Terpaksa


Tiga bulan sudah, Dps Asisten RT-ku yang masih bocah itu bekerja di sini. Sejauh ini kami cocok dengannya, minimal untuk menemani Fathan bermain dan membantuku bers-beres. Tak banyak harapanku padanya, asal ada yang nemeni Fathan mainan itu cukup buatku. Pekerjaan rumah dengan 2 anak dan toko masih bisa kujalani sendiri, walau tanpa ART dengan konsekuensi aku buka toko-nya agak siang. Menyelesaikan pekerjaan dan mengurus anak-anak adalah yang utama.

Anak keduaku yang prematur menyebabkan aku harus menumpahkan seluruh perhatianku untuk mengurusnya, sehingga membuatku tak bisa jauh-jauh darinya dan tak bisa konsen menyelesaikan pekerjaan RT. Aku harus memilih, dan aku memilih anakku dengan berbagai pertimbangan. Mulailah kami mencari-cari orang yang bisa membantuku. Berpesan kepada siapa saja yang kemungkinan bisamencarikan aku ART.

Sampai suatu ketika, 3 bulan yang lalu, seorang yang pernah bekerja di sini juga pulang-pergi merekomendasikan aku seorang yang masih terlihat bocah untuk bekerja di sini. Pertemuan pertama, perkenalan seperlunya dan malamnya ibunya meneleponku sambil nangis-nangis minta anaknya diterima kerja dengan alasan kekurangan. Berulang kali aku sampaikan, aku tidak bisa menerimanya kerja, karena dia masih dibawah umur. Ibunya tetap bersikeras, dan aku hanya mengatakan akan menghubunginya kembali jika aku menerimanya untuk mengakhiri pembicaraan malam itu.

Sampai pagipun aku masih belum menghubungi ibunya, karena memang tidak berniat menerimanya kerja di sini. Tak disangka pagi-pagi sebelum suami kerja, si Dps datang mengucap salam dan menyerobot masuk memulai pekerjaannya menyapu. Aku yang bingung hanya bengong melihatnya, dan suamipun heran juga, lho kok? Nodong nih ceritanya.

Terpaksa deh diterima, sekali lagi dengan alasan aku harus konsen merawat si kecil. Urusan menemani Fathan bermain aku serahkan padanya, sedang pekerjaan rumah dikerjakan bareng-bareng. Namanya juga anak-anak, bermain adalah aktivitas utamanya, begitu pula dengan Dps. Ia yang masih bocah, yang 3/4 waktunya dipakai untuk main bersama Fathan ini selalu bilang betah setiap kali kutanya gimana rasanya kerja di sini.

Diceritakannya, tentang bagaimana keluarganya dan kisah hidupnya hingga sampai ia bekerja di sini. Ibunya yang menikah 3 kali dan memiliki anak-anak kandung ataupun tiri yang terbilang tidak sedikit dan mereka semua masih usia sekolah yang terpaksa putus sekolah karena alasan biaya. Kasihan. Itulah juga yang menjadi alasanku terpaksa menerimanya, hanya itu yang aku bisa untuk membantunya. Dps masih memiliki seorang adik yang masih bayi, seusia Azizah yang sudah diberi makanan tambahan. Sedihnya lagi, dalam keadaan yang kekurangan, gaji berapapun selalu habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan adik-adiknya bahkan kurang.

Aku kasihan melihatnya, di usianya yang masih butuh pendidikan harus menghabiskan waktunya untuk bekerja. Kutawarkan padanya untuk sekolah lagi, dia menolak dengan alasan bekerja saja agar bisa membantu ibunya. Terharu melihat pengorbanannya untuk keluarga, yang seharusnya waktunya habis untuk bermain dan belajar malah ia gunakan untuk bekerja, ya meskipun di sini juga selalu bermain tetap saja tujuannya untuk bekerja. Belum genap sebulan ia di sini, mulai terjadi hal-hal yang aneh.

Dia yang pulang pergi minta segera dibelikan sepeda, dia mau yang baru dan potong gaji aja cicil bulanan. “Eits, kok dia yang nentuin, emangnya aku ini toko sepeda apa?”, komentarku kala itu. Akhirnya kumaklumi namanya juga anak-anak. Tiba-tiba sering ijin tidak kerja, karena keluarganya sakit, dan sering karena yang sakit gantian, ibunya, adiknya, bibinya… . Aku mencoba memakluminya. Ketika gantian aku yang sakit, kuminta ia menginap untuk membantuku menyelesaikan pekerjaan karena keadaanku yang tidak memungkinkan mengerjakannya. Ibunya tak mengijinkan dengan alasan sudah bekerja seharian. Ia tidak mau terima ketika tahu anaknya disini hanya bermain. Ya sudahlah, kali ini aku terpaksa memakluminya.

Dua bulan ia bekerja di sini, ibunya semakin sering menghubungiku untuk meminjam uang hampir setiap minggu. Dps pun berubah, ia semakin sering berbohong, mulai tiba-tiba sewot kalau sedang tidak punya uang, dan aku mulai sering kehilangan uang. Awalnya, uang paket yang ia katakan jatuh di jalan dan malamnya ia membelikan adiknya baju-baju. Diikuti uang belanja yang hampir setiap hari selisih, kemudian mulai uang-uang dalam simpanan yang menghilang. Aku katakan padanya, “Uang yang hilang bukan milik kita, tapi kalau rezeki Allah pasti akan mengembalikannya dengan berbagai cara”. Aku tak menuduhnya, sampai ketika jawabannya mulai aneh ketika kutanya apakah ia melihat uangku atau tidak (Alhamdulillah dikasih ingatan oleh Allah kemampuan mengingat sesuatu yang disimpan dengan detail).

Dari jawaban-jawabannya mulailah aku mencurigainya, Astaghfirullah kan tidak boleh berprasangka. Akhirnya, aku sampaikan juga yang jadi uneg-uneg ku padanya agar tidak jadi prasangka buruk belaka, cerita selengkapnya ada di sini. Sekarang 3 bulan sudah ia bersama keluargaku, dan aku mungkin belum bisa mempercayainya 100% seperti dulu. Aku tidak menyalahkannya, aku kecewa kepada ibunya. Ia yang masih bocah dipaksa kerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Ia yang masih kecil harus memikirkan membelikan bubur instan dan lampin untuk adik bayinya setiap hari. Ia yang lelah setelah pulang bekerja masih harus mengasuh adiknya dan mengerjakan pekerjaan rumahnya sampai larut, sehingga membuatnya berangkat kerja selalu kesiangan. Ia yang terpaksa mencari tambahan uang dengan mengambil uang bukan miliknya hanya untuk memenuhi keuangan ibunya yang selalu kurang. Ia yang selalu membuat saya tidak tega memberi pekerjaan padanya. Kemana saja ibunya??? Ibunya yang sepertinya sibuk bersolek ketika kami datang ke rumahnya, ibunya yang sangat malas membuatkan makanan tambahan untuk bayinya, ibunya yang selalu membelikan bayinya lampin karena tidak mau repot-repot mencuci. Dan ibunya yang telah tega memperkerjakannya di sini, ibunya yang tak mau capek jika harus bekerja. Ibu macam apa ini???

Dan aku hanya bisa membantunya sesuai yang aku bisa, dan aku hanya bisa mendo’akannya dan memberinya semangat, “sabar ya mbak”.

8 thoughts on “Terpaksa

  1. ehm…
    jadi serba salah gini ya mba Mauna …
    Niatnya mau bantu…malahan jadi begini…

    Kalo baca cerita diatas berarti …
    mba Mauna punya toko dan 2 anak balita…
    Ngurus semua sendiri tanpa art????
    hebaaaaaaat….
    *langsung terkagum kagum*

  2. hmm, dilema, mbak🙂 tapi sepertinya memang tidak mempekerjakan dia adalah jalan terbaik, mbak. klopun dia menolak untuk sekolah, mgk bisa diikutkan kejar paket, mbak.

  3. Susah banget harus bilang apa terhadap cerita Mauna tentang Dps dan ibunya ini. Ada banyak aspek yang mempunyai dua sisi bertolak belakang. Mudah-mudahan semua berjalan baik ya…🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s