Tidak Menyakiti


Pelajaran selanjutnya setelah memaafkan adalah tidak menyakiti orang lain dan meminta maaf.

Bermula dari pukulan yang tiba-tiba kepada anak tetangga sebelah setiap kali mainan Fathan dipegangnya, aku hanya meminta maaf dan tidak boleh mengulangi lagi. Kemudian semakin hari semakin parah, hampir setiap bertemu anak “yang tidak cocok” dengan hatinya ia marah (tidak selalu memukul) meskipun tidak semua anak ia pukul. Seperti punya kriteria sendiri, aku belum paham waktu itu.

Berbulan-bulan Fathan berperilaku demikian, hingga aku merasa tidak nyaman membawanya bepergian ataupun untuk sekedar main di luar rumah, khawatir ia merugikan orang lain. Aku tetap memperbolehkan ia main di luar, tentu dengan pengawasanku selalu, agar tidak terjadi pemukulan. Segala macam cara sudah kucoba untuk menghentikan kebiasaan itu, tapi belum juga terlihat hasilnya. Sampai suatu siang, saat sedang sibuk di dalam rumah, ia keluar dan terdengar teriakan pengasuh sebelah, “Fathan jangan!” Aku langsung berlari ke luar dan memperingatinya untuk tidak mengulanginya kembali dan sangat marah. Lagi-lagi aku tak bisa bertanya padanya, kenapa ia memukul, karena ia belum bisa bicara. Ada seorang yang lain yang juga mengaku melihat kejadian itu, ia menegurku bahwa bukan Fathan yang salah, tapi anak tetangga sebelah yang lebih dulu mendorong Fathan hingga jatuh, baru Fathan mau balas dengan memukul dan pengasuh sebelah sengaja diam saja melihat anak asuhannya itu mendorong Fathan. Fathan… . maafin umi, umi salah sudah marah sama Fathan. Satu pelajaran kudapat, aku harus konfirmasi dulu. Bertanya mengapa ia berbuat demikian, meskipun sangat susah karena pada saat itu dia belum bicara.

Sedih mendengar Fathan mendapat julukan tukang pukul. Aku seperti sedikit menutup diri saat menyadari perilaku aneh Fathan yang memang gampang sekali memukul anak lain. Aku yang masih berusaha mencari solusi ke sana ke mari, bertanya ke orang-orang yang sudah berpengalaman ataupun juga dari pencarian di google, tetap mengajarinya untuk tidak memukul sekalipun untuk membalas. Menjelaskan padanya bahwa dipukul itu sakit, Fathan kalau dipukul sakit, temannya juga akan sakit, bla bla. Kapanpun setiap ada kesempatan asalkan hatinya sedang senang.

Setelah setengah tahun dilewati dengan cacian orang, Alhamdulillah bersamaan dengan usahanya untuk bisa bicara ia pun berhenti menyakiti orang lain dan meminta maaf jika ia salah. pelajaran selanjutnya adalah tentang tidak mengadu.

5 thoughts on “Tidak Menyakiti

  1. Tulisannya bagus Mauna, kadang orang tua ingin anak itu memiliki pola pikir seperti kita, tapi namanya juga anak-anak, boleh dan tidak dalam pandangan mereka, tentu berbeda dengan kita…
    Salam sayang buat Fathan🙂

  2. Duuuuh…
    emang gampang gampang susah ya mbaaaaa…
    Tapi kalo memukul kayaknya emang ada fase nya juga sih mba…

    Fathir juga kadang suka mukul2 gitu…
    Tapi aku liat nya sih alasannya karena iseng atau rasa ingin tau aja…

    Tapi kita harus tetap konsisten dan memberi tahu juga siiiih🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s