Piknik BIMBA a i u e o


Awal Desember lalu tempat kursus Fathan, BIMBA a i u e o mengadakan piknik atau rekreasi ke Mekarsari sekaligus pesta BIMBA dalam rangka menyambut hari ibu yang diikuti BIMBA a i u e o se-Jabodetabek yang dimeriahkan dengan lomba mewarnai, pentas seni dan seminar oleh Kak Seto. Fathan sangat antusias untuk ikut serta dalam rekreasi ini. Dari Bekasi, Fathan, Azizah dan aku naik bis bersama rombongan, sedang abi nyusul beberapa jam sesudahnya supaya tak kelamaan di sana nantinya. Perjalanan Bekasi Cileungsi yang sedianya bisa kami tempuh dengan waktu 45 menit dengan kecepatan rata-rata, terpaksa harus kami lalui 2 jam lebih lama dari waktu yang seharusnya dikarenakan macet oleh kendaraan rombongan BIMBA yang akan menuju Mekarsari. Anak-anak yang sudah bangun sejak Subuh untuk persiapan yang hampir semuanta tak sempat sarapan itu sudah tampak kelelahan dan mulai rewel tak terkecuali Fathan dan Azizah.

Setibanya di sana. Suasana meriah acara pentas yang sedari tadi sudah dimulai dengan cuaca yang mendung disertai rintik hujan mrmbuat sing itu tidak terik, sayangnya angin yang bertiup lumayan kencang.

image

Usai kegiatan pentas, dilanjutkan seminar dan diakhiri dengan pembagian piala untuk para pemenang. Fathan dan Azizah tampak senang mungkin karena banyak teman yang seumuran, ya meskipun tak ikut lomba-lombanya Fathan sepertinya menikmati berada di sana, mungkin karena ramai dan banyak sekali penjual mainan. Berasa pindah tempat main saja.

image

image

Karena sudah hampir jam 1 dan tempat sholat yang jauh, kami memutuskan pamit pulang duluan dan tak menunggu rombongan bis. Dengan menaiki kereta kami berangkat menuju stasiun depan tempat pintu masuk dan mushola berada, gratis karena masih termasuk tiket dari BIMBA. Usai sholat dzuhur, bersama Fathan pertama kalinya aku menjajal kereta luncur yang relnya di atas bukan di tanah tepat berada di sebelah kiri tempat pertunjukan orangutan yang bisa bicara. Tiba giliran kami, dengan berbekal seat belt perorangan dan bersama yang keduanya sangat kendor membuatku sama sekali tak percaya dengan keamanannya. Setiap melewati tikungan, keranjang tempat kami duduk bergoyang-goyang seperti mau jatuh dan hanya Alloh yang kusebut sambil memeluk erat Fathan yang juga berpegangan erat padaku. Antara takut jatuh dan takut kalau Fathan jatuh, ternyata susah juga membangun trust pada permainan ini… huft, lega sekali saat kereta luncur berhenti, dan aku kapok… .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s