semangat ditungguin anak isteri, anak-anak juga senang bisa main sama umi sambil sesekali “mengganggu” kerja abi. Sorenya abi ijin sebentar mengantarkan kami ke pasar dekat kantor berbelanja baju anak-anak. Alhamdulillah semua senang dan waktunya pulang, tinggal tidur saja.

Akhir pekannya, suami dan aku datang ke hajatan keluarga di Ciledug, dan untuk mengenalkan anak-anak pada keluarga jauh yang belum pernah bertemu agar tali silaturrahim tetap terjaga. Puas kangen-kangenan sambil makan-makan, kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Putri, Bogor yang sejatinya lebih dekat dari rumah tinggal kami.

image

Di gunung Putri adalah tempat tinggal sahabatku sejak SMP. Ini kali keduanya kami bertemu setelah aku lulus SMU, dan ini pertama kalinya aku ke rumahnya. Kangen sekali rasanya, meskipun hampir setiap hari kami saling menelepon. Fathan dan Azizah senang sekali mendapat keluarga dan teman baru, asik sekali mereka bermain sampai-sampai tak mau diajak pulang.

Itulah cerita liburan kami kali ini.Liburan yang sederhana tapi sungguh sangat berkesan bagi aku, abi dan anak-anak. Rasanya lebih semangat dan fresh kembali,semoga berkah. amiin.

Karya ini saya tulis dalam rangka turut meramaikan hajatan Liburan Seru:
Say No to Mall
!

Posted from WordPress for Android

Baca lebih lanjut

Bermain Ke Kantor Abi

Masih bercerita tentang aktivitas anak-anak. Akhir Desember lalu, aku dan anak-anak sedang dilanda kebosanan karena setiap hari hanya berada di rumah tanpa ada agenda jalan-jalan (ini mah emaknya yang doyan jalan2), ditambah dengan kesibukan abi setiap akhir tahun yang tidak kenal tanggal merah sekalipun. Setelah berunding dengan Abi yang juga ingin ditemani lembur, jadilah kuputuskan mengajak anak-anak “bermain” ke kantor Abi.

……..More

Pagi yang cerah mengiringi keberangkatan kami, mampir sarapan di warung tenda tepi jalan dan tiba-tiba gerimis. Berangsur reda menyisakan titik-titik hujan dan mendung yang menggelayut, kami tetap melanjutkan perjalanan sampai akhirnya breesssss… hujan deras sekali yang tiba-tiba mengguyur memaksa kami berhenti sejenak dan berteduh di pom bensin terdekat sampai hujan reda. Tak sampai setengah jam menunggu dan hari kembali cerah, Alhamdulillah siap melanjutkan perjalanan.

Sekalipun kali pertamanya aku datang ke kantor baru Abi, tapi sepertinya aku sudah lama mengenal temen-temen Abi, sebagian besar mereka adalah ibu-ibu dan sambutannya sangat hangat layaknya teman kantor sendiri. Anak-anak sepertinya juga nyaman dan tak terlihat rewel, mungkin karena suasana baru dan mereka bisa main puas main sama umi tanpa harus diganggu dengan pekerjaan harian umi, mengurus rumah dan berjualan. Selain main dan lari ke sana kemari Fathan juga mengajak adiknya latihan narsis seperti kegemaran yang diturunkan umi, berfoto ria, inilah gambar yang aku dan Fathan ambil selama di kantor Abi.

image

Ibarat kata sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Menemani Abi lembur, melihat kantor Abi untuk pertama kalinya setelah 3 bulan kepindahannya, dan belanja… tadaa emang emak-emak!! Karena memang kantor Abi berada tak jauh dari pusat perbelanjaan pasar mester jatinegara, sekalian saja belanja baju anak-anak yang sudah mulai kesempitan dan kependekan. Tak ketinggalan pula, mainan. Aku memang suka sekali belanja tapi jujur paling sebel kalau harus berlama-lama, dan negatifnya… aku sering sekali dapet barang reject. huft, efek males milih lama-lama jadi gak teliti. Anyway, selesai belanja kami meluncur kembali ke kantor Abi sampe lepas sholat maghrib dan menyudahi pekerjaan untuk segera pulang. Hampir seperempat perjalanan kami ditemani temaramnya lampu di sepanjang jalur Banjir Kanal Timur atau BKT yang merupakan proyek pemprov DKI yang menurut info yang kudengar, telah menelah biaya ratusan triliyun…. widih banyak banget yaak.
Inilah penampakan BKT di malam hari.

image

image

Sayang hasil jepretannya kurang bagus ya.

Posted from WordPress for Android

Piknik BIMBA a i u e o

Awal Desember lalu tempat kursus Fathan, BIMBA a i u e o mengadakan piknik atau rekreasi ke Mekarsari sekaligus pesta BIMBA dalam rangka menyambut hari ibu yang diikuti BIMBA a i u e o se-Jabodetabek yang dimeriahkan dengan lomba mewarnai, pentas seni dan seminar oleh Kak Seto. Fathan sangat antusias untuk ikut serta dalam rekreasi ini. Dari Bekasi, Fathan, Azizah dan aku naik bis bersama rombongan, sedang abi nyusul beberapa jam sesudahnya supaya tak kelamaan di sana nantinya. Perjalanan Bekasi Cileungsi yang sedianya bisa kami tempuh dengan waktu 45 menit dengan kecepatan rata-rata, terpaksa harus kami lalui 2 jam lebih lama dari waktu yang seharusnya dikarenakan macet oleh kendaraan rombongan BIMBA yang akan menuju Mekarsari. Anak-anak yang sudah bangun sejak Subuh untuk persiapan yang hampir semuanta tak sempat sarapan itu sudah tampak kelelahan dan mulai rewel tak terkecuali Fathan dan Azizah.

Setibanya di sana. Suasana meriah acara pentas yang sedari tadi sudah dimulai dengan cuaca yang mendung disertai rintik hujan mrmbuat sing itu tidak terik, sayangnya angin yang bertiup lumayan kencang.

image

Usai kegiatan pentas, dilanjutkan seminar dan diakhiri dengan pembagian piala untuk para pemenang. Fathan dan Azizah tampak senang mungkin karena banyak teman yang seumuran, ya meskipun tak ikut lomba-lombanya Fathan sepertinya menikmati berada di sana, mungkin karena ramai dan banyak sekali penjual mainan. Berasa pindah tempat main saja.

image

image

Karena sudah hampir jam 1 dan tempat sholat yang jauh, kami memutuskan pamit pulang duluan dan tak menunggu rombongan bis. Dengan menaiki kereta kami berangkat menuju stasiun depan tempat pintu masuk dan mushola berada, gratis karena masih termasuk tiket dari BIMBA. Usai sholat dzuhur, bersama Fathan pertama kalinya aku menjajal kereta luncur yang relnya di atas bukan di tanah tepat berada di sebelah kiri tempat pertunjukan orangutan yang bisa bicara. Tiba giliran kami, dengan berbekal seat belt perorangan dan bersama yang keduanya sangat kendor membuatku sama sekali tak percaya dengan keamanannya. Setiap melewati tikungan, keranjang tempat kami duduk bergoyang-goyang seperti mau jatuh dan hanya Alloh yang kusebut sambil memeluk erat Fathan yang juga berpegangan erat padaku. Antara takut jatuh dan takut kalau Fathan jatuh, ternyata susah juga membangun trust pada permainan ini… huft, lega sekali saat kereta luncur berhenti, dan aku kapok… .