Ayo Sekolah


Memiliki anak yang baru saja masuk sekolah ternyata tak semudah yang kupikirkan. Dalam pikiranku, hanya mengantar jemput anak sekolah, menemaninya belajar/mengulang kembali apa yang telah diajarkan di sekolah sebagai pemantapan, dan satu lagi, berkurang satu orang yang “membantuku” mengacak-acak lemari es dan lemari makan ketika aku memasak di dapur.

Apa yang kulewati ternyata tak sepenuhnya mudah seperti dalam pikiranku.

Sejak awal, Abi dan umi sepakat untuk menyekolahkan Fathan di sekolah Islam Terpadu dengan tujuan membekali Fathan dasar-dasar keIslaman yang kuat, serta memantapkan dan mengembangkan pendidikan yang telah kami ajarkan di rumah. Untuk itu, aku mencoba mengumpulkan informasi beberapa sekolah Islam Terpadu sebelum kami memutuskan ke mana kami harus menitipkan Fathan untuk belajar dan bersosialisasi di sana nantinya. Mulai dengan mengumpulkan informasi masing-masing sekolah yang menjadi , juga menggali pengetahuan dari pengalaman orang-orang dekat dan kenalan yang telah menyekolahkan anak-anak mereka di beberapa sekolah yang menjadi pilihan kami.

Tiap anak itu berbeda, sehingga tidak bisa menganggap semua anak itu sama. Ada anak yang pendiam dan penurut, ada pula anak yang aktif namun penurut, ada anak yang pendiam namun semaunya dan ada pula yang aktif dan semaunya. Perbedaan karakter inilah yang membuat penanganan pada tiap anak menjadi berbeda pula. Fathan termasuk tipe anak yang aktif, namun pada tempat yang baru ia bisa sangat pendiam bahkan pemalu dan tidak pede. Dan kembali menjadi sangat aktif ketika ia sudah merasa nyaman berada di sana. Untuk itulah Fathan butuh sekolah yang tepat sebagai tempat ia belajar segala hal yang baru dan bersosialisasi dengan teman-temannya nanti.

Dari banyak informasi yang diperoleh dan diskusi bertiga, kami sampai pada satu pilihan sekolah. Dan untuk memastikan kesediaan Fathan sekolah di sana, kami mengajaknya untuk melihat sekolah tersebut sebelum akhirnya mendaftar dengan keinginan Fathan sendiri.

Masuk sekolah tiba.
Setelah melalui wawancara dan tes ini itu(kayak masuk kerja aja ya…), juga menyelesaikan segala keperluan administrasi dan menerima seragam. Tibalah saatnya Fathan sekolah.

**Perlu diketahui, tes dan wawancara ini dilakukan untuk melihat kemampuan anak dan bagaimana keinginan orang tua atas anaknya selama ia belajar di sekolah nantinya. Juga untuk memberi rekomendasi kepada orang tua dari pihak sekolah agar orang tua bisa memahami keinginan dan kemampuan anaknya. ** like it^_^

Pekan Pertama Sekolah
Hari yang sangat mendebarkan pun tiba, hari pertama sekolah. Fathan berangkat dengan senang hati ke sekolah dengan diantar abi dan dedek azizah, tanpa umi, karena umi harus kerja(bahasa Fathan kalau uminya mau cari dagangan). Menurut cerita abi. Saat tiba di sekolah, teman-teman Fathan sudah berbaris, dan Fathan hanya menangis karena terkejut, ternyata temannya banyak sekali. Ia tak mau baris dan terus menggandeng abi, bahkan saat di kelas, ia tak mau lepas dari sandaran abi, masih dengan menangis. Dan Fathan satu-satunya anak yang ditungguin di dalam kelas, spesial banget kan?

Hari pertama sekolah, masuk jam 8 dan pulang jam 10. Bersyukur pihak sekolah mengijinkan orangtua menunggu anaknya meskipun hanya di hari pertama sekolah bagi anak yang baru masuk. Jadi selama dua jam berada di sekolah, Fathan tak berhenti menangis dan tak lepas dari pelukan abi. Sedang Azizah, sudah sibuk sendiri mengikuti pelajaran menyanyi di kelas mas-nya. ***salutttt buat abi, atas kesabarannya*** hihi, meskipun selama dua jam hp ku terus saja di telepon abi yang bingung akan tangisan Fathan dan bagaimana cara mendiamkannya. Tapi, asli salut banget buat abi.

Karena khawatir, umi tidak jadi kerja, dan pulang untuk menenangkan Fathan. Fathan tidak mau sekolah lagi.

Hari kedua sekolah, bangun pagi dan sholat subuh ia langsung duduk di depan tv menonton film kartun, tak mau mandi dan pakai seragam sekolah. Aku rayu dengan sarapan dulu sambil bercerita betapa enaknya sekolah itu. Usai makan ia setuju mandi tapi tidak mau sekolah. Aku terus saja merayunya sampai benar-benar setuju mandi dan pakai seragam sekolah dengan catatan berangkatnya setelah film anak selesai. Waaa… Bisa telat, sekolah masuk jam 8, perjalanan 15 menit, sedang film kartun  selesai jam 8.30. Aku tidak mengiyakan, aku sibuk mencari cara untuk sedikit memaksa Fathan agar tidak terus menonton, sambil kukatakan bahwa berangkatnya saat ganti iklan dan ia setuju. Tapi sampai kartun dan iklan ganti 2 kali, ia masih tak mau beranjak dari depan televisi. Akhirnya, aku memutuskan aliran listrik dari saklar meteran listrik agar ia tidak tahu kalau televisinya mati karena aku(hihi jahatnya). Dan iapun beranjak dari depan televisi untuk berangkat ke sekolah.

Aku mengantarnya ke sekolah dengan motor. Sampai di gerbang, ia hanya menangis, ia bilang kalau tidak mau sekolah dengan alasan, takut tidak kebagian mainan, takut pintunya dikunci, takut ditinggal umi, dsb. Yang pada dasarnya ia takut dan belum pede. Sambil menunggunya, aku terus meyakinkan bahwa ia bisa melewati semuanya dan tidak perlu menangis. Perlahan-lahan ia berhenti menangis dan mulai sedikit-sedikit ikut menyanyi masih sambil terus bersandaran hingga waktu pulang. Hari ke tiga, aku dipersilahkan menunggu di luar pagar yang dikunci. Esoknya, Fathan tak bersedia sekolah, kebetulan libur awal puasa ramadhan. Jadi, lumayan lega. Tapi harus mencari cara supaya, senin nanti Fathan tetap mau berangkat sekolah.

Karena puasa, waktu sekolah Fathan masih sampai jam 10. Fathan tetap tak mau berangkat sekolah, jadi dirayulah oleh umi. Dia selalu meminta syarat ketika ia setuju berangkat sekolah, entah membeli mainan, kue atau juga meminta umi menunggu di dalam kelas. Agar mau berangkat dulu umi mengiyakan untuk membeli satu macam mainan saja sepulang sekolah, dengan mengingatkan padanya bahwa umi tidak bisa selalu membelikannya mainan setiap pulang sekolah. Esoknya ia meminta mainan lagi, lalu aku bilang yang seribuan di abang-abang lewat boleh dan ia mau. Bukan harga yang jadi pertimbanganku, tapi jika ia sering meminta mainan agar mau sekolah maka akan jadi kebiasaan.

Esoknya lagi, ia kembali melakukan hal yang sama, minta mainan. Lalu kukatakan padanya, daripada untuk membeli mainan lebih baik membeli makanan, karena mainan yang kemaren dia beli di abang-abang fundogh, terbengkalai karena dia gak bisa memainkannya. Xixi jadi punya alasan gak beli mainan lagi…. Jadi, beli lah kue sepulang sekolah.

Meskipun Fathan mau sekolah, ia tetap saja menangis ketika diminta melakukan sesuatu tapi ia merasa tidak bisa. Hal inilah yang kupakai alasan untuk menghentikan kebiasaanya membeli sesuatu sebagai syarat ia mau sekolah. Ia bisa membeli kue jika ia sudah tak menangis lagi di sekolah. Karena sampai dua pekan ia masih saja  menangis, sampai kebiasaan meminta sesuatu itu hilang dan ia tetap mau sekolah hingga hampir tiga bulan ini.

Satu hal lagi yang jadi kekhawatiran Fathan adalah, ia takut ditinggal umi karena pintu sekolah dikunci. Pihak sekolah memang punya aturan bahwa tidak ada orang tua yang menunggu di dalam lingkungan sekolah selama waktu belajar, untuk melatih kemandirian anak. Jadi, selama waktu belajar semua menjadi tanggung jawab guru. Tentu ini adalah kemudahan buat orangtua terutama ibu-ibu yang ingin menyelesaikan pekerjaan rumah selama anak-anak sekolah. Namun bukan hal yang mudah membujuk Fathan agar mau ditinggal selama ia berada di sekolah. Di hari ke empat Fathan masih tetap dipaksa agar mau masuk tanpa umi dengan catatan umi tunggu di warung sebelah sekolah. Begitu seterusnya hingga beberapa hari sampai akhirnya ia masuk ke sekolahan tanpa dipaksa dengan mengatakan umi di warung ya. Perlahan-lahan memberi pengertian padanya, bahwa umi harus pulang setelah mengantarnya ke sekolah, untuk masak dan beresin rumah. Tidak langsung mau, tapi lama kelamaan iapun mengerti. Syukur Alhamdulillah.

Menjadi seorang ibu atau guru harus pandai-pandai mencari cara mengarahkan anak/anak didik tanpa harus berbohong dan bersikap keras.

Dan kini, Fathan sudah dengan senang hati melewati jadual paginya sebelum berangkat sekolah. Bangun pagi, sholat subuh, mandi, pakai seragam dan sarapan. Setelah diantar ke sekolah, umi pun bisa langsung pulang untuk membereskan pekerjaan rumah dan kembali lagi nanti untuk menjemputnya pulang pada jam 11.30 siang.

Saat perjalanan pulang, ia sudah bercerita banyak hal yang terjadi selama di sekolah. Mengajari umi menyanyi dan banyak hal…. Xixi…giliran dia yang ngajarin umi, nyanyi, ngasi bintang di gambaran umi(ini mah kebalik ya…xixi).
Bersambung.
*_+ …. ^_^

9 thoughts on “Ayo Sekolah

  1. Ass. Maunaaa……..masih inget gak slama bunda? Hayyyooo…inget gak nih? Mudah2an masih inget, apalagi kalo udah lihat foto profile bunda, hehehehehe………Udah lama banget ya gak pernah komunikasi nih sejak pertemuan kita di Blok L Dukuh Zamrud. Kalo bunda udah gak ada lagi cerita tentang “anak”, yang ada sekarang cerita tentang “cucu”. Kebahagiaan yang sama mungkin melihat cucu dengan penuh semangat bangun di pagi hari siap-siap untuk sekolah. Kalo mau tidur bunda yang jadi muridnya, hehehehehe………..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s