Second Opinion (part 2)


Masih soal second opinion.
Malam itu juga, setelah menitipkan fathan pada budhenya, aku berangkat ke RS tujuan dengan diantar tukang ojek (yang ini bukan jekpri, tp bener2 tukang ojek). Maklumlah suamiku masih seorang kuli yang siap terima tugas tambahan sewaktu2. Jadilah aku konsultasi sendirian.
Tanpa komunikasi panjang lebar, dokter menyuruhku mengikuti serangkaian tes sebagai pemeriksaan lanjutan. Tentulah aku smakin stress, apalagi serangkaian tes yang kujalani slesai hingga larut malam. Bersambung..

2 thoughts on “Second Opinion (part 2)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s