Banjir Kiriman


Hujan yang Alloh turunkan ke bumi adalah rahmat. Sedikit atau banyak tetap membawa berkah di bagiannya masing-masing. Dan jika hujan yang deras menyebabkan banjir, itu adalah karena kesalahan kita (kita? elu kali…). Kita tidak atau kurang menjaga keseimbangan alam ini, berbagai kawasan yang merupakan tanah resapan air disulap menjadi mall-mall atau tempat hiburan yang lain juga rumah anggota dewan (jd inget waktu turun ke jalan melakukan aksi protes atas pembangunan matos dan perumahan anggota dewan, mahasiswa bareng ama beberapa dosen). Hal-hal kecil seperti kebiasaan membuang sampah, memisahkan antara sampah organik dan anorganik. Karena tidak semua tempat disediakan 2 atau 3 tong sampah untuk pmisahan antara sampah basah dan sampah kering juga pecah belah, maka perlu pembiasaan diri untuk melakukannya. Seperti halnya ketika kita di suatu tempat yang jauh dari tempat sampah, apa yang akan dilakukan dengan sampah sisa pemakaian kita, tisu, bungkus permen, bungkus makanan dan lain sebagainya? Dibuang begitu saja atau dibawa sementara waktu sampai ketemu tempat sampah. Jangan sampai kita berandil besar atas musibah yang menimpa orang lain. Kasihan kan, enaknya sendiri musibahnya bagi-bagi.

Seperti yang terjadi di rumah kami sekarang ini. Banjir kiriman yang melanda rumahku itu tak bisa kami bendung, tiba-tiba saja air dari saluran pembuangan air kamar mandi meluap dan memenuhi lantai kamar mandi dan dapur diikuti rombongan kecoa dan lipan. Setelah berhasil membantai habis kawanan perusak, baru tersadar ketika air hampir saja naik ke ruang tengah, aku hanya lemas dan memohon pada Alloh agar hujan segera reda sehingga tidak lebih parah lagi (kasian anak-anak kalau saja itu terjadi), karena tak ada yang bisa kuusahakan lagi selain harus memanggil tukang semprot air. Dan banjir kiriman itu adalah pertanda bak kontrol air pertama di dalam rumah kami sudah penuh dengan kotoran, adalah mainan Fathan yang sesekali dipakai main di kamar mandi satu persatu hanyut karena lubang pembuangan air kamar mandi memang tak berpenutup, juga beberapa sikat gigi Fathan yang imut-imut yang gampang banget terjun bebas ke dalam saluran pembuangan air sewaktu Fathan atau aku kurang pas mengembalikannya.

Jadi teringat peristiwa 3 tahun yang lalu, panik, takut juga khawatir tumpah ruah jadi satu ketika banjir seperti di atas memenuhi lantai 1 hingga lantai 3. Tiga bulan setelah kami pindah ke rumah ini, tepat seperti sekarang ini, hujan di penghujung tahun, hujan deras yang hanya setengah jam di sore hari mampu membnjiri seluruh ruangan di ruko ini. Sudah menjadi rutinitas, ketika hujan angin datang, aku mendudukkan Fathan (yang kala itu masih belum genap satu tahun) di pangkuanku dan mengajaknya berdoa dan mengumandangkan adzan berharap agar angin menjadi tenang dan hujan segera mereda. Belum seperempat jam kami duduk di anak tangga paling bawah, tiba-tiba sejumlah air mengalir menuruni anak tangga melewati tepi kami dan memenuhi lantai 1 saat itu juga disusul air dari dapur dan kamar mandi yang meluap menambah tinggi genangan air di lantai ini. Panik dan kaget melihat air yang tak tahu dari mana asalnya, akupun tak berlama-lama. Setelah meletakkan Fathan di tempat yang aman (saat itu belum punya stroller, sepeda baby ataupun box bayi) terpaksa ditaruh di ember hehe, secepat kilat menutup toko dan kerja rodi-pun dimulai. Mulai mengecek ke lantai 2, kedua kasur yang kuletakkan di lantai sudah mulai bergoyang ke kanan ke kiri pertanda kasur sudah basah kuyup, tinggi air 5 cm turut merendam keranjang baju siap seterika bersama isi-isinya tak ketinggalan perkakas lain yang melantai bersama air. Hiks. Naik ke lantai tiga, semua kardus-kardus berisi buku yang belum sempat aku buka dan rapikan itu juga sudah basah hingga ke atas dan menemukan penyebab banjir adalah saluran pembuangan air di lantai 3 tertutup kotoran dari atas genteng… . Air makin membanjiri seluruh ruangan, dan Fathan pun menjadi rewel karena tak kuijinkan turun dari ember untuk ikut main air, dia pikir uminya lagi berselancar air! Memulai dengan menguras air dari lantai 3, kain pel tak cukup untuk menguras air dengan segera, harus keluar dulu membeli serokan air atau entah apalah namanya. Ditemani tangisan Fathan, aku menyelesaikannya dalam waktu satu jam, menguras air dari lantai 3 ke lantai 2 lanjut ke lantai bawah dan meneruskannya ke saluran pembuangan. Belum lagi beres setelah memberdirikan 2 kasur basah yang subhanalloh, berat sekali kemudian dilanjutkan dengan mengepel semua lantai. Alhamdulillah tiba adzan maghrib seluruh kerepotan telah purna. Huft. Buka toko kembali… . Malam pas abi datang, eh malah nangis sangking capeknya…. Jadi agak trauma kalau hujan deras disertai angin kencang, dan sedih banget kalau liat di tv rumah yang sedang kebanjiran, terbayang repotnya. Hua hua

34 thoughts on “Banjir Kiriman

  1. Hua..hua…. ikut sedih membayangkan repotnya bebenah saat banjir. Dapur saya kemaren juga kebanjiran karena air masuk dari sela-sela dinding dan lantai. Saya terpaksa buru-buru menambalnya dengan semen dan pasir. Lalu menahannya dengan selembar kain supaya tambalan saya tidak terbawa air. Huhuhu……

  2. Ndak pernah mengetahui banjir namun tragis memang.. orang-orang membuang sampah lalu orang lain yang terkena dampaknya… betapa…. namun pada banjirpun Tuhan hendak mengirimkan pesan-pesan cintanya yang entah didefinisikan sebagai apa oleh makhluk-Nya

  3. Waduh…kebayang banget mbak repotnya, apalagi sampe tiga lantai begitu ya, dahsyat banget banjirnya ya mbak….

    Kami baru sekali ngalamin yang namanya banjir, eh tepatnya sih bukan banjir ya cuma air yang tergenang semata kaki yang keluar dari saluran pembuangan tapi cukup bikin repot apalagi waktu itu lagi persiapan mo pindahan jadi box-box yang udah berisi barang-barang jadi tergenang semua😦

    Semoga gak terulang lagi ya mbak…

  4. aku juga pernah kebanjiran dulu waktu masih tinggal di medan mba… persis dukanya seperti yang engkau alami mba…. capek banget deh menanggulanginya.. huft.

    semoga ga terulang lagi ya mba…

  5. ckckck. memang apapun yang berebihan itu selalu kurang baik ya. ga hujan, kemarau. hujan terus2an, banjir.

    semoga cepat kering🙂

    deidesuriya.blogspot.com

  6. Turut Prihatin Mauna..
    Ngebayangin mindahin barang2 nya itu loh..
    Di rumah aja ada bocor dikit langsung kelabakan ..

    Sama di Bandung juga setiap sore hujan aja..
    kemaren2 sering banget hujan es dan angin puting beliung..

  7. kebayang saya seperti apa rasanya
    wong pernah ngalamin hiks
    sekarang aja pun masih begitu,
    masih untung tidak pernah tinggal sendirian, jadi ada saja yang bisa disuruh untuk mberesin hasil bocor/banjir
    ah ga kebayang saya mah klo sendirian kayak Mauna😦

  8. Wah musim hujan mendatangkan berkah dan juga mendatangkan banjir yah mbak.. saya pun pernah mengalaminya dulu pas disurabaya banjir…lumpur dimana mana…rasanya seminggu bersih bersih nggak kelar kelar untung barang elektronik aman…
    yang sabar yah mbak🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s