Memaafkan


Pelajaran memaafkan ini aku ajarkan pada Fathan sejak usianya menginjak satu tahun. Mengapa? Karena hari-hari Fathan dipenuhi kekerasan (bullying) oleh anak tetangga sebelah. Ia yang sering dengan sengaja  dijatuhkan saat ia belajar berjalan, ia juga yang sering direbut mainannya, dan ia juga yang sering sengaja disakiti hingga berdarah, dan aku hanya mengatakan padanya untuk memaafkan. Aku yang kala itu belum tahu sifat tetangga sebelah yang baru pindah ke sini setengah tahun setelah aku, aku yang lebih berpikir untuk tidak mencari keributan, aku yang belum mengerti bahwa anak tetangga sebelah super duper aktif (hyperaktif banget!), dan aku yang belum paham bahwa Fathan yang masih tergolong bayi itu ternyata punya perasaan dan rasa sakit hati. Aku yang kala itu selalu meminta Fathan untuk memaafkan dan memperingati anak tetangga sebelah agar lebih berhati-hati dalam berperilaku karena khawatir akan mengancam jiwa orang lain. Wah sepertinya bahaya sekali… . Bagiku sangat.

Anak tetangga sebelah yang usianya setahun lebih tua dari Fathan, kala itu mainanannya bukanlah mainan seusianya. Orang tuanya yang berdagang keperluan bangunan dan listrik itu, jarang menegur anaknya yang bermain dengan alat-alat berbahaya untuk anak seumurannya, palu, gergaji, gunting dan lainnya.

Selama setahun lebih Fathan yang usianya lebih muda aku paksa mengalah dan memaafkan ketika ia dibuat sakit. Bahkan sampai detik inipun aku belum pernah mendengar kata maaf dari orangtuanya ataupun anaknya setelah membuat Fathan cedera dan hanya bisa menerima mereka yang tiba-tiba tak keluar rumah setelah anaknya melukai orang lain seperti sedang kabur. Kita memang punya basic yang berbeda dari segi agama, kultur dan pendidikan, dan kupikir kita punya cara masing-masing dalam mendidik anak. Aku berusaha menerima itu.

Setelah Fathan berusia 2 tahun, ia yang saat itu belum bisa bicara dan mengungkapkan apa-apa yang menjadi uneg-unegnya itu membuatku semakin bingung dan frustasi kala ia dengan sengaja dan tiba-tiba memukul anak tetangga sebelah yang masih saja super duper aktif sekalipun ia sudah sekolah di PG, hanya saja kala itu sudah tak segarang dulu. Fathan yang sepertinya kesal dan dendam sewaktu ia dengan tiba-tiba memukul anak tetangga sebelah itu tanpa bisa kupahami kenapa. Aku yang masih sibuk berpikir dengan perilaku Fathan ini, sudah dimaki-maki tetangga sebelah karena anak emas-nya sudah disakiti oleh Fathan. Biarpun aku dan Fathan sudah meminta maaf. Ya sudahlah, aku pikir namanya anak-anak, berantem nanti juga main lagi. Ternyata aku salah, orang tuanya sakit hati dan melarang anaknya main dengan Fathan. Hingga kemudian aku mengajarkan pelajaran kedua, tidak menyakiti.

Patutnya kita sebagai orang tua harus mengajarkan anak tentang hal-hal baik dan membiasakannya agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.

==================================================

Awalnya cerita ini tidak ingin kupublish, sampai akhirnya ada sesuatu hal yang mendorongku untuk berbagi agar dapat diambil hikmahnya.

7 thoughts on “Memaafkan

  1. Harus memaafkan, tapi juga harus membela diri kalau duluan di isengin, itu yang aku ajarin ke Fauzan. Yang pasti, jangan pernah memulai berbuat gak baik.

  2. Belajar meminta dan memberi maaf itu perlu latihan dan kebesaran hati. Anak-anak juga harus mempunyai lingkungan yang tepat buat kepribadiannya..
    Seiring beetambahnya usia, saya yakin Fathan akan lebih memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukannya🙂

  3. Nah ini lagi nih…
    kasusnya kurang lebih sama juga…

    Kalo aku sih lebih suka kalo anak ku sebisa mungkin dihindarkan dulu dari anak2 yang suka nge bully gitu…
    soalnya anak itu kan the greatest copycat tuh…
    takutnya malahan jadi meniru…
    Soalnya biasanya pengaruh negatif itu gampaaaaang banget nempelnya tuh mba…

    Dulu Kayla mendadak jadi suka nangis jerit jerit sambil hentak hentak kaki…pas aku perhatiin…ternyata niruin anak tetangga…*sigh*…

    Mudah mudahan Fathan bisa

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s