Buah dari Keikhlasan


“Kriiiiiiiing kriiiiiiing…”

“Selamat Pagi, dengan keluarga Pak Mamat?”, terdengar suara tegas dari ujung telepon. “Pagi, iya? Ada yang bisa saya bantu?”, balas Bu Ain sedikit heran.

“Bu Mamat ya? Saya dari Kepolisian Jati ingin mengabarkan bahwa Pak Mamat mengalami kecelakaan”, Jawab Polisi di Seberang telepon.

Seperti disambar petir, tubuh Bu Ain bergetar mendengar berita yang Polisi sampaikan barusan. Masih menguatkan diri mencoba bertanya kondisi dan keberadaan suaminya.

Bu Ain tak kuasa menahan tangis yang sejak tadi mengintip di ujung matanya dan ingin berhamburan keluar. Bersama kedua putrinya, ia pun bergegas menuju RS yang disebutkan Bapak Polisi tadi. Setibanya di sana, Bu Ain yang masih menahan isak tangis dan meladeni kebingungan putri-putrinya mencoba mencari informasi di bagian pendaftaran. Dari sanalah Bu Ain disuruh segera menemui suaminya di Ruang UGD. Setengah berlari Bu Ain menuju tempat suaminya kini dirawat.

“Maaf Pak, korban kecelakaan tadi di mana?” tanya Bu Ain keheranan karena tak satupun pasien di sana yang ia kenali wajahnya sebagai suaminya.

“Di Ujung, Bu”, Jawab Mantri yang ditanya sambil menunjuk kepada kerumunan para tenaga medis. “Ibu dari keluarga korban?”, imbuhnya buru-buru mencegah Bu Ain.

Mencoba menerobos kerumunan tenaga medis, masih berharap korban itu bukan suaminya. Bu Ain yang gemetaran semakin terguncang badannya melihat korban yang ditunjukkan sudah tertutup selimut. Perlahan ia buka selimut di bagian wajah korban, tampak olehnya seraut wajah yang sangat teduh dan masih terlihat senyumnya menyungging di kedua bibirnya yang basah oleh darah. Bu Ain sangat kenal dengan pemilik raut wajah itu, dialah orang yang setiap harinya menemani kehidupannya dan anak-anaknya, yaitu Pak Mamat.

Tak kuat menahan tangis Bu Ain pun  sesenggukan dan terduduk lemas limbung menahan guncangan tubuhnya sendiri. Kedua putri kecilnya yang masih belum mengerti apa yang terjadi bertanya, “Ibu, ada apa?”, “siapa yang sakit?”, “kenapa ibu nangis?”. Serentetan pertanyaan yang sulit Bu Ain jawab, karena masih berharap itu bukan suaminya. Tapi ia harus menjawab karena bagaimanapun juga, hak mereka untuk tahu apa yang terjadi dengan bapak. Bu Ain mencoba menjawab pertanyaan kedua putrinya, Ara dan Ira yang masing-masing usianya, 5th dan 3 th sesuai bahasa mereka. “Bapak meninggal, neng.”

Selesai dengan administrasi, Bu Ain membawa suaminya pulang bersamanya dengan menyewa mobil jenazah Rumah Sakit. Setelah sebelumnya meminta bantuan para tetangga untuk menyiapkan tempat di rumahnya, melalui telepon yang dipinjamkan RS. Selama perjalanan ia hanya menangis sambil memegan erat tangan suaminya dan memeluknya erat sekali, meski tak ia rasakan lagi kehangatan tubuh suaminya itu.

Pandangannya nanar melihat tubuh suaminya diangkat menuju ke pemakaman, iapun masih menangis dan hanya bisa pasrah dan ikhlas atas takdir yang menimpa keluarganya. Ia sangat tahu artinya keikhlasan tapi sulit sekali menenangkan hatinya agar kuat menjalani kehidupannya kelak tanpa didampingi seorang suami disisinya.

Seminggu berlalu, Bu Ain memang masih bersedih tapi ia tak mau larut. Karena dia dan anak-anak tetap harus melanjutkan hidup. Berbekal uang peninggalan suaminya, ia mencoba berjualan kue bikinannya sendiri agar tetap mendapat penghasilan untuk menyambung hidup mereka. Memang penghasilan yang ia dapat tak sebanyak yang suaminya hasilkan, tapi ia masih bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari dan juga untuk biaya sekolah Ara yang setengah tahun sudah menjalani sekolah TK.

Waktupun berjalan semakin cepat, setahun sudah Bu Ain ditinggalkan suaminya. Ketika suatu hari, datang seorang laki-laki sebut saja Amir, usianya lebih muda beberapa tahun daripada  Bu Ain. Kala itu Amir datang bersama Bapak dan Ibunya, mereka hendak melamar Bu Ain untuk menjadi istri Amir. Bu Amir yang masih kaget dan tidak percaya berupaya menolak dengan halus, karena masih bersedih atas kehilangan suaminya dan belum siap menerima orang lain untuk menggantikan posisi Pak Mamat. Dia takut tak ada orang lain yang sebaik Pak Mamat, yang begitu cinta dan bijaksananya terhadap istri dan anak-anak. Apalagi seorang Amir yang usianya masih lebih muda darinya.

Amir dan keluarganya memang kecewa tapi ia masih berharap, seminggu lagi Bu Ain mempunyai jawaban yang mantap untuk melanjutkan pertemuan ini ke pelaminan. Sesuai janji Bu Ain, sebelum Amir pulang dari rumahnya ia menyanggupi waktu seminggu untuknya berpikir, itupun karena bujukan keluarga Amir.

Dan Bu Ainpun hidup bahagia bersama kedua putrinya dan suaminya, Amir yang juga tengah menanti kelahiran anaknya yang ketiga. Merekapun hidup rukun dan bahagia, karena Amir adalah laki-laki yang baik dan bertanggung jawab. Meskipun usianya lebih muda dari Bu Ain, ia bisa membimbing keluarga dan bijaksana dalam mengatur rumah tangganya.

Hikmah:

  • Berdo’alah untuk akhir kehidupan yang baik
  • Kita Harus ikhlas dan sabar menerima takdir yang terjadi pada kita
  • kita tidak boleh menyalahkan takdir atas apa yang terjadi pada kita
  • Buah keikhlasan itu manis dan indah
  • Bersedih atas sebuh kehilangan itu boleh tapi tidak berlarut-larut
  • Pasrah dengan keadaan bukan berarti tidak berusaha berbuat apa-apa

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di Blogcamp

————————————————————————————————-

note: Kisah di atas murni karangan penulis, baik nama maupun jalan cerita, jadi mohon maaf  jika agak aneh alur ceritanya, pengalaman pertama ikut kontes menulis

20 thoughts on “Buah dari Keikhlasan

  1. Wah, ikutan juga…🙂
    moga sukses di kontes pakdhe ya mbak..🙂

    hikmah yang sangat dalam dari rangkaian cerita yang Indah…
    tapi sedih juga pak Mamat menginggal..😦

    • Aduh malu aku mbak iyha, tak ngumpet dulu. itu baru pertama kali mbak bikin cerita fiksi…
      Tak do’ain mbak iyha menang lagi yaa… tar hadiahnya bagi 2😀

  2. hidup masih terus berlanjut. atas stempel blogcamp JURI telah menilai artikel ini, tetapi karena kesibukan baru meninggalkan jejak hari ini. terima kasih atas cerita kehidupan yang penuh hikmah. salam hangat

    • Terima kasih kembali mbak Lely, sebagai juri KUCB sudah bersedia membaca dan menilainya. Aku terima Salam hangat dari tempat karantina dan salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s