Setiap yang Berjiwa Pasti akan Merasakan Mati


Pagi ini, ketika melihat berita di stasiun televisi swasta yang hampir sebagian besar isi berita adalah kecelakaan lalin (lalu lintas). Miris sekali, banyak sekali kejadian kecelakaan lalin mulai dari Nangroe Aceh Darussalam, beberapa di wilayah Jawa, lalu manokwari dan yang lainnya yang sedikitnya memakan korban tewas 1 orang. Sedih dan mawas, sedih menyaksikan orang-orang yang menjadi korban kecelakaan yang pastinya tak mereka inginkan sebagai akhir dari kehidupan mereka. Dan mawas, karena kejadian seperti ini harus menjadi pengingat kepada kita bahwa kita akan mengalami kematian juga, bahwa kita punya pilihan untuk menjadi baik dan mendapat balasan yang baik kelak atau sebaliknya, na’udzubillah min dzalik. Semoga amalan baik kita lebih banyak ketimbang amalan buruk yang pernah kita lakukan.

Ada awal ada akhir, ada kehidupan ada kematian. Seperti Firman Alloh dalam Qs. Ali Imron(3) ayat 185 “Qullu nafsin dzaaiqotul maut” yang artinya, “tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati”. Kapanpun dan dimanapun kita, jika sudah tiba masanya kita harus kembali kepada-Nya maka tak akan ada yang bisa menghalangi. Bersembunyi di manapun kita yang orang lain tak bisa temukan, tapi jika masa itu tiba, malaikatul mautpun akan datang menjemput kita. Harta, jabatan, istri, anak, orang tua, dan sahabat tak akan mampu menghalangi. Sebaliknya, jika Alloh belum berkehendak mencabut nyawa seseorang, apapun yang dilakukan untuk menghilangkan nyawa seseorang maka tak akan membuatnya menemui ajal.

Seperti salah satu kejadian kecelakaan lalu lintas yang kulihat di televisi pagi ini, tabrakan beruntun antara mobil minibus dengan dua truk pengangkut dikarenakan pecah ban mobil minibus. Kemudian teringat kejadian 3 minggu yang lalu, sepulangnya dari belanja di Pekalongan peristiwa unpredictable itu terjadi. Mobil yang kami (aku, abi dan anak-anak) tumpangi mengalami pecah ban di daerah Comal-masih seputaran Pekalongan, sedang hujan deras dan mobil melaju dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Alhamdulillah kami semua selamat tanpa kekurangan apapun. Meskipun, merana berada di tepi jalan sendirian, jauh dari tukang tambal ban dan minimnya ketrampilan darurat tentang permobilan tapi kami masih sangat bersyukur dengan keadaan kami yang tak mengalami kejadian buruk yang sangat tak diinginkan itu.

Seperti biasa, kami memilih perjalanan malam untuk menghindari ramainya kendaraan yang akan menuju Jakarta di hari Minggu. Hujan deras yang turun selepas maghrib mengiringi perjalanan kami bertolak ke Jakarta. Lelahnya anak-anak setelah seharian bermain membuat mereka lebih cepat tidur dari biasanya,apalagi ketika dalam kendaraan, bersyukur karena sebelum berangkat mereka sudah makan. Di tengah derasnya guyuran hujan dan lajunya kendaraan yang saling mendahului, tiba-tiba terdengar suara krosak, seperti suara kantong plastik besar yang berisi banyak barang sedang terjatuh dari suatu ketinggian (analogi yang aneh! tapi memang begitu kok, bener deh). kupikir suara kantung plastik yang berisi baju jatuh dari jok belakang yang mungkin tak sengaja tertendang oleh Fathan sewaktu ia beralih posisi tidur. Tapi tidak, tak ada barang apapun di jok maupun di bawah jok tempat Fathan tidur, semua barang kami tata di belakang jok belakang. Mobil masih melaju dan aku mencoba memeriksa tiap pintu yang belum tertutup rapat sehingga memungkinkan pintu terbuka ketika mobil terguncang keras dan menyebabkan kantong itu jatuh. Lagi-lagi, pintu-pintu samping aman, pintu belakang yang coba kudorong dengan payung untuk memastikan pintu itu terbuka juga diam tak bergerak menandakan bahwa pintu itu tertutup rapat. Lalu apa??? Setelah diskusi sebentar dengan abi, akhirnya kami sepakat berhenti dan menepikan mobil untuk memastikan apa yang terjadi. Hujan deras, gelap dan tak ada prerangan apapun di tempat abi memarkir kendaraan tersebut, hanya sorot lampu kendaraan yang bergantian melewati kami.

Abi turun dan mendapati ban mobil belakang yang pecah. Sendiri, abi turun mencari bantuan, aku menjaga anak-anak yang tidur pulas di mobil. Atas petunjuk seorang polisi yang sepertinya habis patroli itu, abi bergegas ke tempat yang ditunjuk, tapi nihil, tukangnya tak bersedia karena tak punya alatnya, yang ada hanya alat untuk kendaraan besar saja. Kembali bertanya ke pak Polisi yang tadi, dan malah ia yang dengan mobil patrolinya melaju menembus hujan untuk mencari seorang tukang tambal ban yang kami butuhkan. Setelah agak lama dan si bapak polisi belum datang juga, saya baru teringat untuk menghubungi pihak rental yang mobilnya kami pinjam. Mencoba memberi kabar dan meminta informasi seputar keadaan darurat yang saya alami ini. Setelah informasi keberadaan alat yang dimaksud itu ketemu, ia billang coba aja dulu gampang kok, dan ternyata kami memang gak tau cara menggunakan pengungkit untuk melepas ban yang pecah dan gak tau cara melepas ban serep yang disimpan di bawah mobil. Payah dan nekat. hehe.

Tak berselang lama, pak polisi tadi datang bersama tukang servis dan Alhamdulillah beres juga masalah kami, makasi semua atas bantuannya. Dan bonusnya, abi jadi tau cara untuk mengatasi ban pecah. Ada hikmah di setiap kejadian.

2 thoughts on “Setiap yang Berjiwa Pasti akan Merasakan Mati

  1. Memang berita akhir² ini sangat miris tentang maslah transportasi Kak, entah siapa yang salah, berhati² dan mengalah disaat berlalu lintas mungkin bisa menjadi solusi,,

    Alhamdulillah maslah kendaraan Kakak teratasi…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s