Tentang Penyesalan


Beberapa minggu disibukkan dengan urusan hati dan pikiran ternyata cukup melelahkan. Capek hati dan capek pikiran. Hiperbola memang, tapi begitulah adanya. Terkadang hati dan pikiran ini sering disibukkan dengan masalah yang mungkin sepele, yaitu masalah komunikasi. Tentang bagaimana mengkomunikasikan sesuatu dengan baik dengan kejujuran tanpa ada yang tersakiti. Terlalu klise?? Bagi sebagian orang mungkin berbicara blak-blak-an bukanlah suatu hal yang sulit. Tapi tidak dengan saya, saya bisa butuh waktu berjam-jam atau bahkan berhari-hari hingga tak jarang bilangan minggu untuk memikirkan kata/kalimat yang tepat untuk membicarakan sesuatu dengan orang lain tanpa cukup data, terutama terkait dengan tuduhan. Lebih dikarenakan untuk menjaga perasaan orang yang bersangkutan.

Dan semalam, kalimat yang saya coba susun beberapa minggu terakhir meluncur begitu saja setelah saya memintanya duduk bersama dan berbicara. Dia, ART saya yang masih terbilang bocah. Dia pun mengaku telah sering mengambil uang untuk membeli bubur buat adiknya. Itupun setelah saya meyakinkannya bahwa sayau akan memaafkannya dan tetap akan memperkerjakannya dengan syarat tak akan terulang kejadian yang sama. Dan dia pun menyetujuinya.

Bukan masalah jumlah dan seberapa sering ia mengambil, tapi persoalannya adalah perbuatan itu tidak baik dan dosa. Apapun alasannya. Sekalipun dalam keadaan kekurangan, bukan sesuatu yang bijak dengan alasan untuk makan keluarga kemudian mengambil jalan pintas. Apakah tega memberi makan anak kecil yang belum berdosa dengan makanan dari perolehan yang tidak halal. Setelah menjelaskan panjang lebar dengan bahasa yang ia pahami, tak ada sedikitpun kata permintaan maaf meluncur dari mulutnya. Sekali lagi aku pahami keadaannya dan aku mencoba tak mengharap permintaan maafnya, karena dia masih bocah. Tapi tentang penyesalan, sampai sekarang saya tidak pernah mendengar ataupun melihat ekspresi itu di wajah dan perilakunya. Masih sama seperti kemaren seperti tidak terjadi apa-apa.

Setelah kesekian kalinya saya dibohongi, saya masih berusaha mengerti keadaannya. Saya hanya bisa mengingatkan dan berdo’a agar ia diberi kesadaran. Amiin

4 thoughts on “Tentang Penyesalan

  1. Hmm,,, kadang perilaku manusia itu memang sangat “susah” dimengerti Mbak,,, kita yang mestinya lebih bisa mengerti,, Dan tentu saja semoga bisa menyadarkannya ya🙂

    Salam kenal dan salam semangat selalu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s