Belajar Sabar dari Anak


Anak.
Apa yang ada dalam kepala kita ketika mendengar kata anak? Lucu, lugu, senang, bahagia, atau malah sedih, rame, berantakan, marah dan sebagainya?
Masing-masing jawaban kita adalah tergantung bagaimana kita memandang keberadaan anak kita. Apakah adanya mereka membuat kita bahagia dan merasa tenang atau justru merasa tak nyaman dengan keberadaan anak yang mungkin dalam pikiran orang tua, anak menambah beban hidup, menambah pekerjaan, membuat marah dan sebagainya.
Ketahuilah wahai para orang tua sesungguhnya anak adalah anugerah dari Alloh SWT yang dititipkan untuk dirawat, dididik, dibesarkan dengan cinta dan kasih sayang, bukan dengan ancaman atau kemarahan.
Karena anak hanyalah titipan, maka sudah sepantasnyalah ia dirawat dan dididik dengan sebaik-baiknya. Seperti kita dititipi sesuatu oleh orang lain, kita juga akan berusaha sebaik mungkin untuk merawatnya, agar tidak rusak ataupun cacat. Dan betapa merasa bersalahnya kita kalau titipan itu cacat ketika di tangan kita. Begitupun anak kita, sudah seharusnya orang tua sangat merasa bersalah ketika salah bersikap kepada anak sehingga membuatnya menangis atau sakit hatinya, dan sekali lagi, mereka hanya titipan.
Pernah suatu ketika, Nabi Muhammad sedang menggendong bayi, lalu bayi itu pipis dalam gendongan beliau. Tiba-tiba ibu bayi itu merenggut paksa dari gendongan Rasulullah, karena takut mengganggu Rasulullah dengan pipis bayinya. Kemudian Rasulullah mengingatkan ibu agar tidak merenggut paksa bayinya, karena bagi Rasulullah, bekas pipis masih bisa dibersihkan, tapi bekas luka sakit hati susah disembuhkan.
Kita memang bukan Rasul, tapi mengikuti kebiasaan Rasul adalah sunnahnya. Dan kita tidak berhak melukai hati dan perasaan anak dalam bentuk apapun selama tidak bertentangan dengan agama.
Jadi jika anak melakukan hal-hal yang mungkin tidak orang tua sukai sehingga menyebabkan rasa kesal dan marah, maka berusahalah beristighfar. Karena dalam keadaan marah orang tua rentan sekali melakukan tindak kekerasan pada anak, mencubit atau memukul. Berusaha bersabar, kekerasan bukan jalan satu-satunya untuk mengungkapkan kemarahan orang tua. Masih banyak jalan terbaik yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mendidik anak agar menjadi lebih baik dan lebih baik lagi. Bersyukur sebagai orang tua apapun keadaan anak, sehingga orang tua bisa dengan mudah menemukan solusi setiap masalah anak, ngambek, ngamuk, cengeng, penakut, pemarah. Orang tua lah yang tau bagaimana harusnya bersikap terhadap anak ketika anak sedang dalam masalah, dengan cara-cara yang baik pula tentunya.
Mari kita belajar bersabar dari anak.

6 thoughts on “Belajar Sabar dari Anak

  1. memang kita kadang tak sabar menghadapi ulah dan tingkag laku anak. Tapi bagaimana lagi. Anak kan bukan orang dewasa berukuran mini. Anak ya anak, jadi kita bisa memakluminya dan seharusnyalah bisa bersikap sabar.

    Anak adalah amanah, jd harus dijaga, dirawat dan dididik dgn baik.

    Salam hangat dari Surabaya

  2. suka sedih mbak kalau baca berita tentang mereka yang meng-aniaya anak nya. sedih banget. Karena bener kata PakDhe cholik, anak adalah amanah dari Nya🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s