Mandiri Finansial


Mandiri Finansial, menurut terjemahan kasar saya, yaitu mandiri dalam hal perolehan pendapatan. Mandiri Finansial tidak hanya berlaku untuk kaum laki-laki saja, tapi bisa juga untuk para perempuan yang masih gadis ataupun yang sudah berkeluarga.
Bagi saya pribadi, mandiri finansial sangat penting untuk perempuan meskipun tidak wajib. Dengan memiliki pendapatan sendiri perempuan bisa lebih mandiri dan bertanggung jawab atas keluar-masuknya keuangan.

Menyambung tulisan yang sebelumnya tentang, Kematian Bisa Datang Sewaktu-Waktu. Kematian bisa saja datang sewaktu-waktu tanpa memilih usia ataupun jenis kelamin. Tidak selalu yang tua lebih dahulu menjumpai kematiannya, begitu juga dengan jenis kelamin. Bagi kita yang sudah menikah, tak ada jaminan bahwa diantara kita dan pasangan kita bisa mati bersama atau juga lebih dahulu kita (perempuan), Bagaimana kalau yang meninggalkan kita adalah pasangan (suami) terlebih dahulu? Menikah lagi? Saya pikir, sebagian besar perempuan akan menjawab, tidak. Mengapa? Karena (menurut saya, hihihi ga valid banget) menikah lagi bukan satu-satunya solusi. Lebih baik mempersiapkan untuk masa depan kita dan anak-anak kita, daripada tiba-tiba kita dikagetkan dengan kenyataan harus menghadapi kehidupan ini sendiri tanpa pasangan yang menemani membesarkan dan mendidik anak-anak. Padahal suami menjadi satu-satunya pencari nafkah.

Itulah salah satu alasan bahwa mandiri finansial itu juga penting untuk perempuan, untuk meneruskan kehidupan selanjutnya bersama anak-anak.

Mandiri dari segi penghasilan bagi perempuan bisa sangat bermacam-macam bentuknya, dan tidak selalu harus keluar rumah. Kalaupun saat ini suami masih ada, penghasilan yang kita peroleh bisa dimanfaatkan untuk membantu suami mencukupi kebutuhan keluarga, investasi, membuka usaha sendiri, dsb. Menyiapkan diri untuk mandiri finansial itu lebih baik, bukan???

23 thoughts on “Mandiri Finansial

  1. Nah, karena hal inilah Islam tidak mewajibkan istri menyerahkan seluruh penghasilannya untuk kebutuhan keluarga. Adalah kewajiban suami untuk memenuhi SELURUH kebutuhan keluarga. Akan tetapi, jika sang istri ikhlas dan rela membantu suami dengan menyerahkan penghasilannya, itu tidak dilarang, boleh saja.🙂
    Jadi memang sang istri berhak untuk punya tabungan sendiri untuk dirinya. Ini untuk jaga2 juga jikalau sesuatu terjadi pada sang suami.😐

  2. assalamu’alaikum..?
    sebagai seorang istri bukankah sudah sewajarnya membantu untuk memenuhi kebituhan keluarga
    namun yang palaing bertanggung jawab tetap seoarang suami…

  3. betul banget bun, hendaknya setiap istri juga bisa mandiri finansialnya. Umur setiap orang kan siapa yang tahu. jangan sampe kita terus bersandar pada orang lain.

  4. Setuju lho Mbak…..ingin mandiri secara finansial gak harus keluar rumah karena buat hani pribadi kelak kalau udah berkeluarga, keluarga lebih penting…..tapi tetap ingin jadi ibu rumah tangga yang berkarir🙂

  5. istri dan ibu mandiri?
    uda setuju…
    asal tidak melalaikan dari kewajiban ‘utamanya’

    maap, sudah lama tidak berkunjung, mbak..

    salam sahabat – uda riki

  6. woww super banget tulisannya hehe.. betul sekali seorang perempuan akan jauh lebih baik kalo bisa mempunyai penghasilan sendiri.
    asal tidak melalaikan tugas, hak dan kewajiabannya sebagai seorang ibu untuk mengurus anaknya dan juga sebagai seorang istri untuk mengurus suaminya🙂

  7. tulisannya sederhana tapi sarat makna…

    aku setuju istri punya penghasilan sendiri. lumayan bisa bantu-bantu suami. tapi itu bukan kewajiban, suamilah yang paling harus menafkahi keluarga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s