Keluhan untuk PLN

Keluhan ditujukan untuk call center 123 milik PLN atau yang bersangkutan.

20140919_123935

Satu hari yang lalu, tepatnya tanggal 17 Sebtember 2014. Rumah saya mengalami gangguan listrik pada waktu dini hari. Saklar on/off meteran listrik berulang kali kembali ke posisi off meskipun daya yang dipakai saat itu hanya sedikit(kayanya lho ya…), 1 unit AC 1/2 pk,  1 unit coolcase dan 1pc lampu ph*lips 5watt.

Awalnya karena khawatir korslet. Saya mencoba memutus satu persatu aliran listrik dari ketiganya. Ternyata, saklar on/off tetap saja kembali ke posisi off. Karena kesal saya biarkan saja mati sampai pagi.

Pagi harinya, dicoba lagi dinyalakan saklar meteran. Dan lagi-lagi off di menit kesekian. Menurut info kakak saya, kemungkinan ini masalah pada saklar on/off meteran listrik yang letaknya di luar rumah dan menjadi tanggung jawab pihak PLN. Saklar on/off ini yang belakangan saya tau namanya MCB(miniature circuit breaker).

Selesai masak dan menyiapkan keperluan anak dan suami di pagi hari. Saya langsung menuju kantor PLN terdekat. Dan membuat laporan gangguan listrik.

Satu jam sesudahnya, dua petugas lapangan dari  PLN datang untuk memperbaiki. Setelah dilakukan pengecekan, diketahui bahwa MCB rusak dan disarankan untuk mengganti MCB yang bisa dibeli di toko bangunan.

Terpasanglah MCB yang sifatnya sementara ini ke meteran listrik. Fyi, disebut sementara karena akan diganti MCB resmi oleh pihak PLN dikemudian hari(kurang lebih 1 minggu berikutnya). Sambil menunggu penyetelan yang entah saya tak tahu seperti apa, petugas lainnya membuat surat berita acara penggantian MCB sementara, setelah saya tanda tangani dan diserahkan kepada saya. Beberapa menit kemudian, listrikpun belum juga menyala. Setelah menelpon ke sana ke mari, petugas dari PLN pun menyatakan penggantian ini tidak berhasil dan meteran bermasalah. Sehingga saya diminta untuk datang kembali ke kantor PLN.

Tiba di kantor PLN, saya mendapatkan penjelasan kalau meteran di rumah saya adalah meteran terbang dan ada ketidak sesuai antara alamat pemilik dengan alamat tempat meteran terpasang. Jadi perbaikan tidak bisa dilanjutkan karena meteran di rumah saya bukan dari area kantor PLN tersebut. Dan saya akan dilaporkan ke P2TL yang mengakibatkan pencabutan meteran listrik di rumah saya.

Jadi, saya datang ke kantor PLN ini seperti terdakwa yang ga tau apa-apa dan diinterogasi banyak pertanyaan. Hallo mbak staff bagian gangguan, saya ini pelanggan PLN yang sedang mengadukan gangguan listrik lho, lha kok malah kena masalah. Maaf ya saya ga terima, saya ini datang ke PLN agar listrik saya kembali menyala, bukan untuk diadukan dan kena masalah. Saya katakan, saya ga tau menau soal pemasangan meteran itu, dan itu meteran sudah terpasang saat saya masuk rumah itu pertama kali. Rumah itu saya beli baru dan tangan pertama, bahkan sudah saya beli saat baru pasang pondasi. Jadi yang bertanggung jawab urusan pemasangan listrik ya developer.

It’s okay. Saya pun menghubungi developer, katanya, dia pasang listrik ini minta tolong orang lain untuk mengurus ke PLN. Karena tidak diurus sendiri, dan belakangan saya tau bermasalah, jadi saya menyebutnya Calo. Jadilah saya protes ke developer, saya katakan saya akan menuntut karena saya dirugikan, jadi sebaiknya segera bereskan masalah ini. Dia bilang akan mengurusnya setelah pulang dari luar kota, artinya saya tidak ada kepastian listrik saya menyala sampai urusan developer dan calo selesai, dan tak tau kapan. Meskipun saya ga yakin urusannya bakal beres, karena calo yang dimaksud ini ternyata orangnya licik dan tindakannya kotor.

Masih di kantor PLN bagian gangguan. Staff yang sedari tadi melayani saya mengatakan ada dua opsi untuk solusi saya. Pertama, pasang listrik baru dan memulai dari awal. Opsi kedua, dilaporkan ke P2TL untuk ditertibkan dan dicabut meterannya, yang berarti padam sampai saya pasang baru. Saya katakan pada mbak staff, itu namanya cuma satu opsi mbak, yang intinya saya tetap harus pasang baru kan. Ini rasa-rasanya seperti sebuah ancaman halus untuk orang yang sedang dalam posisi terjepit.

Sudah tengah hari, saya dengan terpaksa menyetujui pemasangan listrik baru. Karena pihak PLN tidak mau melanjutkan perbaikan disebabkan meteran itu bukan dari kantor areanya, sedangkan wilayah saya masih masuk kantor areanya. Setelah menyetujui akan membuat pernyataan pemasangan baru, saya diarahkan ke ruangan customer service dan akan dilayani olehnya. Tiba di ruangan yang dimaksud, tak ada satupun staff bagian costumer service dan mbak staff yang tadi tidak juga muncul, malah sekuriti yang datang menemui saya dan menanyakan banyak hal. Karena kesal, saya katakan pada srkuriti itu, bahwa saya sudah kesal dengan pelayanan bagian gangguan, saya sudah menjelaskan banyak hal di sana, dan saya capek menjelaskan berulang-ulang tiap kali bertemu orang baru di PLN yang sama. Secara saya sudah menjelaskan ke orang yang ke sekian. Setelah menunggu 10 menit, mbak staff tidak muncul juga, dan sekuriti hanya meminta saya menunggu, akhirnya saya putuskan untuk pulang terlebih dahulu. Saya kesal sekali dengan mbak staff itu, saya juga punya banyak kegiatan lain dan tidak mungkin hanya untuk menunggu dia muncul. Saya katakan pada sekuriti, saya akan datang lagi nanti, sekalian membawa kelengkapan untuk pendaftaran.

Berbekal brosur dari kantor PLN, saya dapatkan call center PLN 123. Segera saya hubungi 123 untuk menanyakan pasang listrik baru. Karena mbaknya call center kelewat ramah dan banyak sekali pertanyaan, akhirnya malah jadi melebar ke pengaduan gangguan listrik. Dan setelah sekitar setengah jam, saya dijanjikan 1×45 menit untuk aduan pemadaman dan 1x24jam untuk pelaporan. Dan pesan dari call center PLN ini, saya tidak boleh datang ke kantor PLN langsung dan harus menghubungi call center saja. Dan sayapun tidak diperkenankan pasang baru terlebih dahulu karena masih ada mesin meteran lama yang masih terpasang. Jadi menurut mbak call center, lebih baik menunggu petugas dari kantor area meteran listrik di rumah saya.

Setelah lebih dari 3×45 menit, petugas PLN tak datang juga. Ditengah kekhawatiran saya, akhirnya saya menghubungi kembali teknisi yang tadi pagi, seperti yang ia janjikan, jika petugas yang dimaksudkan oleh call center tak datang agar segera menghubunginya. Dan iapun tak jadi membantu karena takut kena masalah karena mengerjakan meteran bermasalah. It’s okay, saya tidak akan mempersulitnya.

Saya mencoba menghubungi 123 kembali. Mas operator bilang masih di konfirmasi kembali dan meminta saya menunggu 1×45 menit lagi. Asli membuat kesal karena membuat saya menunggu tanpa bisa berbuat apa-apa dan semakin membuat saya deg-deg an, secara sudah hampir petang. Sebelum menutup telepon, saya harus memastikan bahwa 1×45 menit kali ini tidak sia-sia.

Ditengah menunggu kedatangan petugas rujukan call center PLN, saya berulangkali dihubungi pihak kantor PLN area rumah saya berada dan merupakan tempat saya pertama melaporkan aduan gangguan, mereka meminta saya segera membuat  pernyataan pasang baru sebelum dilaporkan ke P2TL. Rasa-rasanya seperti ancaman dan pemaksaan. Akhirnya suami menanyakan kembali ke call center dan mengatakan perihal permintaan PLN setempat. Call center PLN menyarankan agar tidak menghiraukan permintaan dari PLN setempat. Sedangkan PLN setempat masih saja menghubungi saya agar segera membuat aplikasi permohonan pasang baru dan malah menegur saya karena telah menghubungi call center 123. Hadeuh, ini sesama PLN ga kompak, SOP nya kok beda. Kalo begini saya musti nunggu listrik nyala dengan sendirinya??? MasyaAlloh ruwet bener. Akhirnya saya mengomel juga ke mbak staff kantor PLN setempat, sudah membuat orang lain menunggu lama, tidak memberi kabar, mengancam dan memaksa, eh masih seenaknya mengatakan siapa yang suruh telp 123. Memangnya, mbak staff ini orang mana sih, apa bukan orang PLN juga, 123 juga call center PLN. Kalo sesama orang PLN aja beda pendapat, ga usah melibatkan pelanggan dong supaya tidak membuat urusan pelanggan semakin rumit.

Hampir 45 menit berlalu, saya mencoba mencari kontak kantor PLN pemilik meteran ini dan saya pun menghubunginya. Setelah tersambung, sayapun menanyakan perihal konfirmasi aduan dari 123 atas nama saya, dan tahukah anda jawaban apa yang saya dapat? Bahwa memang banyak yang melapor seperti saya, tapi tidak bisa menindaklanjuti. Ya iyalah banyak, secara saya saja sudah 2x menghubungi 123 dan suamipun begitu. Mereka beralasan kalau rumah saya bukan wilayah area tugasnya dan mengapa meteran itu bisa sampai di rumah saya. Halo pak, kalau tau dari tadi kenapa tidak menghubungi saya dan menyampaikan jika memang tidak bisa memperbaikinya. Lalu apa gunanya saya dimintai nomer hp dan telp rumah kalau tidak ada konfirmasi? Jadi saya hampir 5×45 menit ini menunggu harapan kosong. Ya sudahlah sebentar lagi maghrib dan saya harus ambil keputusan.

Setibanya di kantor PLN saya kembali bertemu sekuriti yang tadi siang, dan saya sampaikan kalau saya harus bertemu atasan bagian gangguan. Baik, saya putuskan akan mendaftar pasang baru, tapi saya minta hari ini listrik nyala dahulu tidak perduli gimana caranya. Karena saya tidak mungkin menunggu listrik menyala sampai sebulan kemudian setelah mendaftar kan. Jadi saya mengikuti aja pasang listrik sementara dengan biaya kwh los(langsung) yang lumayan mahal, sekitar 150.000/hari. Tapi saya tidak setuju karena saya tidak pada pemakaian kwh yang sedemikian banyaknya, saya bersikeras pada kwh pemakaian rata-rata. Akhirnya disetujui, alhamdulillah malam itu menyala juga.

Dan hari ini, saya dapat telp dari kantor PLN pemilik meteran KWH rumah saya, yang mengatakan mau mengambil meteran yang dimaksud. Sedangkan meteran itu sudah diambil oleh kantor PLN tempat saya mendaftar pasang baru. Dan sungguh kasian karena harus mendengarkan saya mengomel atas keluhan saya terhadap PLN dan staff nya yang tidak memperhatikan laporan aduan saya yang berulangkali.

Terapi “Panik” dengan Berenang

Dahulu, dalam tulisanku ini yang isi sebenarnya adalah keluhan atas “penyakit” panik manakala menjumpai suatu kondisi/hal yang tidak sesuai (bisa berarti banyak hal, sedih, takut, khawatir) yang sebenarnya lumrah ga lumrah. Namun kadang bisa menjadi sangat mengganggu ketika reaksi paniknya berlebihan, tidak hanya pada penderita saja, tapi juga orang disekitarnya yang jadi ikut-ikutan khawatir/panik.

Dalam setahun terakhir ini, aku yang baru belajar berenang (selama ini bisa berenang asal pakai ban besar.. hehe), belajarnya pun autodidak, kadang juga diajarin oleh suami juga teman saat berenang bersamaan.

Tanpa pelatih profesional, bukan hal mudah mengajarkan berenang pada orang yang punya tingkat kepanikan yang tinggi, dalam hal ini adalah aku. Bagaimana ia harus bisa meyakinkan aku supaya berani mengalahkan rasa panikku ketika aku melepaskan tangan dan berenang sendiri. Membayangkan bahwa aku harus berenang di air tanpa pegangan, dan jika saja jatuh, aku bisa saja tidak sempat menjejakkan kaki ke lantai dasar kolam renang sebelum aku selesai mengambil nafas berikutnya. Dan ini adalah rasa panik luar biasa takut tidak bisa bernafas.

Dan itu sangat sulit buatku meyakinkan diri sendiri, kalau aku bisa berenang tanpa rasa panik. Beberapa kali latihan tidak ada peningkatan, sampai akhirnya suami bilang kalau aku tidak akan bisa berenang jika tetap mengandalkan pegangan. Dan aku pun berusaha memberanikan diri dan mengalahkan rasa takut, khawatir dan panik untuk memulai renang pertama kali tanpa pegangan. Berusaha terus dari hanya sekedar meluncur hingga berani dan lancar di jarak yang lumayan lah buat pemula penakut seperti aku ini.

Dan sejak itu aku menyadari, kalau rasa panikku yang dulu membuat reaksiku berlebihan kini sangat jauh berkurang. Lebih kalem dan tenang ketika dihadapkan pada keaadaan yang menyebabkan rasa panik.

Alhamdulillah makasih yaa… buat suami juga seorang teman yang pertama kali mengajariku berenang, @bu melly fauziah yang kini tengah hamil setelah menunggu sekian lama…. barokalloh yaa… smg sehat selalu dan bayi juga sehat, normal juga persalinannya nanti lancar. Aamiin

Berhenti Menjadi Kontraktor

Setelah untuk kesekian kalinya saya berganti-ganti rumah dengan banyak model dan type rumah.

Setelah kesekian kalinya harus menyetor uang dalam jumlah yang tidak sedikit ke orang lain.

Setelah untuk kesekian kalinya saya merapikan barang dan mengepaknya dengan apik.

Setelah untuk kesekian kalinya saya melakukan boyongan.

Setelah kesekian kalinya saya harus merapikan ulang barang-barang setelah  boyongan.

Dan itu sangat melelahkan lahir dan batin.

Sehingga akhirnya kami memutuskan untuk berhenti menjadi kontraktor tukang ngontrak. Hihi istilah plesetan yang ngawur sekali penggunaannya, hanya untuk konsumsi candaan saja dengan teman atau saudara. Pernah satu kali saya mengabadikan tulisan saya tentang boyongan di blog ini, artikel yang saya buat kurang lebih 1,5 tahun yang lalu dan termasuk artikel-artikel terakhir sebelum saya memutuskan untuk non aktif sementara waktu karena harus menyiapkan pembukaan toko baru.

Dan 1,5 bulan lalu saya kembali melakukan boyongan dari ruko yang sebelumnya ke ruko yang tentunya saya tempati sekarang ini, yang Alhamdulillah sudah setahun ini menjadi salah satu daftar tanggungan bulanan kami. Semoga, keputusan ini membawa keberkahan yang luar biasa untuk kami sekeluarga dan usaha kami. aamiin.

Dan karena keputusan pindah inilah saya tetap harus memboyong semua isi rumah dan toko ke tempat yang sekarang yang insyaalloh lebih menenangkan, dan menyejukkan hati,  dengan izin Alloh tentunya. Meskipun sudah terbiasa dengan pindah dan boyongan, namun ada rasa syukur yang sangat sehingga Alloh memberikan kesempatan untuk kami menempati rumah ini. Yang sekalipun tidak sebesar rumah/ruko yang kami kontrak sebelum-sebelumnya, namun tetap saja rumah ini merupakan hadiah indah dari Alloh yang sudah sepatutnya kami syukuri. Banyak hal yang ingin saya  bagi perihal rumah kami ini, insyaaloh pada tulisan yang lain karena terlalu panjang jika dimasukkan disini.

Semoga ini boyongan yang terakhir dan kami tak perlu pindah-pindah isi rumah lagi, karena capeknya subhanalloh luar biasa. Tidak bisa sehari dua hari untuk persiapan dan finishingnya. Melainkan butuh berhari-hari bahkan berminggu-minggu atau hitungan bulanan bagi yang barangnya segambreng sedang tenaga minimalis, seperti kami. Persiapan dari rapi-rapi, pengepakan, angkut-angkut, bongkar muat di tempat baru, rapi-rapi, bersih-bersih, dan menatanya secantik mungkin dengan masih harus mengasuh dan mengerjakan seluruh tanggung jawab harian sebagai ibu dan istri, pokoknya luar biasa capeknya. Rasa capeknya seperti habis dipukuli orang sekampung…. . hihihi kumat hiperbolanya.<:mrgreen>

Capek dan lelah sudah pasti, tapi kebahagiaan saat satu pekerjaan di satu sisi rumah kami telah selesai itu sangat menenangkan. Sekalipun pekerjaan di sisi yang lain rumah ini telah menanti, tapi semangat untuk segera merapikan itu selalu membara demi melihat tatanan rumah yang apik di rumah sendiri. Yaaaa meskipun sudah hampir dua bulan berjalan tapi rasa-rasanya pekerjaan merapikan dan menata rumah ini tak kunjung selesai, ditambah lagi tangan mungil azizah yang tak bisa berhenti membongkar tumpukan buku dan barang-barang di lemari makan, rak tv, rak buku, juga tumpukan kursi dan galon…. .subhanalloh, tapi tetap menyenangkan meskipun geregetan, belum lagi kalau azizah sedang belajar berjualan, barang di etalase sudah pasti pindah ke meja kasir. Dan jika azizah sudah bermain sekolah-sekolahan, sudah tentu semua patung akan dijejer olehnya layaknya anak sekolah yang sedang berbaris di lapangan sambil menyanyi dan mengobrol dengan mereka “si teman patung”. Antara kesel, lucu dan sedih. Kesel karena, otomatis pekerjaanku terganggu karena kehadiran para “siswa patung” dan menjadikan pekerjaan lainnya tidak selesai-selesai. Lucu karena dia mainan sendiri, tidak rewel dan merepotkanku. Sedih karena kasihan, ia tak punya teman bermain di lingkungan baru kami yang memang tidak ada anak kecil. Inilah yang menjadikan kami berat untuk memutuskan pindah ke ruko baru ini, karena tak seperti ruko-ruko sebelumnya yang sudah banyak keluarga yang menempati rukonya, sehingga kami bisa berinteraksi layaknya tetangga perumahan. Lain kali akan saya ceritakan kekurangan dan kelebihan tinggal di ruko, wah jadi punya 2 janji tulisan yaa? Semoga bisa menyempatkan diri  menulis dan membaginya dengan teman-teman. aamiin.

Teringat 5 tahun lalu, seminggu sebelum ibu meninggal dunia. Ibu menawarkan bantuan beliau membeli rumah untuk kami yang saat itu masih menjadi kontraktor(xixi), tanpa syarat apapun. Kemudian aku menolaknya dengan halus, aku mengatakan pada beliau kalau aku hanya perlu do’a beliau agar bisa membelinya sendiri dengan penghasilan kami. Insyaalloh, lagi-lagi dengan izin Alloh tentunya. Ibu memang tidak langsung meng-iya-kan, beliau mengingatkan kami agar tidak terlalu lama mengontrak, karena ibu sedih jika anaknya harus diusir-usir dari rumah saat jatuh tempo kontrakan habis masa pakainya. Namun, aku dan suami sudah sepakat untuk tidak merepotkan orang tua untuk urusan rumah tangga kami meskipun kami berdua adalah anak terakhir di keluarga kami masing-masing. Sehingga kami mencoba meyakinkan ibu agar ibu tenang dan mendo’akan untuk kebaikan kami dan juga do’a agar kami bisa membeli rumah sendiri, tanpa harus merepotkan orang tua. Dan ibupun mendo’akannya untuk kami. Terima kasih pada ibu dan semua ibu di dunia ini yang hingga akhir hayatnya pun senantiasa memikirkan dan mendo’akan untuk kebahagiaan anak-anaknya. (y)

Boyongan kali ini adalah boyongan yang kelima termasuk pindahan kami dari Kota Palu-Sulawesi Tengah, dan pindahan yang keempat kalinya hanya dalam satu kecamatan, xixi… puas sudah kami berpindah-pindah tempat tinggal. Semoga kali ini adalah yang terakhir untuk di Bekasi saja. kalau suami pindah tugas di daerah yang jauh dari Bekasi, yaa kami pindah lagi lah…hihihi… gak ada kapoknya.. <:mrgreen>

Semoga kepindahan kami di rumah ini senantiasa membawa keberkahan bagi keluarga kami, bagi lingkungan kami, juga bagi usaha kami. aamiin

Ikhlaskan Yang Terlepas

Ikhlaskan yang terlepas, kalimat ini tampak seperti sesuatu yang sepele. Namun sangat berat untuk dikerjakan. Apapun bentuknya dan berapapun nilainya. Ingatkah kita, saat kita kehilangan uang yang nilainya mungkin tak seberapa, tapi kita sibuk memikirkan kemana perginya uang yang sudah hilang tersebut. Apakah hilang atau sudah kita belanjakan? Atau pernahkah kita mengalami saat-saat harus kehilangan sesuatu yang mungkin sangat kita cintai atau bahkan hanya satu-satunya milik kita? Sesuatu itu apapun bentuknya memang kadang harus terlepas dari kita, suka tidak suka atau mau tidak mau. Betapapun sulitnya dan bagaimanapun kita berusaha menahannya, ketika saatnya terlepas, maka tak ada pilihan lain kecuali melepaskannya. Namun dengan cara apa kita melepasnya, itulah yang kemudian menjadi pilihan kita, dengan ikhlas atau tidak.

Ada sebuah cerita, suatu saat di dalam sebuah bus elf.

Bagi yang terbiasa naik bus elf, pasti tau gimana kebiasaan dalam elf yang tanpa kenek, mengharuskan salah satu penumpang berinisiatif untuk mengkoordinir ongkos naik elf tersebut dari semua penumpang. Ada yang mau ada yang tidak, ada pula yang terpaksa karena pecahan uangnya terlalu besar sehingga membuatnya mengkoordinir pembayaran penumpang lainnya agar dapat kembalian, tentu saja buka dengan senang hati. Karena tidak menutup kemungkinan ada yang “nakal” tidak mau membayar dan tidak ketahuan karena rame-rame, kembali pada kesadaran masing-masing penumpang, sangat merugikan orang lain.

Cerita bermula, ketika saya naik elf, rutinitas kendaraan berangkat kerja dari  bekasi, tol timur menuju cikarang, kawasan ejip.  Seperti biasa ketika sudah keluar tol cikarang, semua penumpang mengumpulkan uang ongkos perjalanan, dan yang kebagian mengkoordinir adalah saya. Perlu diketahui, tarif sekali perjalanan sebesar 5.000 rupiah. Setelah dikumpulkan, saya ambil kembalian uang saya yang 45.000. Tapi ternyata saat akan dibayarkan, jumlah uang yang terkumpul dan jumlah penumpung ada selisih kekurangan 10.000 berarti kurang 2 orang yang tidak membayar. Salah seorang penumpang menyadari kebingungan saya, karena jumlah uang yang kurang. Kemudian membantu saya untuk menanyakan siapa yang belum membayar. Namun, setelah dikonfirmasi ke semua penumpang, mereka bilang sudah membayar semua. Akhirnya, saya berinisiatif menutupi kekurangan dengan uang saya.

Tiba di kawasan ejip, saat turun tiba-tiba ada seorang bapak paruh baya yang mendatangi saya dan memberi saya uang 10.000 sambil berkata, “Ini buat ganti kekurangan tadi”, rupanya bapak itu adalah bapak yang tadi membantu saya mengkonfirmasi ke penumpang lainnya. Saya menolaknya dengan halus, karena memang sudah saya ikhlaskan (tidak saya pikirkan), jadi saya menolaknya. Si bapak bersikeras meminta saya menerimanya, dan saya tetap menolaknya, sebenarnya malu, karena si bapak agak memaksa saya menerima uang pengganti darinya, tidak enak dilihat banyak orang. Pada akhirnya uang itu tetap saya terima karena bapaknya tiba-tiba menempatkan uang itu ke tangan saya dan bapaknya pamit pergi karena harus segera menuju tempat beliau bekerja. Begitupun saya yag harus bergegas naik koasi menuju tempat saya kerja. Saat menerima uang itu, saya langsung memisahkan uang itu dari uang pribadi saya, karena rencananya uang tersebut akan saya sedekahkan, jadi saya memasukkannya di dompet yang lain.

Singkat cerita, malam hari sepulang kerja, saya pulang seperti biasa, naik angkot lalu melanjutkan perjalanan dengan naik elf. Karena masih kosong, terpaksa saya menunggu penumpang lain datang dan saya memilih menunggunya di dalam elf. Saat masih menunggu penumpang naik, saya menyiapkan ongkos sebelum penuh orang, agar tidak repot mengambil uang di dalam saku/tas saat berdesak-desakan dengan banyak orang di dalam kendaraan. Saat mencari uang di dala tas, saya tidak menemukan dompet yang tadi sempat saya keluarkan dari dalam tas, dompet yang berisi uang sepuluh ribu rupiah saja, dompet yang berisi uang yang diberikan si bapak tadi pagi untuk mengganti ongkos penumpang yang tak membayar. Saya mencoba mengingat kejadian dimana kemungkinan saya menghilangkan dompet itu dengan merunut kegiatan saya dari saya memasukkan uang 10.000 itu ke dompet sampai saya di dalam elf dan mendapati dompet saya tak berada di dalam tas. Setelah mengingat-ingat semua kejadian sehari itu, saya menyimpulkan bahwa kemungkinan dompet saya tertinggal di toko tempat saya membeli permen dan air mineral. Rupanya sepulang kerja tadi, saya mampir ke toko untuk membeli minum dan permen untuk membuat saya tetap terjaga saat di dalam elf. Saya sempat akan mengambil uang dari dompet, namun saya batalkan saat ingat uang di dompet itu adalah uang tadi pagi, jadi saya letakkan lagi dompet itu dan mengambil uang dari saku baju untuk membayar barang yang sudah saya beli. Setelah itu saya melanjutkan perjalanan pulang. Bersyukur masih ada uang sisa membeli permen tadi, cukup untuk membayar ongkos elf. Alhamdulillah Alloh masih memberikan saya kemudahan.

Sedikit kaget, karena yang hilang adalah uang sepuluh ribu itu bukan uang yang di saku saya. Dan kenapa jumlah yang hilang itu senilai dengan uang saya yang seharusnya hilang untuk mengganti ongkos penumpang yang tak membayar. Mungkin bagi kita uang 10.000 itu tak terlalu berarti, tapi bisa jadi sangat berarti bagi orang yang membutuhkan.  Selama dalam perjalanan pulang itu saya merenung mencoba mencari hikmah dari kejadian yang saya alami. Bukan  masalah nominal uangnya, tapi saya yakin pasti ada hikmah dari setiap kejadian yang terjadi di bumi ini yang ingin Alloh SWT tunjukkan ke kita. Mungkin uang 10.000 itu memang sudah seharusnya terlepas dari saya, biarpun ada orang yang coba mengganti uang saya yang hilang tapi jika Alloh SWT berkehendak terhadap saya bahwa uang saya yang 10.000 itu harus hilang, maka akan tetap hilang dari saya, begitulah cara indah Alloh SWT menunjukkan pada saya ilmu yang sangat bermanfaat ini untuk saya. Juga teguran dari Alloh SWT untuk saya agar lebih banyak beramal, karena ada banyak cara Alloh SWT untuk mengambil titipan-Nya yang ada pada kita jika kita kikir, dan itu sangat mudah bagi Alloh SWT.

Semoga bermanfaat.

Belajar itu terus dan terus, kehidupan itu juga media untuk kita senantiasa belajar akan segala hal.

Ayo Sekolah

Memiliki anak yang baru saja masuk sekolah ternyata tak semudah yang kupikirkan. Dalam pikiranku, hanya mengantar jemput anak sekolah, menemaninya belajar/mengulang kembali apa yang telah diajarkan di sekolah sebagai pemantapan, dan satu lagi, berkurang satu orang yang “membantuku” mengacak-acak lemari es dan lemari makan ketika aku memasak di dapur.

Apa yang kulewati ternyata tak sepenuhnya mudah seperti dalam pikiranku.

Sejak awal, Abi dan umi sepakat untuk menyekolahkan Fathan di sekolah Islam Terpadu dengan tujuan membekali Fathan dasar-dasar keIslaman yang kuat, serta memantapkan dan mengembangkan pendidikan yang telah kami ajarkan di rumah. Untuk itu, aku mencoba mengumpulkan informasi beberapa sekolah Islam Terpadu sebelum kami memutuskan ke mana kami harus menitipkan Fathan untuk belajar dan bersosialisasi di sana nantinya. Mulai dengan mengumpulkan informasi masing-masing sekolah yang menjadi , juga menggali pengetahuan dari pengalaman orang-orang dekat dan kenalan yang telah menyekolahkan anak-anak mereka di beberapa sekolah yang menjadi pilihan kami.

Tiap anak itu berbeda, sehingga tidak bisa menganggap semua anak itu sama. Ada anak yang pendiam dan penurut, ada pula anak yang aktif namun penurut, ada anak yang pendiam namun semaunya dan ada pula yang aktif dan semaunya. Perbedaan karakter inilah yang membuat penanganan pada tiap anak menjadi berbeda pula. Fathan termasuk tipe anak yang aktif, namun pada tempat yang baru ia bisa sangat pendiam bahkan pemalu dan tidak pede. Dan kembali menjadi sangat aktif ketika ia sudah merasa nyaman berada di sana. Untuk itulah Fathan butuh sekolah yang tepat sebagai tempat ia belajar segala hal yang baru dan bersosialisasi dengan teman-temannya nanti.

Dari banyak informasi yang diperoleh dan diskusi bertiga, kami sampai pada satu pilihan sekolah. Dan untuk memastikan kesediaan Fathan sekolah di sana, kami mengajaknya untuk melihat sekolah tersebut sebelum akhirnya mendaftar dengan keinginan Fathan sendiri.

Masuk sekolah tiba.
Setelah melalui wawancara dan tes ini itu(kayak masuk kerja aja ya…), juga menyelesaikan segala keperluan administrasi dan menerima seragam. Tibalah saatnya Fathan sekolah.

**Perlu diketahui, tes dan wawancara ini dilakukan untuk melihat kemampuan anak dan bagaimana keinginan orang tua atas anaknya selama ia belajar di sekolah nantinya. Juga untuk memberi rekomendasi kepada orang tua dari pihak sekolah agar orang tua bisa memahami keinginan dan kemampuan anaknya. ** like it^_^

Pekan Pertama Sekolah
Hari yang sangat mendebarkan pun tiba, hari pertama sekolah. Fathan berangkat dengan senang hati ke sekolah dengan diantar abi dan dedek azizah, tanpa umi, karena umi harus kerja(bahasa Fathan kalau uminya mau cari dagangan). Menurut cerita abi. Saat tiba di sekolah, teman-teman Fathan sudah berbaris, dan Fathan hanya menangis karena terkejut, ternyata temannya banyak sekali. Ia tak mau baris dan terus menggandeng abi, bahkan saat di kelas, ia tak mau lepas dari sandaran abi, masih dengan menangis. Dan Fathan satu-satunya anak yang ditungguin di dalam kelas, spesial banget kan?

Hari pertama sekolah, masuk jam 8 dan pulang jam 10. Bersyukur pihak sekolah mengijinkan orangtua menunggu anaknya meskipun hanya di hari pertama sekolah bagi anak yang baru masuk. Jadi selama dua jam berada di sekolah, Fathan tak berhenti menangis dan tak lepas dari pelukan abi. Sedang Azizah, sudah sibuk sendiri mengikuti pelajaran menyanyi di kelas mas-nya. ***salutttt buat abi, atas kesabarannya*** hihi, meskipun selama dua jam hp ku terus saja di telepon abi yang bingung akan tangisan Fathan dan bagaimana cara mendiamkannya. Tapi, asli salut banget buat abi.

Karena khawatir, umi tidak jadi kerja, dan pulang untuk menenangkan Fathan. Fathan tidak mau sekolah lagi.

Hari kedua sekolah, bangun pagi dan sholat subuh ia langsung duduk di depan tv menonton film kartun, tak mau mandi dan pakai seragam sekolah. Aku rayu dengan sarapan dulu sambil bercerita betapa enaknya sekolah itu. Usai makan ia setuju mandi tapi tidak mau sekolah. Aku terus saja merayunya sampai benar-benar setuju mandi dan pakai seragam sekolah dengan catatan berangkatnya setelah film anak selesai. Waaa… Bisa telat, sekolah masuk jam 8, perjalanan 15 menit, sedang film kartun  selesai jam 8.30. Aku tidak mengiyakan, aku sibuk mencari cara untuk sedikit memaksa Fathan agar tidak terus menonton, sambil kukatakan bahwa berangkatnya saat ganti iklan dan ia setuju. Tapi sampai kartun dan iklan ganti 2 kali, ia masih tak mau beranjak dari depan televisi. Akhirnya, aku memutuskan aliran listrik dari saklar meteran listrik agar ia tidak tahu kalau televisinya mati karena aku(hihi jahatnya). Dan iapun beranjak dari depan televisi untuk berangkat ke sekolah.

Aku mengantarnya ke sekolah dengan motor. Sampai di gerbang, ia hanya menangis, ia bilang kalau tidak mau sekolah dengan alasan, takut tidak kebagian mainan, takut pintunya dikunci, takut ditinggal umi, dsb. Yang pada dasarnya ia takut dan belum pede. Sambil menunggunya, aku terus meyakinkan bahwa ia bisa melewati semuanya dan tidak perlu menangis. Perlahan-lahan ia berhenti menangis dan mulai sedikit-sedikit ikut menyanyi masih sambil terus bersandaran hingga waktu pulang. Hari ke tiga, aku dipersilahkan menunggu di luar pagar yang dikunci. Esoknya, Fathan tak bersedia sekolah, kebetulan libur awal puasa ramadhan. Jadi, lumayan lega. Tapi harus mencari cara supaya, senin nanti Fathan tetap mau berangkat sekolah.

Karena puasa, waktu sekolah Fathan masih sampai jam 10. Fathan tetap tak mau berangkat sekolah, jadi dirayulah oleh umi. Dia selalu meminta syarat ketika ia setuju berangkat sekolah, entah membeli mainan, kue atau juga meminta umi menunggu di dalam kelas. Agar mau berangkat dulu umi mengiyakan untuk membeli satu macam mainan saja sepulang sekolah, dengan mengingatkan padanya bahwa umi tidak bisa selalu membelikannya mainan setiap pulang sekolah. Esoknya ia meminta mainan lagi, lalu aku bilang yang seribuan di abang-abang lewat boleh dan ia mau. Bukan harga yang jadi pertimbanganku, tapi jika ia sering meminta mainan agar mau sekolah maka akan jadi kebiasaan.

Esoknya lagi, ia kembali melakukan hal yang sama, minta mainan. Lalu kukatakan padanya, daripada untuk membeli mainan lebih baik membeli makanan, karena mainan yang kemaren dia beli di abang-abang fundogh, terbengkalai karena dia gak bisa memainkannya. Xixi jadi punya alasan gak beli mainan lagi…. Jadi, beli lah kue sepulang sekolah.

Meskipun Fathan mau sekolah, ia tetap saja menangis ketika diminta melakukan sesuatu tapi ia merasa tidak bisa. Hal inilah yang kupakai alasan untuk menghentikan kebiasaanya membeli sesuatu sebagai syarat ia mau sekolah. Ia bisa membeli kue jika ia sudah tak menangis lagi di sekolah. Karena sampai dua pekan ia masih saja  menangis, sampai kebiasaan meminta sesuatu itu hilang dan ia tetap mau sekolah hingga hampir tiga bulan ini.

Satu hal lagi yang jadi kekhawatiran Fathan adalah, ia takut ditinggal umi karena pintu sekolah dikunci. Pihak sekolah memang punya aturan bahwa tidak ada orang tua yang menunggu di dalam lingkungan sekolah selama waktu belajar, untuk melatih kemandirian anak. Jadi, selama waktu belajar semua menjadi tanggung jawab guru. Tentu ini adalah kemudahan buat orangtua terutama ibu-ibu yang ingin menyelesaikan pekerjaan rumah selama anak-anak sekolah. Namun bukan hal yang mudah membujuk Fathan agar mau ditinggal selama ia berada di sekolah. Di hari ke empat Fathan masih tetap dipaksa agar mau masuk tanpa umi dengan catatan umi tunggu di warung sebelah sekolah. Begitu seterusnya hingga beberapa hari sampai akhirnya ia masuk ke sekolahan tanpa dipaksa dengan mengatakan umi di warung ya. Perlahan-lahan memberi pengertian padanya, bahwa umi harus pulang setelah mengantarnya ke sekolah, untuk masak dan beresin rumah. Tidak langsung mau, tapi lama kelamaan iapun mengerti. Syukur Alhamdulillah.

Menjadi seorang ibu atau guru harus pandai-pandai mencari cara mengarahkan anak/anak didik tanpa harus berbohong dan bersikap keras.

Dan kini, Fathan sudah dengan senang hati melewati jadual paginya sebelum berangkat sekolah. Bangun pagi, sholat subuh, mandi, pakai seragam dan sarapan. Setelah diantar ke sekolah, umi pun bisa langsung pulang untuk membereskan pekerjaan rumah dan kembali lagi nanti untuk menjemputnya pulang pada jam 11.30 siang.

Saat perjalanan pulang, ia sudah bercerita banyak hal yang terjadi selama di sekolah. Mengajari umi menyanyi dan banyak hal…. Xixi…giliran dia yang ngajarin umi, nyanyi, ngasi bintang di gambaran umi(ini mah kebalik ya…xixi).
Bersambung.
*_+ …. ^_^

Miladku

Assalamu’alaikum, temans… .

Apa kabar kalian hari ini? Semoga senantiasa diberikan keberkahan dalam hidup, sehingga hari-hari yang telah, sedang dan akan kita lalui menjadi waktu yang penuh manfaat. Amiin.

Seperti saat ini, ketika kesempatan ngeblog datang, langsung buka wp for android dan mulai mengetikkan kata per kata hingga terangkai menjadi kalimat-kalimat dalam paragraf tulisanku ini.

Milad yang ke sekian kalinya, masih seperti hari-hari biasanya, nothing special. Kecuali, kebanjiran ucapan selamat ulang tahun atau milad dari keluarga maupun teman semua baik melalui sms, pesan dinding fb, whatsapp ataupun secara langsung. Atas doa yang temans pintakan untukku dan keluargaku, aku ucapkan terima kasih, semoga doa itu juga berlaku dan kembali bagi yang telah mendoakan. Amiin. Juga yang telah meluangkan waktunya menulis pesan singkatnya untukku di hari ini, terima kasih banyak yaaa…

Sungguh doa yang diberikan untukku dan keluarga adalah kado terindah di hari ini. Terima kasih.

Tak hanya sekedar usia yang bertambah, tapi jatah usiaku juga berkurang. jadi, bertambah lebih baik, itu harus. Seperti doa teman-teman, akupun punya pengharapan di ke sekian kalinya aku menjumpai miladku hari ini. Sekalipun tak ada kue tart dihias lilin, maupun kejutan dan setumpuk kado, tapi hari ini sangat istimewa dengan hadirnya berbagai doa dari semua teman dan keluarga yang semoga diaminkan oleh para Malaikat, amiin. Sehingga doa dari keluarga dan teman semua menjadi kenyataan. Amiin.

Doa dan harapanku di tahun ini:
1. Menjadi pribadi yang semakin bermanfaat untuk agama dan lingkungan. Dan dapat mendidik anak-anak sehingga menjadi pribadi yang menakjubkan karena kesalihannya,
2. Bertambah sholihah, baik sebagai anak buat orang tuaku dan orang tua suamiku, sebagai istri untuk suamiku juga ibu untuk anak-anakku,
3. Bertambah sakinah, mawaddah dan rahmah dalam rumah tangga kecilku, juga keluarga besar kami,
4. Bisa berangkat haji bersama keluarga kurang dari 10 tahun ini.
5. Bisa berangkat umrah kurang dari 5 tahun ini,
6. Diberkahi Alloh selalu dalam seluruh hari-hariku dan keluarga,
7. Diberkahi dalam setiap hal baik yang kami usahakan,
8. Dimudahkan dan diringankan dalam setiap urusan yang kami lalui,
Dan banyak lagi doa yang kupanjatkan pada Alloh yang tak bisa kusebutkan satu persatu di sini, (hanya Alloh dan aku yang tahu) karena butuh berhari-hari untuk menuliskan semua doadan pengharapanku pada Alloh. Hihi, saking banyaknya… .

Tanpa mengurangi rasa syukur kepada Alloh atas segala rizki yang sudah diberikan, doa ini kupanjatkan hanya kepada Alloh sebagai satu-satunya tempatku bergantung dan menyandarkan segala pengharapanku.

Boyongan

Boyongan adalah aktivitas mengangkut atau memboyong apa saja yang ingin dibawa dari satu tempat ke tempat yang lain. Baik pelajar, pengantin baru, maupun keluarga pada saat tertentu bisa saja mengalami yang namanya boyongan ini.

Bagi kebanyakan orang, kegiatan boyongan ini bukanlah aktivitas yang menyenangkan dan lebih banyak dihindari. Apalagi jika sudah merasa nyaman dan cocok dengan tempat lama, akan semakin berat meninggalkan
rumah lama. Belum lagi, ketakutan tak nyaman, tak cocok dan tak betah di rumah baru nantinya.

Selain dikarenakan faktor hati, membayangkan repotnya boyongan itu sudah cukup menguras energi untuk berpikir. Mengemas barang, merapikannya, dan menyiapkan semuanya yang akan dibawa dan diboyong ke rumah baru, mulai dari peralatan yang besar-besar, peralatan elektronik, perkakas, hingga semua pernak-pernik yang kecil-kecil yang dibuang sayang tapi jika dikumpulkan bisa berkardus-kardus jumlahnya.

Belum beres menyiapkan barang yang akan dibawa serta, anda masih harus membereskan rumah dan menjalani pekerjaan sehari-hari sampai tiba waktunya hari H kepindahan. Repot sangat, tentu. Lelahnya mengangkut barang atau paling tidak mengatur barang-barang mana saja yang akan diangkut dan mana yang bisa dibawa sendiri, atau juga ditinggalkan, dimaksudkan untuk mengurangi jumlah barang yang mungkin tidak dilerlukan ataupun mengurangi biaya angkut. Jauh ataupun dekat sama repotnya. Tetap harus menyewa jasa angkut, terlebih jika lingkungan masyarakat sekitar tidak bisa membantu mengangkut barang-barang.

Belum hilang rasa lelah, setelah boyongan dan mengangkut barang. Ketika menempati rumah baru, masih akan menata ulang semua barang yang kemungkinan besar hanya sekedar diletakkan begitu saja oleh tukang angkutnya. Mengatur dan menata semua peralatan juga perkakas rumah tangga bukan perkara yang mudah, memerlukan tenaga dan pikiran juga untuk melakukannya.

Boyongan memang sangat merepotkan dan melelahkan. Menguras banyak energi dan biaya yang bisa jadi tak sedikit. Jadi, sebaiknya rencanakan kegiatan boyongan anda agar bisa optimal dengan biaya yang tepat. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan saat kita harus boyongan. Simak tips berikut:
1. Lakukan persiapan jauh-jauh hari untuk mengemasi seluruh barang-barang.
2. Sisihkan beberapa keperluan harian termasuk baju dan perlengkapan sehari-hari secukupnya yang masih akan dipakai sampai waktu pindahan dengan barang-barang yang bisa dikemas lebih dahulu.
3. Pilih barang yang masih bagus dan bisa dipakai dengan baik, daripada harus membeli baru. Sedang biaya untuk membeli lebih mahal dari pada biaya angkut.
4. Kumpulkan barang sesuai jenisnya dalam satu kardus
5. Jangan lupa memberi tanda sebagai keterangan isi kardus tersebut, memudahkan jika sewaktu-waktu dibutuhkan tidak membongkar semua kardusnya.
6. Cari jasa angkut yang jelas dan aman, usahakan yang bisa sekalian menyediakan tenaga angkat-angkat.
7. Untuk yang pindahnya antar provinsi, harus benar-benar memilih barang yang diboyong adalah barang yg benar-benar dibutuhkan dan jika membeli lagi biayanya jauh lebih mahal dari biaya angkutnya. Terutama seperti tempat tidur, alat elektronik dan perabot lainnya.
7. Jika barang dipaketkan, cari jasa kiriman barang yang terpercaya, yang dengan menitipkannya kita merasa aman. Jangan lupa menanyakan untuk keamanan barang-barang yang mudah rusak ketika terguncang, sebaiknya anda minta packing ulang dengan kayu, supaya tidak dilempar-lempar oleh petugas paketan. Memang biayanya lebih mahal, tapi lebih baik kan daripada barang yang dijual sayang, ketika dipaketkan, diterima dalam kondisi rusak atau bahkan hancur?!

Itu sedikit tips sebelum boyongan, semoga bermanfaat.

##########################

Seperti beberapa bulan lalu, saya sempat sangat sangat malas melakukan aktivitas di dunia maya, apapun bentuknya, termasuk menulis. Rasa malas yang sangat itu disebabkan oleh akutnya rasa capek dan lelah tubuh juga pikiran saya karena urusan boyongan kami, sekalipun hanya pindah ke seberang jalan. Bukan hal yang mudah buat para kontraktor (pengontrak^_^) seperti saya ini, yang harus siap diusir ketika kontrak habis dan tak bisa diperpanjang karena akan dipakai sendiri oleh pemiliknya. Tapi kami tetap menikmatinya, memanfaatkan dan mensyukuri apa yang diterima, karena Alloh sudah membaginya sesuai dengan rahmatNya dari apa yang kita usahakan. saya yakin, jika masanya saya mempunyai rumah sendiri, maka rezeki tak akan ke mana.

Sibuk ke sana ke mari di akhir pekan untuk survey kontrakan yang pas buat kami, dan persiapan berkemas setiap hari. Menghubungi sana sini, tak juga mendapat yang sesuai antara lokasi dan harga yang bisa pas untuk kantong kami. Jelang waktu kontrak habis, masih juga belum punya kepastian tempat. Disaat harap-harap cemas, ada yang berbaik hati memberi info over kontrak yang lumayan cocok. Alhamdulillah, meski hanya 7 bulan, semoga bisa berlanjut, sehingga tidak buru-buru pindah. Capeknya itu loh…